Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2015

Piagam Kontributor Buku Antologi Cerpen “Sepasang Hati di Langit Kelabu”

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh penulis antologi cerpen "Sepasang Hati di Langit Kelabu" (Nulis Bareng Sekjen FAM Jilid 1) mendapatkan piagam penghargaan seperti contoh berikut.  Adapun nama-nama penulis yang tergabung dalam buku ini sbb: 1.     Aliya Nurlela (Kediri) 2.     Abd Gafur (Pamekasan) 3.     Afniyati (Cirebon) 4.     Ajeng Okvita Larasati ( Kota Kediri) 5.     Ali Munir (Sleman) 6.     Aloeth Pathi (Pati, Jawa Tengah) 7.     Alvara Khyzu (Nunik Tri Utami) (Sleman) 8.     Amir Afandi (Cilegon, Banten) 9.     Anik Karimatu Yuliana (Banyuwangi) 10.        Anisah Mahardiani (Surabaya) 11.       Ansar Salihin (Aceh Besar) 12.       Aprilia Dwi Istifarani (Palembang) 13.       Arif Alfanza (Syarifuddin Hidayatullah Hamdani) (Surabaya) 14.       Arika Wahyuningsih (Surabaya) ...

Ulasan Esai "Aku, Gunung, dan Facebook" Karya Guy Le Fleur (FAMili Riau)

NET Esai ini menyoroti 'pakem' dan 'jargon' lama dunia pendidikan kita dalam bentuk "gambar gunung" dan kalimat pembukaan "pada suatu hari" di pelajaran menggambar dan bahasa Indonesia. Secara tidak langsung, dua hal tersebut menjadi stigma hingga disangkutpautkan pada sebagian besar atau keseluruhan metode pengajaran yang ada dari dulu hingga kini. Hal tersebut, menurut penulis, justru membuat kita stagnan, jalan di tempat, dan sulit berkembang secara mindset atau pola pikir. Pendidikan yang baik tentunya dimulai dari mindset yang baik pula di kepala anak-anak penerus bangsa. Mindset yang baik adalah awal mula lahirnya manusia berkarakter unggulan di masa mendatang. Perkembangan teknologi, dalam hal ini media sosial Facebook, menurut penulis, bisa menjadi sarana belajar yang tidak mengikat sebagaimana kedua stigma yang disebut di atas. Penulis mengupas sisi positif keberadaan Facebook untuk mengubah cara pandang dan mindset anak-anak agar si...

Jangan Minder, Kamu Juga Bisa Jadi Penulis seperti Temanmu

NET Sekali waktu, kamu merasa minder bertemu dengan teman seusiamu yang sudah menerbitkan banyak buku dan bukunya bertengger manis di rak-rak toko buku skala nasional. Namanya sering disebut-sebut, diundang ke sana-ke mari dan diliput berbagai media. Belum lagi, setiap hari temanmu itu memposting foto-foto bukunya di akun facebook. Banyak orang yang nge-like, komentar positif, hingga share postingannya. Sementara kamu? Setiap hari hanya menonton ‘tingkah-polah’ temanmu itu dan mengikuti perkembangannya. Padahal sejak awal—bahkan mungkin jauh sebelum temanmu itu menjadi penulis—kamu sudah berniat menjadi penulis. Namun, hingga sekarang (hitungan tahun) belum satu pun karya yang selesai kamu tulis. Ada beberapa cerpen tapi belum jelas endingnya. Ada satu novel tapi belum tamat—gara-gara keburu bosan di tengah jalan. Ada satu dua puisi tapi temanya sama dan itu-itu saja alias tidak bertambah. Tulisan-tulisan separuh jadimu itu hanya mengendap di laptop yang sesekali kamu kunjungi dan ...

