Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2014

Kepengurusan FAM Medan Segera Terbentuk

MEDAN – Kepengurusan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Cabang Medan, Sumatera Utara, segera terbentuk. Pembentukannya digagas Surya Hardi (Murdoks) yang saat ini diamanahkan sebagai penerima mandat pembentukan kepengurusan FAM Riau dan FAM Sumatera Utara. “Kami sudah mengadakan pertemuan, kopi darat (kopdar) perdana, Kamis (27/3) lalu di gedung Teater Taman Budaya Sumatera Utara, Medan dan dihadiri beberapa anggota FAM Medan,” kata Surya Hardi, Sabtu (29/3). Sementara itu, menurut Rahimah Ib, anggota FAM Medan, selain dihadiri Surya Hardi, pertemuan tersebut juga diikuti anggota FAM Medan lainnya, di antaranya Arif Hifzul, Azizah Nur Fitriana, Sindi Violinda, Chaliza Nazra Nst, Audi Hariaji Hrp dan Endri Cahyadi Hrp. “Intinya kami membicarakan agenda yang harus segera dilaksanakan FAM Medan dalam waktu dekat, terutama pembentukan pengurus,” ujar Rahimah Ib, yang juga seorang guru di salah satu sekolah di Medan. Dikatakan, pada kesempatan tersebut dibahas rencana pengembangan sayap...

Ulasan Puisi "Tenggelamnya Kapal Kita" Karya Maulidan (FAMili Padang)

Puisi ini tersusun dari kata-kata sederhana, namun makna yang tersirat di dalamnya begitu besar. Di sinilah letak keunggulannya. Tim FAM menilai penulis punya ciri khas dan tidak sekadar berpuisi. Penulis dengan cerdas menyisipkan kisah keseharian seorang yang tengah jatuh cinta pada gadisnya, untuk kemudian "menampar" kita tentang betapa pentingnya iman seseorang dibanding segalanya di muka bumi. Perhatikan bait pertama. Ada pengakuan di sana, tentang sosok "aku" yang bukan agamis, tidak hafal 30 juz, pun tidak dekat dengan tuhannya. Perhatikan bagaimana dia memandang dirinya sendiri, lalu menyadari bahwa nyatanya ia terlalu sibuk mengejar dunia. Pada bagian berikutnya, semakin jelaslah pengakuannya, bahwa ia tak lebih dari sosok yang lupa; lupa pada ketentuan untuk apa dan untuk siapa dia diciptakan di dunia ini. Kekasih yang didambanya itu, yang bersifat keduniawian itu, adalah seorang yang berada beberapa tahun di bawahnya. Namun, tidak sesederhana nampaknya. ...

Ulasan Puisi "Kidung Welingan Penailusi" Karya Pena Ilusi (FAMili Bengkulu)

Puisi ini berisi pesan sederhana: jangan menyerah. Begitulah kira-kira maknanya. Bisa kita raba dari mulai bait pertama. Bukankah pelangi simbol keindahan dan kebebasan? Lalu, kenapa malah "aku" merasa terpenjara dan tak bisa berdiri? Sebab ketidakberdayaan ini pasti kuat, hingga bahkan di depan keindahan pun diri seakan mati. Kemudian pada bait berikutnya terlihat sebuah "penokohan", yakni bahwa sosok yang tak berdaya itu adalah seorang penulis, penyair, atau "pengumpul diksi". Ya, bukankah menulis itu nikmat? Lalu, adakah kebuntuan membuat "aku" harus membiarkan semuanya tetap mati, tanpa mau bangkit dan segera menatap hari? Kebangkitan itu ditandai dengan kesadaran, bahwa tak ada cara lain selain menulis yang seolah abadi untuk dikenang, membuat kita selalu "hidup", berbicara pada semua orang, pada dunia, tentang seribu makna yang kita jumpa, lalu dibagi untuk direguk bersama manfaatnya. Menariknya, di bagian akhir puisi terselip s...

