Skip to main content

Ulasan Puisi "Tenggelamnya Kapal Kita" Karya Maulidan (FAMili Padang)

Puisi ini tersusun dari kata-kata sederhana, namun makna yang tersirat di dalamnya begitu besar. Di sinilah letak keunggulannya. Tim FAM menilai penulis punya ciri khas dan tidak sekadar berpuisi. Penulis dengan cerdas menyisipkan kisah keseharian seorang yang tengah jatuh cinta pada gadisnya, untuk kemudian "menampar" kita tentang betapa pentingnya iman seseorang dibanding segalanya di muka bumi.

Perhatikan bait pertama. Ada pengakuan di sana, tentang sosok "aku" yang bukan agamis, tidak hafal 30 juz, pun tidak dekat dengan tuhannya. Perhatikan bagaimana dia memandang dirinya sendiri, lalu menyadari bahwa nyatanya ia terlalu sibuk mengejar dunia.

Pada bagian berikutnya, semakin jelaslah pengakuannya, bahwa ia tak lebih dari sosok yang lupa; lupa pada ketentuan untuk apa dan untuk siapa dia diciptakan di dunia ini. Kekasih yang didambanya itu, yang bersifat keduniawian itu, adalah seorang yang berada beberapa tahun di bawahnya. Namun, tidak sesederhana nampaknya. Sebab, "wajib berjilbab" itu tidak sekadar peraturan di mata manusia, melainkan juga sinyal yang penulis sisipkan, bahwa nyatanya iman gadis yang tengah dikejar lebih dari yang dia bayangkan. Jelaslah, jelaslah betapa dalam sesal di hati "aku". Dunia yang hendak dikejarnya, malah terasa jauh darinya. Dan bukankah memang selamanya akan seperti itu?

Terakhir, ada "hari yang payah" bagi "aku", yakni hari di mana tanggung jawab besar wajib dipikulnya; menjadi imam dan pemimpin bagi keluarga. Kalau sudah begini, apa mau dikata? Sosok "aku" yang tadinya jauh dari tuhannya, yang tadinya tidak hafal 30 juz, juga yang tadinya sibuk mengejar dunia, lagi-lagi harus menelan ludah penyesalan. Maka, seperti pada judul yang dipilih penulis; "tenggelamlah kapal" yang tengah dinahkodainya, sebab bagaimana mungkin seorang pemimpin berjalan di depan, sedang ia sendiri buta?

Puisi ini mengandung pesan moral yang kuat dan bermanfaat bagi kita, untuk selalu ingat kepada Allah. Dunia yang mati-matian dikejar, nyatanya malah menjauh. Penulis cerdas memilih diksi sederhana, mengolahnya sedemikian rupa lewat pemaknaan yang mendalam.

Pesan untuk penulis agar jangan berhenti berkarya. Terus tebar manfaat lewat tulisan.

Salam santun, salam karya!
Tim FAM Indonesia

Tenggelamnya Kapal Kita

Maulidan

Aku mana hafal juz 30
Berat bagiku karena jarang menyembah
Lupa Dia, karena sibuk mencari kau
Menuntaskan bahagia yang kau pinta

Aku mana hafal juz 30
Perda wajib berjilbab bagi siswa, setelah ku tamat kuliah
Mana bisa mampu, mana bisa ingat
Lagi

Di hari nan payah, dalam nikah
Semoga juz 30 tidak susah
Biar ada modal untuk pimpin jamaah
Di rumah

Sumber ilustrasi: evalaela.blogspot.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...