Puisi-puisi tentang Sang Pencipta sebagiannya selalu menonjolkan tiga hal: keagungan Tuhan, kelemahan seorang makhluk, dan rasa "tak berdaya" di hadapan-Nya bagi mereka yang beriman. Seperti halnya puisi ini, menunjukkan ketidakberdayaan seorang makhluk yang merasa kecil. Namun, rasa tidak berdaya ini tak menimbulkan ketakutan, justru tumbuh kesadaran diri untuk lebih mendekat pada-Nya. Ada beberapa koreksi dalam penulisan/EYD, di antaranya kata "nafas", "takkan", "ridho", "tuhanpun", "dewapun", dan "mengkonvensionalkan", yang seharusnya ditulis "napas", "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof ( ' )), "ridha", "tuhan pun" (terpisah), "dewa pun" (terpisah), dan "mengonvensionalkan" (huruf 'k' lebur). Sedikit catatan. Penulisan partikel "pun" di belakang setiap kata wajib terpisah, seperti pada penulisan kata "tuhan pun"...
Komunitas Penulis, dari Pare untuk Dunia