Puisi ini berisi pesan sederhana: jangan menyerah. Begitulah kira-kira maknanya. Bisa kita raba dari mulai bait pertama. Bukankah pelangi simbol keindahan dan kebebasan? Lalu, kenapa malah "aku" merasa terpenjara dan tak bisa berdiri? Sebab ketidakberdayaan ini pasti kuat, hingga bahkan di depan keindahan pun diri seakan mati.
Kemudian pada bait berikutnya terlihat sebuah "penokohan", yakni bahwa sosok yang tak berdaya itu adalah seorang penulis, penyair, atau "pengumpul diksi". Ya, bukankah menulis itu nikmat? Lalu, adakah kebuntuan membuat "aku" harus membiarkan semuanya tetap mati, tanpa mau bangkit dan segera menatap hari?
Kebangkitan itu ditandai dengan kesadaran, bahwa tak ada cara lain selain menulis yang seolah abadi untuk dikenang, membuat kita selalu "hidup", berbicara pada semua orang, pada dunia, tentang seribu makna yang kita jumpa, lalu dibagi untuk direguk bersama manfaatnya.
Menariknya, di bagian akhir puisi terselip satu baris berbunyi, "Demikianlah, wahai pecinta puisi", seolah-olah segala perjalanan dari awal tadi menjelma menjadi ajakan untuk tidak berhenti menulis, untuk tidak menyerah dalam keadaan sesulit apa pun. Maka, amatlah pas pemilihan judulnya. "Kidung" mengisyaratkan nyanyian, yang bisa pula kita artikan bahwa segala bentuk nyanyian bersifat universal, luas, dan mampu dipahami oleh siapa saja. Sedang "Welingan" adalah pesan yang mengingatkan, dan akan selalu bertugas demikian, sebab terkadang manusia suka lupa terhadap hal-hal baik, sehingga perlu untuk diingatkan.
Tim FAM menilai puisi ini baik. Penulisnya mampu menyajikan makna lewat pemilihan diksi yang berwarna. Enak dibaca dan pesan yang disampaikan dapat pula teraba. Hanya ada beberapa koreksi mengenai EYD. Penulisan "disini" dan "dimuka", seharusnya "di sini" dan "di muka". Sedangkan "ku tertunduk" dan "di kebiri", yang benar: "kutertunduk" dan dikebiri". Khusus penulisan "kan" dan "takkan", sebaiknya ditulis "'kan" dan "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof sebelum "kan").
Terus berkarya, pertahankan kekuatan pena, dan tebar manfaat dalam torehan aksaramu.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
“Kidung Welingan #Penailusi”
Pena Ilusi (IDFAM2015M)
disini
saat ini
di hari ini
dimuka pelangi
ku tertunduk mati
terpenjara dan meratapi
dalam asa tak mampu berdiri
dalam hasrat jiwa berasa di kebiri
itulah indahnya pelangi yang tergoresi
tapi
#penailusi,
saluran hati,
pemulung diksi,
pelantun rasa diri,
perangkai indah puisi,
bernyanyi di dunia kreasi,
semua itu kan mudah diakhiri
karena hidup haruslah dinikmati
tanpa menggerutu pada diri tiap hari
berkata padaku #penailusi :
bahwa hidup dijalani dengan happy
teruslah merangkai syair-syair syahdu puisi
karena puisi hingga nanti takkan pernah mati
bilapun puisi kau temukan mati, itu hanya mati suri
bangunlah lagi
pulung beribu diksi
kembali berimajinasi
tulislah bermilyaran puisi
lebih banyak dan banyak lagi
hingga kau benar-benar dipanggil Ilahi
karena dengan puisi kau kan diingati
Duhai #penailusi,
denganmu indah kurasai
sungguh kupuja dan kugilai
kan kurawat tanpa henti berpuisi
Demikianlah wahai pencinta puisi
kidung welingan #penailusi
*
Arti kata :
Kidung : Nyanyian/Lagu/Suara/Tembang/Latunan...dsb
Welingan: Wejangan/Pesan/Wasiat...dsb
Sumber ilustrasi: erwinperkasa.wordpress.com
Kemudian pada bait berikutnya terlihat sebuah "penokohan", yakni bahwa sosok yang tak berdaya itu adalah seorang penulis, penyair, atau "pengumpul diksi". Ya, bukankah menulis itu nikmat? Lalu, adakah kebuntuan membuat "aku" harus membiarkan semuanya tetap mati, tanpa mau bangkit dan segera menatap hari?
