Puisi ini cukup unik. Pemilihan diksi yang sederhana tidak membuat makna yang timbul terasa hambar, datar, atau kurang menarik. Namun justru sebaliknya. Puisi ini seperti sebuah sumur di tengah padang pasir--sederhana namun membidik. Penulis dengan cerdas mengambil sesuatu yang beda demi menyampaikan pesan tentang keagungan Tuhan. Ya. Manusia memang tidak ada apa-apanya. Manusia tidak akan menjadi "kuat", kaya, pintar, hebat, dan lain sebagainya, apabila Tuhan tak berkehendak padanya untuk menjadi demikian. Maka, manusia bak debu di tengah badai, tak berdaya. Begitulah manusia. Pada baris yang berbunyi "elektronku setiap waktu menyebut Tuhannya", seolah membisikkan pada hati pembaca, bahwa kekuasaan Tuhan itu tiada ada batasnya. Lihatlah tubuh manusia. Berapa banyak yang manusia ketahui tentang tubuhnya sendiri? Mungkin hanya seujung kuku. Tuhan menciptakan semua itu begitu luar biasa, mulai dari daging, tulang, organ tubuh, dan lain sebagainya. Itu hanya pada man...
Komunitas Penulis, dari Pare untuk Dunia