Jadi Penulis Harus Tahan Banting

NET Banyak penulis buku (pemula) yang mundur di tengah jalan karena tidak mendapat dukungan dari orang-orang terdekat (keluarga). Muncul pesimis disertai pertanyaan yang menjadi momok, “apakah saya benar-benar berbakat jadi penulis?” Hal itu terjadi karena buku yang ditulis disambut dingin keluarga (orangtua, istri, suami, anak, dll). “Oh... jadi penulis ya?” “Oh, bukunya sudah terbit, bagus deh.” “Kamu jadi penulis? Gak salah?”  Sambutan yang benar-benar dingin.  Belum lagi persoalan penjualan buku setelah terbit, baik di penerbit mayor maupun indie. Jangan disangka, buku yang terbit di penerbit mayor (konvensional) dalam waktu sekejap bisa “lenyap” terjual di toko buku. Bukumu bersaing “menebar pesona” dengan ratusan bahkan ribuan buku lainnya di rak toko buku. Maka, yang terjual habis dan best seller adalah buku-buku yang promosinya bagus, isinya bagus, kovernya bagus, dan penulisnya dikenal (populer). Penulis sekaliber Andrea Hirata dan Tere Liye, apa pun buku ya...

Ulasan Cerita Mini "Maafkan Aku untuk Satu Malam Ini" Karya Nely Istiqomah (FAMili Brebes)

ilustrasi: bangaziem.wordpress.com Tokoh "aku" terbenam dalam penyesalan karena ia harus menentang nasihat emaknya sendiri. Di sisi lain, penentangan ini justru ia lakukan demi kebaikan emaknya. "Aku" menjual dirinya. Masa lalu yang buruk, kehidupan yang tidak mau memihak, memaksanya memilih jalan gelap ini. Cerita ini amat klise jika dilihat dari ide dasarnya. Seorang anak dengan masa lalu buruk, yang memilih menjual diri demi ibunya. Namun keklisean itu tidak akan menjadi masalah kalau kita mampu membawa bentuk baru sebuah cerita. Dalam hal ini, penulis disarankan untuk terus berlatih dan berlatih menguak bentuk-bentuk unik dari ide-ide klise yang sering dipakai dalam penulisan fiksi. Tanda baca (terutama tanda titik dan koma) beberapa kurang tepat. Diharapkan ke depan agar penulis lebih teliti memerhatikan fungsi tiap tanda baca.  Dalam cerita ini ada satu paragraf terlalu panjang sehingga pembaca bisa jenuh. Lakukan pembagian paragraf berdasarkan ide p...

Ramadhan, Inspirasi Sajak-sajak Kami

Harian Singgalang, Minggu 26 Juli 2015 Judul: Sajak-sajak Ramadhan Penerbit: FAM Publishing Penulis: 42 Penulis Indonesia Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-7956-87-2 Terbit: Januari 2015 Tebal: 166 hlm ; 14 x 20 cm Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk mengagungkan bulan suci umat Islam; Ramadhan. Termasuk yang dilakukan 42 penyair di buku ini, mereka memiliki cara  dengan berdakwah lewat syair-syair yang indah.  Dakwah bil qalam; berdakwah melalui tulisan. Puisi-puisi yang ditulis 42 penyair ini khusus mengambil tema Ramadhan. Ada banyak hal dari keunikan Ramadhan yang bisa diceritakan. Sejak Ramadhan belum datang, hingga berakhirnya, seperti tak ada habisnya untuk dikupas. Berangkat dari pengalaman masing-masing, mereka terinspirasi dan bercerita lewat sentuhan indah syair-syairnya.  Masroki, membuka puisinya dengan sebentuk kerinduan akan hadirnya bulan mulia itu. Hal ini terbaca jelas dari salah satu puisinya yang berjudul, “Aku Merinduimu, Rama...