Kebangkitan itu ditandai dengan kesadaran, bahwa tak ada cara lain selain menulis yang seolah abadi untuk dikenang, membuat kita selalu "hidup", berbicara pada semua orang, pada dunia, tentang seribu makna yang kita jumpa, lalu dibagi untuk direguk bersama manfaatnya.
Menariknya, di bagian akhir puisi terselip satu baris berbunyi, "Demikianlah, wahai pecinta puisi", seolah-olah segala perjalanan dari awal tadi menjelma menjadi ajakan untuk tidak berhenti menulis, untuk tidak menyerah dalam keadaan sesulit apa pun. Maka, amatlah pas pemilihan judulnya. "Kidung" mengisyaratkan nyanyian, yang bisa pula kita artikan bahwa segala bentuk nyanyian bersifat universal, luas, dan mampu dipahami oleh siapa saja. Sedang "Welingan" adalah pesan yang mengingatkan, dan akan selalu bertugas demikian, sebab terkadang manusia suka lupa terhadap hal-hal baik, sehingga perlu untuk diingatkan.
Tim FAM menilai puisi ini baik. Penulisnya mampu menyajikan makna lewat pemilihan diksi yang berwarna. Enak dibaca dan pesan yang disampaikan dapat pula teraba. Hanya ada beberapa koreksi mengenai EYD. Penulisan "disini" dan "dimuka", seharusnya "di sini" dan "di muka". Sedangkan "ku tertunduk" dan "di kebiri", yang benar: "kutertunduk" dan dikebiri". Khusus penulisan "kan" dan "takkan", sebaiknya ditulis "'kan" dan "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof sebelum "kan").
Terus berkarya, pertahankan kekuatan pena, dan tebar manfaat dalam torehan aksaramu.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
“Kidung Welingan #Penailusi”
Pena Ilusi (IDFAM2015M)
disini
saat ini
di hari ini
dimuka pelangi
ku tertunduk mati
terpenjara dan meratapi
dalam asa tak mampu berdiri
dalam hasrat jiwa berasa di kebiri
itulah indahnya pelangi yang tergoresi
tapi
#penailusi,
saluran hati,
pemulung diksi,
pelantun rasa diri,
perangkai indah puisi,
bernyanyi di dunia kreasi,
semua itu kan mudah diakhiri
karena hidup haruslah dinikmati
tanpa menggerutu pada diri tiap hari
berkata padaku #penailusi :
bahwa hidup dijalani dengan happy
teruslah merangkai syair-syair syahdu puisi
karena puisi hingga nanti takkan pernah mati
bilapun puisi kau temukan mati, itu hanya mati suri
bangunlah lagi
pulung beribu diksi
kembali berimajinasi
tulislah bermilyaran puisi
lebih banyak dan banyak lagi
hingga kau benar-benar dipanggil Ilahi
karena dengan puisi kau kan diingati
Duhai #penailusi,
denganmu indah kurasai
sungguh kupuja dan kugilai
kan kurawat tanpa henti berpuisi
Demikianlah wahai pencinta puisi
kidung welingan #penailusi
*
Arti kata :
Kidung : Nyanyian/Lagu/Suara/Tembang/Latunan...dsb
Welingan: Wejangan/Pesan/Wasiat...dsb
Sumber ilustrasi: erwinperkasa.wordpress.com

Comments
Post a Comment