Skip to main content

Terima Kasih Redaksi Kartini

Apa tanggapan Aliya Nurlela tentang dimuatnya hasil wawancara kisah inspiratif di Majalah Kartini edisi 2355, Agustus 2013? Inilah tanggapan Sekjen FAM, Aliya Nurlela:

Alhamdulilah, adalah kata pertama yang saya ucapkan. Saya tidak pernah menyangka akan ada moment berharga seperti ini, setelah moment-moment berharga lain sebelumnya dalam hidup. Namun, saya selalu meyakini bahwa tidak ada yang namanya “kebetulan”. Semua kejadian dalam perjalanan hidup manusia telah ada dalam desainNya, jauh sebelum manusia itu ada.

Awalnya, saya juga terkejut ketika pihak Majalah Kartini menghubungi nomor kontak FAM Indonesia dan mengatakan bahwa pihak Majalah Kartini tertarik dengan kisah Aliya Nurlela yang dimuat oleh sebuah media online daerah Riau. Pihak majalah tersebut meminta waktu wawancara khusus dan bermaksud memuat beritanya pada edisi 2355. Terus-terang awalnya saya ragu. Bukan tidak percaya pada pihak Kartini, tapi keraguan ini berkaitan dengan kondisi saya pribadi yang tak mau diekspos berlebihan soal sakit. Saya tidak ingin memposisikan diri sebagai seorang “pasien” hingga menarik banyak orang untuk mengasihani dll. Saya kurang tertarik, meraih simpati dengan cara seperti itu. Bahkan saya menolak ketika sebuah media—demi meraih penjualan yang bagus—menuliskan kisah sakit saya secara berlebihan. Hingga ada beberapa point yang tidak saya alami, juga dituliskan. Saya tidak mencari popularitas lewat sakit. Lebih baik tidak menjadi narasumber, tidak terbit daripada kisah yang tidak saya alami harus diterbitkan. Apa yang saya sampaikan ke luar, baik itu di media cetak atau online harus apa yang saya alami dan ada nilai penting yang hendak disampaikan. Bukan sekadar bercerita ngalor-ngidul soal musibah tanpa ada pesan apa pun yang bisa dipetik pembaca.

Alhamdulilah, Majalah Kartini bermaksud memuat kisah yang memberikan inspirasi bagi pembaca. Kisah orang sakit yang diangkat adalah kisah orang  sakit yang dikenal publik dan memiliki karya cukup baik. Tentu saya sangat berterima kasih sekali kepada Tim Majalah Kartini yang telah memilih saya sebagai narasumber berita utama dan memuatnya di Majalah Kartini edisi terbaru nomor 2355. Saya tidak menyangka, hasil wawancara tersebut dimuat di halaman terdepan dalam rubrik eksklusif, sebanyak 4 halaman warna, dengan pengantar sebelumnya di rubrik “dari pengasuh”. Dan menjadi kejutan bagi saya, Majalah Kartini memberikan nuansa warna ungu pada tulisan kisah tersebut. Warna ungu adalah warna kesukaan saya. Alhamdulilah sekali lagi, tentu saya senang sekali.

Meskipun saya bukan orang terkenal, namun saya selalu berhati-hati ketika ada yang mewawancarai untuk kepentingan publikasi. Pernah suatu ketika, ada yang bermaksud mempublikasikan dan minta saya menuliskan sederet prestasi dari tingkat lokal hingga internasional. Terus-terang saya katakan, “jika motivasi Anda mempublikasikan saya karena prestasi yang diraih, mohon maaf saya belum memiliki prestasi nasional apalagi internasional. Tapi kalau saya memberikan penghargaan kepada para pemenang karya tingkat nasional, alhamdulilah sudah beberapa kali. Melalui FAM Indonesia, bersama Ketum FAM Muhammad Subhan, hampir setiap bulan memberikan penghargaan kepada para pemenang lomba baik tingkat grup hingga nasional.” Atau ketika beberapa kali mendapat pertanyaan dalam wawancara, “apa formula sukses Anda hingga bisa mendirikan dan mengelola wadah kepenulisan nasional?” Terus-terang ini pun tidak serta merta saya jawab. Saya katakan, “mari kita samakan dulu cara pandang kita tentang arti sukses. Sukses bagi saya bukan pencapaian tertentu dalam hal materi. Sebab, sukses materi tak ada ukuran yang jelas. Seseorang bisa disebut sukses, apabila bisa “menyatukan” urusan dunia dan akhiratnya. Bukan “menyeimbangkan.” Sebab, urusan dunia-akhirat sulit untuk diseimbangkan. Kecenderungan hati manusia akan lebih condong ke urusan dunia. Tetapi ketika urusan dunia-akhirat itu bisa menyatu, maka aktivitas apa pun yang ia jalani, pijakannya adalah baik-buruk menurut aturan Tuhan, tidak meninggalkan kewajiban kepada Allah selama beraktivitas tersebut dan langkahnya tidak keluar dari jalur atau rambu-rambu yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Saat ini saya belum sukses, karena masih belajar berproses menuju ke arah seperti itu. Apa yang saya lakukan saat ini adalah dalam rangka berkarya, berusaha sungguh-sungguh sebagai kewajiban seorang hamba dan berniat memberikan kepedulian pada sesama. Alhamdulilah, jika dari hasil karya tersebut, gaungnya bisa dinikmati banyak orang.”

Ada sebuah hikmah lain yang saya syukuri dari permintaan wawancara Majalah Kartini ini. Posisi saya yang mengalami sakit bell’spalsy--80% persen kesembuhan—tak sedikitpun ingin menyanggupi menampilkan foto yang terlihat muka secara jelas. Lagi-lagi, alasannya tak ingin muka sakit saya menjadi konsumsi publik dan terus-terang saya belum percaya diri sepenuhnya dengan foto muka yang terlihat jelas. Namun, pihak majalah tersebut mendorong saya menampilkan foto wajah terbaru yang terlihat jelas. Hampir saja saya menolak pemuatan hasil wawancara ini dan sempat menimbang-nimbang baik-buruknya. Tak lupa mengkonsultasikan terlebih dulu pada orang-orang terdekat. Atas motivasi keluarga dan sahabat saya, Muhammad Subhan, akhirnya saya menyanggupi. Dan, bisa disebut inilah untuk pertamakali saya mau berfoto bagian wajah yang jelas setelah tertimpa sakit bell’spalsy, serta mempublikasikannya. Pendapat keluarga dan sahabat itu benar. Jika tak ada sakit ini, maka mungkin tak akan pernah terlahir karya seperti sekarang ini. Benar, banyak hikmah di balik sebuah kejadian. Tak ada gunanya menutup diri. Saya harus membangun semangat, kepercayaan diri dan kembali berbuat yang bernilai positif. Kalau orang lain yang terkena musibah lebih parah bisa tegar dan menghasilkan karya yang hebat, mengapa saya tidak? Saya berusaha menanamkan rasa optimis bahwa bisa mencapai kesembuhan total suatu hari nanti. Saat ini, saya sudah mencintai “wajah baru” ini dengan ikhlas. Pesan yang selalu saya tanamkan pada diri sendiri; berkaryalah, sebelum kehilangan semua. Kehilangan kesempatan, waktu dan usia. Salam santun, salam karya.  (*)

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...