Kontributor Buku Kumpulan Dongeng “Cerita dari Waktu ke Waktu”

Rabu, 29 Juli 2015 (Sudah Melakukan registrasi) Update berdasarkan urutan huruf Abjad A-Z 1. Ari Vidianto, Banyumas (Beki Si Bebek Pemalas) 2. Arif Alfanza, Surabaya (Danau Kotor) 3. Arikmah Kamal, Surabaya (Putri Bersuara Emas) 4. Bella Safira Rj, Tanah Datar (Peri Bebelacc) 5. Brillian Eka Wahyudi, Jakarta (Asal Mula Huruf Jawa) 6. Charles HL, Magetan (Ayam, Musang, dan Polisi Kucing) 7. De Eka Putrakha (Akhir Persahabatan Ular, Belut dan Kadal) 8. Debby Amalia Briliansari, Jombang (Mawar yang Sombong) 9. Didin Syaripudin, Ciamis (Tangisan Si Pohon Durian) 10. Dodik Indra Kusuma (Air Terjun Seribu Tangga) 11. Evie Suryani. Surabaya (Cetakan Kue Pudding Virana) 12. Febrian Achmad Nurudin, Kendal (Juno si Julang emas) 13. Fidian Zahrotun Nurraida (Alam dan Si Pemburu) 14. Henny Armilawati, Amuntai (Monyet yang Rakus) 15. Jassy Ae, Taiwan (Kesabaran Seekor Ulat) 16. Ken Ratri Kumaradjati, Malaysia (Kelana Dan Angsa Berbulu Perak) 17. M. Sholiha. Sur...

Ulasan Artikel "Palestina dalam Payung Islam" Karya Ariz Moza (Purbalingga)

sumber ilustrasi: islampos.com Tulisan ini berisi tentang sekelumit sejarah penyebaran Islam di sebagian wilayah dunia, juga tentang perjalanan waktu yang mengantar Baitul Maqdis atau Palestina dari zaman kejayaan Islam berabad yang lalu hingga hari ini. Secara garis besar, penulis memfokuskan tulisan ke arah Palestina, di mana tempat tersebut menjadi "lahan rebutan" antara umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun, tulisan ini agak kurang dari segi kerapian. Ada banyak sekali kesalahan ejaan, typo (salah ketik), dan ketidaktepatan tanda baca (tanda titik, koma, dsb.). Ini harus menjadi perhatian serius penulis. Ke depan, diharapkan penulis mengedit terlebih dulu tulisannya hingga rapi sebelum mengirimkannya ke media/penerbit.  Tim FAM Indonesia menganjurkan penulis menggunakan jenis huruf (font) yang jadi acuan standar penulisan, yaitu Times New Roman, ukuran font 12 pt, dan spasi 1,5 agar tulisan tidak terlalu rapat. Jangan lupa rapikan paragraf dengan margin rata kiri...

Ulasan Puisi "Ibu..." Karya Fitri Wahyuning (FAMili Jambi)

Coba kita bayangkan, sejak pertamakali puisi tercipta di muka bumi, kira-kira sudah berapa banyak puisi tentang ibu dibuat?  Tentunya tak terhitung.  Itu karena saking agungnya sosok ibu. Itu karena saking besarnya peran ibu dalam sejarah seseorang. Dan, itu karena saking murninya mencintai sosok ibu. Tanpa ibu, sejarah satu individu tak mungkin ada. Padahal, satu individu sama dengan sebuah roda gerigi yang ikut menggerakkan bola kehidupan; adakah sesuatu pun di muka bumi ini—dalam hal ini satu anak manusia—yang tidak memberi pengaruh pada sekelilingnya, sekalipun itu kecil? Jawabnya: tidak!  Betapa besar peran ibu. Bayangkan, andai satu manusia tidak lahir, maka tak ada satu roda gerigi tertentu sehingga dunia pada hari itu mungkin berbeda dengan hari ini. Puisi sederhana ini satu dari sekian banyak puisi yang tercipta karena seorang ibu. Lepas dari besarnya makna yang coba penulis tanamkan, kesederhanaan diksinya cukup membuat kita tahu betapa penulis puisi...