Puisi ini berisi tentang cinta seorang ibu. Benarlah apa kata orang, bahwa kasih ibu itu sepanjang masa. Tanpa ibu, kita tak ada di dunia ini. Ibulah yang berjuang sekuat tenaga dan hati selama sembilan bulan lamanya mengandung kita. Meski waktu kian dekat membawa Ibu pada pertaruhan nyawa, cintanya tetap ada, bahkan bertambah besar. Perjuangan yang mampu merenggut nyawa terjadi ketika waktu melahirkan tiba. Pun setelah kita lahir, tak surut cintanya. Dipeluknya dengan kasih saat kita menangis karena lapar atau sakit. Penulis dengan tajam mengambarkan sosok ibu sebagai pejuang yang tak kenal lelah. Meski segala penderitaan ditanggung, tak sekalipun ia bersedih. Ini telah kita rasakan pada beberapa bait awal. "Bibir terus memagut senyum", "derai tawa yang terus diranum", dan "sayup matamu tak kunjung bergeming", cukuplah sebagai bukti bahwa tiada pernah cinta Ibu berdiri di balik maksud tertentu. Ya. Cinta ibu itu tak tertukar oleh apa pun. Bukankah ibu a...
Komunitas Penulis, dari Pare untuk Dunia