Penerbitan Antologi Kisah Inspiratif: “Sepenggal Kisah di Balik Sakit”

FAMili, dalam hidup Anda pasti pernah mengalami sakit, baik parah maupun ringan. Banyak orang memulai titik balik dalam hidupnya setelah sembuh dari sakit yang menimpa. Sakit menjadikan mereka mendulang syukur dan hikmah. Sakit menjadikan mereka lebih semangat menjalani hidup setelah menemui kesembuhan. Melalui sakit pula, mereka menemukan jalan untuk berkarya lebih baik dari sebelumnya. Anda mempunyai kisah inspiratif tentang sakit yang pernah Anda derita? Tuliskan kisah nyata Anda, dan bergabunglah bersama sejumlah penulis lainnya yang berbagi pengalaman tentang sakit yang mereka derita. Siapa tahu, kisah yang Anda tulis itu bermanfaat bagi orang lain, termasuk menjadi motivasi bagi orang-orang yang sedang terbaring sakit setelah membaca kisah Anda.  FAM Publishing (Divisi Penerbitan FAM Indonesia) akan membukukan kisah-kisah inspiratif tersebut. Tim redaksi FAM Publishing akan memilih 30 naskah terbaik. Ke-30 naskah kisah inspiratif terpilih akan dibukukan secara gratis oleh F...

Proses Kreatif Buku Kumpulan Cerpen Anomali

Oleh Yudha Prima Penyusunan buku kumpulan cerpen “Anomali” memakan waktu bertahun-tahun. Berawal dari ketertarikan saya dengan cerpen-cerpen yang menyoroti realita kehidupan, saya kemudian melakukan kontemplasi. Menurut ingatan saya yang belakangan mulai mengalami penurunan sebagai tanda masih muda ini, saya mulai menulis cerpen sekitar tahun 2007 Sesudah Masehi. Saat itu Indonesia masih diwarnai dengan berbagai bencana alam. Bagi sebagian orang yang malas berpikir pasti akan menganggap ini fenomena alam belaka. Namun saya mencoba merenung dan membandingkannya dengan kaum nabi Nuh Alaihissalam dan juga kaum Ad dan Tsamud yang dimusnahkan karena pembangkangannya. Saya berpikir, bukan tidak mungkin berbagai bencana ini merupakan jawaban Allah atas suara hati kaum tertindas. Akhirnya, saya tuangkan bayangan-bayangan saya itu menjadi sebuah cerita berjudul Setengah Tiang. Inilah cerpen pertama saya. Sempat saya kirimkan ke media cetak dan alhamdulillah tidak dimuat. Tahun 2009 adalah tah...

Proses Kreatif Buku Kumpulan Cerpen "Minus Menangis"

Oleh: Ken Hanggara Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan bagi saya. Meski begitu, tak dipungkiri, seringkali beberapa kendala datang menghambat. Salah satu kendala yang paling sering terjadi adalah kebuntuan saat mengembangkan ide. Coba bayangkan, saat tengah asyik melamun, tiba-tiba ada ide berkelebat dalam kepala. Tak ayal, kita pun segera bangkit, mengambil pena, lalu mulai menulis. Akan sangat nikmat bila ide tadi berkembang seiring dengan bekerjanya jemari mengolah kata. Namun, apa jadinya bila berhenti di tengah jalan? Saya punya dua analogi dalam menulis. Bagi saya ide itu bagaikan sebongkah batu. Sedangkan sebuah karya, ibarat rumah yang siap ditempati. Batu tidak akan pernah mempunyai arti apabila ia tetap diam dalam keberadaannya. Sedangkan tanpa batu, rumah tidak akan pernah berdiri. Maka, "sebongkah batu" akan memberi arti bila kita menjadikannya bagian dari pondasi "rumah" yang akan dibangun. Lalu, bagaimana caranya agar "rumah" itu sel...

