Puisi ini berisi tentang cinta seorang ibu. Benarlah apa kata orang, bahwa kasih ibu itu sepanjang masa. Tanpa ibu, kita tak ada di dunia ini. Ibulah yang berjuang sekuat tenaga dan hati selama sembilan bulan lamanya mengandung kita. Meski waktu kian dekat membawa Ibu pada pertaruhan nyawa, cintanya tetap ada, bahkan bertambah besar. Perjuangan yang mampu merenggut nyawa terjadi ketika waktu melahirkan tiba. Pun setelah kita lahir, tak surut cintanya. Dipeluknya dengan kasih saat kita menangis karena lapar atau sakit.
Penulis dengan tajam mengambarkan sosok ibu sebagai pejuang yang tak kenal lelah. Meski segala penderitaan ditanggung, tak sekalipun ia bersedih. Ini telah kita rasakan pada beberapa bait awal. "Bibir terus memagut senyum", "derai tawa yang terus diranum", dan "sayup matamu tak kunjung bergeming", cukuplah sebagai bukti bahwa tiada pernah cinta Ibu berdiri di balik maksud tertentu. Ya. Cinta ibu itu tak tertukar oleh apa pun. Bukankah ibu akan selalu ada dan tak mengharap balasan selain yang terbaik untuk anak-anak mereka?
Tim FAM menilai bahwa penulis sudah cukup baik dalam mendalami makna lewat puisi ini. Setiap goresan aksaranya terasa menyentuh, seolah mengajak kita untuk merenungi kembali, membuka kembali sesuatu tentang ibu yang mungkin sering kita lupakan.
Sedikit koreksi mengenai EYD. Yang pertama ada pada kata "airmata" yang seharusnya ditulis "air mata" (terpisah). Kemudian pada bait pertama baris keempat. "Kenati", mungkin yang benar adalah "kendati". Juga pada kata "se onggok" yang mestinya "seonggok".
Untuk karya berikutnya, Tim FAM menyarankan agar penulis lebih teliti dalam proses editing. Selebihnya, sudah cukup baik.
Terus berkarya dan jangan berhenti menulis. Pertajam penamu dengan lebih menggali makna. Tebarkan nilai-nilai pencerahan lewat tulisan. Tetap semangat.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Airmata yang Setia Berlinang
Arini Ulfa Rahmawati (IDFAM1103S)
Bibirmu terus memagut senyum
Kendati angkara kian menumpas batas
Derai tawa yang terus diranum
Kenati derita mencekat napas
Ibu…
Sayup matamu tak kunjung bergeming
Tak pula menguakkan linangan airmata itu
Melodi cintamu terus mendekap hening
Se onggok masa di bawah lentera senja kuning
Meraut wajah purnamamu
Sejenak mengusir peluh di dahimu
Menyeka kemelut luka yang menggelayut di temaram mata itu
Kepakkan sayap yang meranah di jeritan ratapan itu hingga menjadi asa di daku
Dekapan jemari itu
Menjadi pembungkus lentera kalbu
Sejentik airmata itu
Wujud rintihan bersenandung haru
Kaulah Ibu!!
Piawai bertahta penakluk peluh dan keluh
Airmata yang setia berlinang
Mengikis celah penyekat senyum yang dirasa semasa saja
Teruntukku
Kau limpahkan bunga surga itu
Di bulir airmata itu
Sudah kubilang, Ibu
Hanya untukku
Sumber gambar: dejulogy.wordpress.com
Penulis dengan tajam mengambarkan sosok ibu sebagai pejuang yang tak kenal lelah. Meski segala penderitaan ditanggung, tak sekalipun ia bersedih. Ini telah kita rasakan pada beberapa bait awal. "Bibir terus memagut senyum", "derai tawa yang terus diranum", dan "sayup matamu tak kunjung bergeming", cukuplah sebagai bukti bahwa tiada pernah cinta Ibu berdiri di balik maksud tertentu. Ya. Cinta ibu itu tak tertukar oleh apa pun. Bukankah ibu akan selalu ada dan tak mengharap balasan selain yang terbaik untuk anak-anak mereka?
Tim FAM menilai bahwa penulis sudah cukup baik dalam mendalami makna lewat puisi ini. Setiap goresan aksaranya terasa menyentuh, seolah mengajak kita untuk merenungi kembali, membuka kembali sesuatu tentang ibu yang mungkin sering kita lupakan.
Sedikit koreksi mengenai EYD. Yang pertama ada pada kata "airmata" yang seharusnya ditulis "air mata" (terpisah). Kemudian pada bait pertama baris keempat. "Kenati", mungkin yang benar adalah "kendati". Juga pada kata "se onggok" yang mestinya "seonggok".
Untuk karya berikutnya, Tim FAM menyarankan agar penulis lebih teliti dalam proses editing. Selebihnya, sudah cukup baik.
Terus berkarya dan jangan berhenti menulis. Pertajam penamu dengan lebih menggali makna. Tebarkan nilai-nilai pencerahan lewat tulisan. Tetap semangat.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Airmata yang Setia Berlinang
Arini Ulfa Rahmawati (IDFAM1103S)
Bibirmu terus memagut senyum
Kendati angkara kian menumpas batas
Derai tawa yang terus diranum
Kenati derita mencekat napas
Ibu…
Sayup matamu tak kunjung bergeming
Tak pula menguakkan linangan airmata itu
Melodi cintamu terus mendekap hening
Se onggok masa di bawah lentera senja kuning
Meraut wajah purnamamu
Sejenak mengusir peluh di dahimu
Menyeka kemelut luka yang menggelayut di temaram mata itu
Kepakkan sayap yang meranah di jeritan ratapan itu hingga menjadi asa di daku
Dekapan jemari itu
Menjadi pembungkus lentera kalbu
Sejentik airmata itu
Wujud rintihan bersenandung haru
Kaulah Ibu!!
Piawai bertahta penakluk peluh dan keluh
Airmata yang setia berlinang
Mengikis celah penyekat senyum yang dirasa semasa saja
Teruntukku
Kau limpahkan bunga surga itu
Di bulir airmata itu
Sudah kubilang, Ibu
Hanya untukku
Sumber gambar: dejulogy.wordpress.com

Comments
Post a Comment