Skip to main content

Ulasan Puisi "Air Mata yang Setia Berlinang" Karya Arini Ulfa Rahmawati (FAMili Lampung)

Puisi ini berisi tentang cinta seorang ibu. Benarlah apa kata orang, bahwa kasih ibu itu sepanjang masa. Tanpa ibu, kita tak ada di dunia ini. Ibulah yang berjuang sekuat tenaga dan hati selama sembilan bulan lamanya mengandung kita. Meski waktu kian dekat membawa Ibu pada pertaruhan nyawa, cintanya tetap ada, bahkan bertambah besar. Perjuangan yang mampu merenggut nyawa terjadi ketika waktu melahirkan tiba. Pun setelah kita lahir, tak surut cintanya. Dipeluknya dengan kasih saat kita menangis karena lapar atau sakit.

Penulis dengan tajam mengambarkan sosok ibu sebagai pejuang yang tak kenal lelah. Meski segala penderitaan ditanggung, tak sekalipun ia bersedih. Ini telah kita rasakan pada beberapa bait awal. "Bibir terus memagut senyum", "derai tawa yang terus diranum", dan "sayup matamu tak kunjung bergeming", cukuplah sebagai bukti bahwa tiada pernah cinta Ibu berdiri di balik maksud tertentu. Ya. Cinta ibu itu tak tertukar oleh apa pun. Bukankah ibu akan selalu ada dan tak mengharap balasan selain yang terbaik untuk anak-anak mereka?

Tim FAM menilai bahwa penulis sudah cukup baik dalam mendalami makna lewat puisi ini. Setiap goresan aksaranya terasa menyentuh, seolah mengajak kita untuk merenungi kembali, membuka kembali sesuatu tentang ibu yang mungkin sering kita lupakan.

Sedikit koreksi mengenai EYD. Yang pertama ada pada kata "airmata" yang seharusnya ditulis "air mata" (terpisah). Kemudian pada bait pertama baris keempat. "Kenati", mungkin yang benar adalah "kendati".  Juga pada kata "se onggok" yang mestinya "seonggok".

Untuk karya berikutnya, Tim FAM menyarankan agar penulis lebih teliti dalam proses editing. Selebihnya, sudah cukup baik.

Terus berkarya dan jangan berhenti menulis. Pertajam penamu dengan lebih menggali makna. Tebarkan nilai-nilai pencerahan lewat tulisan. Tetap semangat.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Airmata yang Setia Berlinang

Arini Ulfa Rahmawati (IDFAM1103S)

Bibirmu terus memagut senyum
Kendati  angkara kian menumpas batas
Derai tawa yang terus diranum
Kenati derita mencekat napas

Ibu…

Sayup matamu tak kunjung bergeming
Tak pula menguakkan linangan airmata itu

Melodi cintamu terus mendekap hening
Se onggok masa di bawah lentera senja kuning

Meraut wajah purnamamu
Sejenak mengusir peluh di dahimu

Menyeka kemelut luka yang menggelayut di temaram mata itu
Kepakkan sayap yang meranah di jeritan ratapan itu hingga menjadi asa di daku

Dekapan jemari itu
Menjadi pembungkus lentera kalbu

Sejentik airmata itu
Wujud rintihan bersenandung haru

Kaulah Ibu!!
Piawai bertahta penakluk peluh dan keluh

Airmata yang setia berlinang
Mengikis celah penyekat senyum yang dirasa semasa saja

Teruntukku
Kau limpahkan bunga surga itu
Di bulir airmata itu

Sudah kubilang, Ibu
Hanya untukku

Sumber gambar: dejulogy.wordpress.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...