Geliat Karya Penulis Cilik

Oleh Aliya Nurlela Akhir-akhir ini banyak kita temukan karya para penulis cilik, bukan hanya di media tapi termasuk yang sudah dibukukan. Buku-buku tersebut kuantitasnya hampir sama dengan buku-buku yang dihasilkan orang dewasa. Sama-sama produktif dan terpajang di toko-toko buku terkenal. Sudah seharusnya kita merasa bangga dengan kemunculan para penulis cilik ini. Sebab hal itu menunjukkan minat anak terhadap aktivitas membaca dan menulis semakin meningkat. Berkat kebiasaan anak dalam membaca, sebagian dari mereka mencoba menuangkan imajinasinya dalam bentuk tulisan dan imajinasi pun berkembang. Sebut saja Qurrota Aini, Arifia Sekar Seroja, dan Abdurrahman Faiz, mereka sudah menulis sejak anak-anak dan mempublikasikan karyanya di media maupun dalam bentuk buku. Awalnya sederhana saja, seperti Qurrota Aini sejak kecil sering dimasukkan boks bermain sambil ditemani buku-buku dan majalah anak. Sejak itu ia senang pegang buku dan coret-coret. Berlanjut mengungkapkan perasaan lewat buku...

Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema Bencana

DEADLINE: 31 MARET 2014, PENGUMUMAN PEMENANG: 8 APRIL 2014 Assalamualaikum Wr. Wb. Dear penulis muda Indonesia. Apa kabar Anda? Harapan dan doa kami, semoga Anda tetap sehat dan terus aktif berkarya. Tahun 2014 bisa disebut tahun bencana. Di mana-mana terjadi bencana alam, mulai dari gunung meletus, gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, kabut asap, serta banyak bencana lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya bencana itu, salah satunya sebab ulah tangan manusia. Berangkat dari fenomena yang terjadi secara global itu, FAM Indonesia kembali membuka Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang kali ini bertajuk “Bencana Alam, Cara Tuhan Menegur Kita”. Apa syarat dan ketentuannya? Simak sbb: 1. Lomba terbuka untuk semua kalangan, baik berstatus anggota maupun non-anggota FAM Indonesia, baik muslim maupun non-muslim. 2. Lomba ini tanpa pungutan biaya apa pun dari peserta alias GRATIS. 3. Puisi hanya bertema bencana alam dengan menulis sisi-sisi human interest (kemanusiaan) sehi...

Dua Tahun FAM, Aktif Bumikan Literasi, Bertekad Buka Cabang di Mancanegara

KEDIRI – Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Ahad (2/3), merayakan ulang tahun ke-2 (2 Maret 2012 - 2 Maret 2014). Meski lokasi kantor pusat FAM di Pare, Kediri, Jawa Timur belum sepenuhnya normal pasca meletusnya Gunung Kelud, namun geliat kota yang terkenal dengan ‘Kampung Inggris’nya itu semakin membaik. Lewat call centre FAM di nomor 0812 5982 1511 dan email forumaktifmenulis@yahoo.com, FAM Indonesia menerima kiriman doa, kesan dan harapan terhadap kiprah FAM Indonesia selama dua tahun belakangan. Kehadiran FAM sebagai salah satu komunitas penulis di Tanah Air disambut hangat berbagai kalangan, terutama pelajar dan mahasiswa, khususnya pengurus dan anggota FAM Indonesia. Seperti dikatakan Yudha Prima, Koordinator FAM Cabang Surabaya, ‘gara-gara’ FAM dia mengaku telah mengakhiri masa nonaktif sebagai penulis. “Gara-gara FAM Indonesia, saya mulai menulis lagi,” kata penulis buku cerpen “Anomali” ini. Anggota FAM Padangpariaman, Nuh Rafi, menyampaikan rasa syukurnya telah dipertem...

