Puisi ini tersusun dari kata-kata sederhana, namun makna yang tersirat di dalamnya begitu besar. Di sinilah letak keunggulannya. Tim FAM menilai penulis punya ciri khas dan tidak sekadar berpuisi. Penulis dengan cerdas menyisipkan kisah keseharian seorang yang tengah jatuh cinta pada gadisnya, untuk kemudian "menampar" kita tentang betapa pentingnya iman seseorang dibanding segalanya di muka bumi.
Perhatikan bait pertama. Ada pengakuan di sana, tentang sosok "aku" yang bukan agamis, tidak hafal 30 juz, pun tidak dekat dengan tuhannya. Perhatikan bagaimana dia memandang dirinya sendiri, lalu menyadari bahwa nyatanya ia terlalu sibuk mengejar dunia.
Pada bagian berikutnya, semakin jelaslah pengakuannya, bahwa ia tak lebih dari sosok yang lupa; lupa pada ketentuan untuk apa dan untuk siapa dia diciptakan di dunia ini. Kekasih yang didambanya itu, yang bersifat keduniawian itu, adalah seorang yang berada beberapa tahun di bawahnya. Namun, tidak sesederhana nampaknya. Sebab, "wajib berjilbab" itu tidak sekadar peraturan di mata manusia, melainkan juga sinyal yang penulis sisipkan, bahwa nyatanya iman gadis yang tengah dikejar lebih dari yang dia bayangkan. Jelaslah, jelaslah betapa dalam sesal di hati "aku". Dunia yang hendak dikejarnya, malah terasa jauh darinya. Dan bukankah memang selamanya akan seperti itu?
Terakhir, ada "hari yang payah" bagi "aku", yakni hari di mana tanggung jawab besar wajib dipikulnya; menjadi imam dan pemimpin bagi keluarga. Kalau sudah begini, apa mau dikata? Sosok "aku" yang tadinya jauh dari tuhannya, yang tadinya tidak hafal 30 juz, juga yang tadinya sibuk mengejar dunia, lagi-lagi harus menelan ludah penyesalan. Maka, seperti pada judul yang dipilih penulis; "tenggelamlah kapal" yang tengah dinahkodainya, sebab bagaimana mungkin seorang pemimpin berjalan di depan, sedang ia sendiri buta?
Puisi ini mengandung pesan moral yang kuat dan bermanfaat bagi kita, untuk selalu ingat kepada Allah. Dunia yang mati-matian dikejar, nyatanya malah menjauh. Penulis cerdas memilih diksi sederhana, mengolahnya sedemikian rupa lewat pemaknaan yang mendalam.
Pesan untuk penulis agar jangan berhenti berkarya. Terus tebar manfaat lewat tulisan.
Salam santun, salam karya!
Tim FAM Indonesia
Tenggelamnya Kapal Kita
Maulidan
Aku mana hafal juz 30
Berat bagiku karena jarang menyembah
Lupa Dia, karena sibuk mencari kau
Menuntaskan bahagia yang kau pinta
Aku mana hafal juz 30
Perda wajib berjilbab bagi siswa, setelah ku tamat kuliah
Mana bisa mampu, mana bisa ingat
Lagi
Di hari nan payah, dalam nikah
Semoga juz 30 tidak susah
Biar ada modal untuk pimpin jamaah
Di rumah
Sumber ilustrasi: evalaela.blogspot.com
Perhatikan bait pertama. Ada pengakuan di sana, tentang sosok "aku" yang bukan agamis, tidak hafal 30 juz, pun tidak dekat dengan tuhannya. Perhatikan bagaimana dia memandang dirinya sendiri, lalu menyadari bahwa nyatanya ia terlalu sibuk mengejar dunia.
Pada bagian berikutnya, semakin jelaslah pengakuannya, bahwa ia tak lebih dari sosok yang lupa; lupa pada ketentuan untuk apa dan untuk siapa dia diciptakan di dunia ini. Kekasih yang didambanya itu, yang bersifat keduniawian itu, adalah seorang yang berada beberapa tahun di bawahnya. Namun, tidak sesederhana nampaknya. Sebab, "wajib berjilbab" itu tidak sekadar peraturan di mata manusia, melainkan juga sinyal yang penulis sisipkan, bahwa nyatanya iman gadis yang tengah dikejar lebih dari yang dia bayangkan. Jelaslah, jelaslah betapa dalam sesal di hati "aku". Dunia yang hendak dikejarnya, malah terasa jauh darinya. Dan bukankah memang selamanya akan seperti itu?
Terakhir, ada "hari yang payah" bagi "aku", yakni hari di mana tanggung jawab besar wajib dipikulnya; menjadi imam dan pemimpin bagi keluarga. Kalau sudah begini, apa mau dikata? Sosok "aku" yang tadinya jauh dari tuhannya, yang tadinya tidak hafal 30 juz, juga yang tadinya sibuk mengejar dunia, lagi-lagi harus menelan ludah penyesalan. Maka, seperti pada judul yang dipilih penulis; "tenggelamlah kapal" yang tengah dinahkodainya, sebab bagaimana mungkin seorang pemimpin berjalan di depan, sedang ia sendiri buta?
Puisi ini mengandung pesan moral yang kuat dan bermanfaat bagi kita, untuk selalu ingat kepada Allah. Dunia yang mati-matian dikejar, nyatanya malah menjauh. Penulis cerdas memilih diksi sederhana, mengolahnya sedemikian rupa lewat pemaknaan yang mendalam.
Pesan untuk penulis agar jangan berhenti berkarya. Terus tebar manfaat lewat tulisan.
Salam santun, salam karya!
Tim FAM Indonesia
Tenggelamnya Kapal Kita
Maulidan
Aku mana hafal juz 30
Berat bagiku karena jarang menyembah
Lupa Dia, karena sibuk mencari kau
Menuntaskan bahagia yang kau pinta
Aku mana hafal juz 30
Perda wajib berjilbab bagi siswa, setelah ku tamat kuliah
Mana bisa mampu, mana bisa ingat
Lagi
Di hari nan payah, dalam nikah
Semoga juz 30 tidak susah
Biar ada modal untuk pimpin jamaah
Di rumah
Sumber ilustrasi: evalaela.blogspot.com

Comments
Post a Comment