Skip to main content

Ulasan Puisi "Kidung Welingan Penailusi" Karya Pena Ilusi (FAMili Bengkulu)

Puisi ini berisi pesan sederhana: jangan menyerah. Begitulah kira-kira maknanya. Bisa kita raba dari mulai bait pertama. Bukankah pelangi simbol keindahan dan kebebasan? Lalu, kenapa malah "aku" merasa terpenjara dan tak bisa berdiri? Sebab ketidakberdayaan ini pasti kuat, hingga bahkan di depan keindahan pun diri seakan mati.

Kemudian pada bait berikutnya terlihat sebuah "penokohan", yakni bahwa sosok yang tak berdaya itu adalah seorang penulis, penyair, atau "pengumpul diksi". Ya, bukankah menulis itu nikmat? Lalu, adakah kebuntuan membuat "aku" harus membiarkan semuanya tetap mati, tanpa mau bangkit dan segera menatap hari?

Kebangkitan itu ditandai dengan kesadaran, bahwa tak ada cara lain selain menulis yang seolah abadi untuk dikenang, membuat kita selalu "hidup", berbicara pada semua orang, pada dunia, tentang seribu makna yang kita jumpa, lalu dibagi untuk direguk bersama manfaatnya.

Menariknya, di bagian akhir puisi terselip satu baris berbunyi, "Demikianlah, wahai pecinta puisi", seolah-olah segala perjalanan dari awal tadi menjelma menjadi ajakan untuk tidak berhenti menulis, untuk tidak menyerah dalam keadaan sesulit apa pun. Maka, amatlah pas pemilihan judulnya. "Kidung" mengisyaratkan nyanyian, yang bisa pula kita artikan bahwa segala bentuk nyanyian bersifat universal, luas, dan mampu dipahami oleh siapa saja. Sedang "Welingan" adalah pesan yang mengingatkan, dan akan selalu bertugas demikian, sebab terkadang manusia suka lupa terhadap hal-hal baik, sehingga perlu untuk diingatkan.

Tim FAM menilai puisi ini baik. Penulisnya mampu menyajikan makna lewat pemilihan diksi yang berwarna. Enak dibaca dan pesan yang disampaikan dapat pula teraba. Hanya ada beberapa koreksi mengenai EYD. Penulisan "disini" dan "dimuka", seharusnya "di sini" dan "di muka". Sedangkan "ku tertunduk" dan "di kebiri", yang benar: "kutertunduk" dan dikebiri". Khusus penulisan "kan" dan "takkan", sebaiknya ditulis "'kan" dan "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof sebelum "kan").

Terus berkarya, pertahankan kekuatan pena, dan tebar manfaat dalam torehan aksaramu.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

“Kidung Welingan #Penailusi”

Pena Ilusi (IDFAM2015M)

disini
saat ini
di hari ini
dimuka pelangi
ku tertunduk mati
terpenjara dan meratapi
dalam asa tak mampu berdiri
dalam hasrat jiwa berasa di kebiri
itulah indahnya pelangi yang tergoresi

tapi
#penailusi,
saluran hati,
pemulung diksi,
pelantun rasa diri,
perangkai indah puisi,
bernyanyi di dunia kreasi,
semua itu kan mudah diakhiri
karena hidup haruslah dinikmati
tanpa menggerutu pada diri tiap hari

berkata padaku #penailusi :
bahwa hidup dijalani dengan happy
teruslah merangkai syair-syair syahdu puisi
karena puisi hingga nanti takkan pernah mati
bilapun puisi kau temukan mati, itu hanya mati suri
bangunlah lagi
pulung beribu diksi
kembali berimajinasi
tulislah bermilyaran puisi
lebih banyak dan banyak lagi
hingga kau benar-benar dipanggil Ilahi
karena dengan puisi kau kan diingati

Duhai #penailusi,
denganmu indah kurasai
sungguh kupuja dan kugilai
kan kurawat tanpa henti berpuisi

Demikianlah wahai pencinta puisi
kidung welingan #penailusi
*

Arti kata :
Kidung : Nyanyian/Lagu/Suara/Tembang/Latunan...dsb
Welingan: Wejangan/Pesan/Wasiat...dsb

Sumber ilustrasi: erwinperkasa.wordpress.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...