Ulasan Cerpen "Goresan Mimpi di Atas Kertas" Karya Elis (FAMili Lubuk Linggau)

Cerpen ini berisi tentang impian yang tertunda. Begitu besar keinginan seorang anak untuk dapat memberi kebaikan pada orang-orang terdekat dan kampung halamannya. Ia ingin membangun perubahan dengan bersekolah setinggi-tingginya. Namun restu dari orangtua membuat semua itu mesti tertunda. Biarpun demikian, menyerah bukanlah pilihan. Sebab masih ada jalan lain yang terbuka lebar untuk kita, bila satu jalan sebelumnya gagal untuk dilalui. Ada banyak koreksi mengenai penulisan (EYD). Di antaranya: "membuat ku", "ku lihat", "gumam ku", "kelas ku", "cerpen ku", "desa ku", "ku merangkak", "mimpi ku", "orang tua ku", "impian mu", "didaerah ku", dan masih banyak lagi. Yang benar ditulis: "membuatku", "kulihat", "gumamku", "kelasku", "cerpenku", "desaku", "kumerangkak", "mimpiku", "orangtuaku", ...

Ulasan Artikel "Mengenal Apa Itu Sharism" Karya Suandri Ansah (FAMili Jakarta)

Dalam artikel ini penulis mengupas salah satu hal menarik yang tumbuh dari kemajuan teknologi komunikasi. Internet--begitulah kita mengenalnya--telah menjadi media atau sarana berbagi informasi yang menyenangkan. Begitu banyak di antara kita yang memanfaatkan internet dengan "media sosial"-nya sebagai tempat menuangkan isi hati, ide-ide brilian, ataupun sekadar aktivitas sehari-hari. Yang menjadi subyek utama dalam artikel ini adalah internet sebagai sarana menulis sekaligus "sharism"--yang disebut-sebut oleh Isaac Moc dalam salah satu esainya. Istilah "sharism" lahir dari kata "share" dalam bahasa Inggris yang berarti berbagi. Tentu akan sangat mudah kita pahami ketika sesuatu hal menarik di mata kita, sementara tak ada hal lain yang lebih "menyenangkan" selain menginformasikan hal tersebut ke siapa saja. Maka timbullah hasrat untuk "membagi" sesuatu tadi lewat media sosial. Penting atau tidak penting, tak jadi soal. Menari...

Dua Tahun FAM Indonesia, Semakin Dekat di Hati

TAK terasa sudah dua tahun FAM Indonesia berdiri. Rasanya baru kemarin saja wadah kepenulisan nasional ini berdiri. Bermula dari facebook. Kedua pendirinya, Muhammad Subhan (Padangpanjang) dan Aliya Nurlela (Malang) saling bertukar karya, membuat kolaborasi buku cerpen dan akhirnya muncul gagasan yang sama untuk membangun wadah bagi para penulis. Baik yang sudah menghasilkan karya ataupun belum, yang penting memiliki minat menulis. Banyak sekali orang yang minat menulis. Sepanjang perjalanannya, pengamatan FAM Indonesia, banyak di antara para peminat tulisan itu kesulitan dalam mewujudkan impiannya. Alasannya bermacam-macam. Ada yang tidak percaya diri alias minder, tidak tahu caranya, tidak tahu prospeknya, takut tidak konsisten dan masih banyak lagi. Akhirnya minat itu tidak pernah terasah, dan hanya terpendam saja. Sayang sekali kalau minat itu tidak dirawat. Melihat fenomena itulah, penggagas FAM Indonesia teringat di awal-awal mereka menekuni dunia tulis-menulis, hingga akhirnya...

