Guru memang sosok yang luar biasa. Di balik "bungkus"-nya yang sering kali sederhana, bahkan apa adanya, guru jadi cahaya di tengah kegelapan. Tanpa guru, bisa dibayangkan betapa butanya masa depan sebuah bangsa. Tanpa guru, alangkah miskinnya para manusia, bahkan meski berlimpah harta karun sekalipun, di suatu negeri yang mereka huni.
Penulis mencatat kekagumannya dalam nasihat berbentuk puisi. "Kau" adalah kita, sedang "mereka" pahlawan tanpa tanda jasa. Adakah teladan yang lebih baik selain guru dan orangtua di muka bumi? Bahkan mereka yang tidak menganggap diri sebagai guru pun, yang memberi ilmu secara langsung ataupun tidak, tetap saja kita sebut "guru", bukan?
Puisi ini sederhana dan mudah dipahami. Dari segi kerapian, ada beberapa kata yang mestinya ditulis dengan huruf kecil, atau sebaliknya, seperti misalnya: "anak muda" yang menjurus pada "kau", sehingga lebih tepat ditulis "Anak Muda". Dua kata yang salah eja, "patwah" dan "mulya", yang benar: "fatwa" dan "mulia".
Dari segi isi, karena puisi bentuk karya fiksi yang "bebas", Tim FAM tidak menyarankan banyak kecuali agar penulis terus berlatih dan berlatih; menggali tema-tema lebih variatif, mencoba pilihan diksi yang menantang, membuat "percobaan" untuk mendalami ciri khas penulis sendiri, dan segala yang bisa dilakukan seorang penyair agar puisi-puisi yang dihasilkan lebih indah dan komunikatif tapi natural (tanpa menggurui).
Terus berkarya.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]
BIASA, LUAR BIASA
Karya: Heru Yonata (IDFAM3365U)
Biasa, membuatnya luar biasa
Biasanya, menjadikannya berusaha lebih sempurna
Terharu jika saja Kau tahu,
Berseru jika saja Kau mampu mengukur rasa
Betapa tulusnya jiwa
Separuh masa depan negeri ini, di pundaknya
Di depan jadi tutukan,
Membina, menuntun menatap Langit
Kau tak mungkin menangis jika hanya menatap jauh
Jiwamu melayang, akal sehatmu hilang
“Apa yang sedang Kau pikirkan anak muda ?”
Jika Kau anggap tak bersahaja
Mereka senang memberi patwah, setulus hati
“Kenapa selalu Kau abaikan ?”.
Jika, Kau anggap mereka tak mampu berlaku bijak,
Mereka inginkan yang terbaik
Mereka seringkali tersakiti dengan
Apa yang Kau anggap pantas-pantas saja
Miliaran kata cinta di dunia ini, manis
Kata-kata cinta memanglah manis
Buah manis tak berpenghuni
Baginya tak sepenuhnya
Masa depan bangsa adalah gambaran
Di relung hatinya yang paling dalam
Cerdasmu, cerdasku, cerdas kita semangat bagi keindahan
Jiwa mulyanya
Guruku, guru luar biasa!
Tiada kata “Enggan”, tiada kata “menyerah”
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
Penulis mencatat kekagumannya dalam nasihat berbentuk puisi. "Kau" adalah kita, sedang "mereka" pahlawan tanpa tanda jasa. Adakah teladan yang lebih baik selain guru dan orangtua di muka bumi? Bahkan mereka yang tidak menganggap diri sebagai guru pun, yang memberi ilmu secara langsung ataupun tidak, tetap saja kita sebut "guru", bukan?
Puisi ini sederhana dan mudah dipahami. Dari segi kerapian, ada beberapa kata yang mestinya ditulis dengan huruf kecil, atau sebaliknya, seperti misalnya: "anak muda" yang menjurus pada "kau", sehingga lebih tepat ditulis "Anak Muda". Dua kata yang salah eja, "patwah" dan "mulya", yang benar: "fatwa" dan "mulia".
Dari segi isi, karena puisi bentuk karya fiksi yang "bebas", Tim FAM tidak menyarankan banyak kecuali agar penulis terus berlatih dan berlatih; menggali tema-tema lebih variatif, mencoba pilihan diksi yang menantang, membuat "percobaan" untuk mendalami ciri khas penulis sendiri, dan segala yang bisa dilakukan seorang penyair agar puisi-puisi yang dihasilkan lebih indah dan komunikatif tapi natural (tanpa menggurui).
Terus berkarya.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]
BIASA, LUAR BIASA
Karya: Heru Yonata (IDFAM3365U)
Biasa, membuatnya luar biasa
Biasanya, menjadikannya berusaha lebih sempurna
Terharu jika saja Kau tahu,
Berseru jika saja Kau mampu mengukur rasa
Betapa tulusnya jiwa
Separuh masa depan negeri ini, di pundaknya
Di depan jadi tutukan,
Membina, menuntun menatap Langit
Kau tak mungkin menangis jika hanya menatap jauh
Jiwamu melayang, akal sehatmu hilang
“Apa yang sedang Kau pikirkan anak muda ?”
Jika Kau anggap tak bersahaja
Mereka senang memberi patwah, setulus hati
“Kenapa selalu Kau abaikan ?”.
Jika, Kau anggap mereka tak mampu berlaku bijak,
Mereka inginkan yang terbaik
Mereka seringkali tersakiti dengan
Apa yang Kau anggap pantas-pantas saja
Miliaran kata cinta di dunia ini, manis
Kata-kata cinta memanglah manis
Buah manis tak berpenghuni
Baginya tak sepenuhnya
Masa depan bangsa adalah gambaran
Di relung hatinya yang paling dalam
Cerdasmu, cerdasku, cerdas kita semangat bagi keindahan
Jiwa mulyanya
Guruku, guru luar biasa!
Tiada kata “Enggan”, tiada kata “menyerah”
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments
Post a Comment