FAM Surabaya Adakan Kopdar ke-17 Spesial Milad

Kopdar ke-17 FAM Cabang Surabaya SURABAYA – Survive. Itulah satu kata yang digelorakan oleh Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Cabang Surabaya dan Sekitarnya pada kopdar ke-17 spesial milad ke-2 FAM Indonesia, Ahad 2 Maret 2014 di Taman Bacaan Wisma Kedung Asem Indah Surabaya. Diselingi penampilan duet Anggi Reynaldi dan Putri Ageng yang menyampaikan pesan anti korupsi lewat puisi mereka, 20 pecinta menulis yang hadir duduk lesehan bersama Ibu Evie Suryani dari Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, saling berbagi cerita dan motivasi untuk terus menulis. Ada yang berbagi pengalaman karyanya yang telah dibukukan ataupun dimuat di media cetak, hingga berbagi pengalaman saat menulis skripsi sebagai tugas akhir kuliah program S1. Tidak bisa diingkari bahwa banyak orang yang suka dan semangat di masa-masa perdana, mulai dari pulsa perdana, 10 hari perdana bulan Ramadhan, termasuk urusan menulis. Banyak yang senang dan bangga saat karyanya dibukukan, namun setelahnya kehilangan gh...

Buku ‘Sepenggal Kisah di Bulan Suci’ FAM Wilayah Jabar

Judul: Sepenggal Kisah di Bulan Suci Penulis: FAM Wilayah Jawa Barat Kategori: FTS dan Prosa Liris. Terbit: 2014 Tebal: 150 hlm, 13x20 cm ISBN: 978-602-7956-47-6 Harga: Rp40.000 (Harga belum termasuk Ongkir) Judul Karya dan Para Kontributor: Rajin Salat Qiyamul Lail Berbuah Haji Gratis (Udik Lasmono), Ramadhan Bersama Bapak dan Ibu di Kampung (Suharto), Di Atas Bus (Osella), Vitamin Ikhlas (DDedi Saeful Anwar), Tamu di Penghujung Usia (Santi Sumiati), Doa Orang yang Teraniaya (Yusrina Sri Oktaviani), Kenangan di Bulan Ramadhan (Ade Ubaidil), Kemudahan di Balik Kepasrahan (Nuryaman Emil Hamzah), Ayah Maafkan Aku! (Ratih Febrian Kamiswara), Hidayah Itu Mahal (Diena Rindu), Muhasabah di Bulan Ramadhan? Wow, Dahsyat (Wildan Fuady), Peretmuan (Siti M), Kesedihan di Saat Ramadhan Pergi (Sitti Nuurjanna/Anna Ratunikma), Musibah di Bulan Berkah (Azka Alfaz Janursyah), Lampu Merah (Wahyu Prihartini), Hijab is My Style (Ade Herti), Maafkan Aku, Bunda (Ocha Thalib), Satu Kunci Untuk Setiap Masa...

Pengumuman Milad ke-2 FAM Indonesia

Assalamualaikum Wr. Wb. FAMili, apa kabar Anda hari ini? Semoga tetap sehat dan semangat berkarya. Tidak terasa, usia FAM Indonesia pada Ahad, 2 Maret 2014, memasuki usia 2 tahun (2 Maret 2012 - 2 Maret 2014). Waktu terasa singkat. Dalam usia yang masih sangat belia itu, FAM Indonesia telah hadir di tengah masyarakat Indonesia dengan berbagai aktivitasnya. Sebagaimana telah diumumkan sebelumnya, bahwa syukuran Milad akan diadakan di kantor FAM, Jl. Mayor Bismo No. 28 Pare, Kediri, Jawa Timur dengan mengundang sejumlah pengurus dan anggota FAM di luar Jawa Timur, namun terpaksa dibatalkan pascaerupsi Gunung Kelud, dan saat ini kantor FAM masih dalam pembenahan karena terdapat sejumlah kerusakan layaknya kondisi rumah warga lainnya. Namun demikian, syukuran FAM Indonesia akan tetap dilaksanakan di kantor FAM dengan mengundang warga sekitar. Sementara itu, kepada pengurus dan anggota FAM, sangat dianjurkan untuk mengadakan syukuran di daerah masing-masing dan dapat mengirimkan ekspose a...