Skip to main content

Ulasan Cerpen "Sepenggal Kata Bijak" Karya Hidayatul Hasanah (FAMili Kartasura, Jawa Tengah)

Cerpen ini berkisah tentang keengganan gadis bernama Lizda untuk mengikuti keinginan orangtuanya. Ayah-ibunya menginginkan Lizda agar kelak dapat menjadi seorang guru agama. Namun karena ketidaksesuaian antara mimpi dan apa yang harus ia patuhi, jadilah Lizda hanya setengah hati, terpaksa dalam menjalani hidup. Betapa tidak? Selama ini ia bermimpi ingin menjadi terkenal seperti artis idolanya. Tapi nyatanya semua itu jauh. Maka, nilai-nilainya tak pernah memuaskan.

Lizda mempunyai sahabat bernama Azizah. Sahabatnya ini sebenarnya juga mempunyai masalah yang sama dengannya. Azizah sama sekali tak menginginkan kuliah di tempat yang kemungkinan besar akan menjauhkannya dari mimpi. Namun sungguh tak disangka. Seiring waktu berlalu, nyatanya Azizah mampu mengukir prestasi yang gemilang. Inilah yang pada akhirnya membuat Lizda sadar, bahwa apa yang tengah ia alami adalah ketentuan dariNya. Perubahan positif pada diri Azizah membuat Lizda berpikir, bahwa tidak ada yang lebih baik selain menjalani apa yang ada di depan mata dengan hati yang ikhlas dan optimis. Bukan malah lari dari apa yang telah digariskan untuknya.

Cerpen ini mengandung nilai positif untuk kita, bahwa segala yang baik di mata seseorang, belum tentu baik untuknya. Tuhanlah yang tahu, mana yang terbaik untuk kita. Maka, kunci untuk meraih kebahagiaan adalah menerima apa yang terjadi tanpa merasa terpuruk apalagi menyerah.

Penulis cukup baik membawakan kisah sederhana ini menjadi sebuah pelajaran. Gaya tulisannya pun enak dan nyaman untuk dibaca. Tinggal terus diasah akan menjadi lebih baik nanti. Hanya ada beberapa koreksi mengenai EYD dari Tim FAM. Kata "shalat" sebaiknya ditulis "salat". "Menina bobokan", semestinya digabung menjadi "meninabobokan". "Nafas" yang benar adalah "napas". "Di putar" yang benar adalah "diputar" (karena merupakan kata kerja pasif). "Kemana-mana" yang benar "ke mana-mana". "Ketentuan-Nya" dan "oleh-Nya" yang benar ditulis "ketentuanNya" dan "olehNya".

Pada kata "nraktir" yang bukan merupakan bahasa baku, baiknya diketik dengan huruf miring. Sementara kata "desaigner" mungkin maksud penulis adalah "designer" atau "desainer". Sedangkan "orang tua" yang ada dalam cerpen ini adalah Ayah dan Ibu Lizda, maka yang tepat penulisannya adalah digabung menjadi "orangtua". Karena makna dari terpisah dan tergabungnya kata "orang" dan "tua" adalah berbeda.

Saran dari Tim FAM untuk penulis adalah teruslah berkarya dan jangan berhenti menulis. Tetap tebarkan nilai-nilai bermanfaat lewat tulisan-tulisan Anda.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT CERPEN KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Sepenggal Kata Bijak

Karya: Hidayatul Hasanah (IDFAM1620M)

Termenung aku di depan ruang kelas. Bertanya pada ragaku, apakah aku sudah pantas menyandang sebutan mahasiswa dan mengambil prodi PAI (Pendidikan Agama Islam)? Bimbang. Awal masuk membuatku speechless. Sedangkan di sekeliling, kulihat senyum dan tawa yang lepas dari wajah-wajah suci mahasiswa baru.

“Beg…”

Ada tangan yang menyentuh bahuku. Kulirik, ternyata Azizah.

“Lizda ya…?” sapanya renyah.

Obrolan-obrolan sederhana mengurai tawa. Hingga obrolan itu berlanjut ke arah sensitif. Alasan mengambil prodi PAI dan kuliah di kampus ini. Pertanyaan yang ingin kuhindari, meluncur dari bibir Azizah.  Aku mendengus keras. Percakapan menjadi beku. Sesaat dia mulai angkat suara. Keterpaksaan adalah faktor terpenting yang mendorongnya sampai di kampus ini.

“Apakah kamu nyaman menjalani semua ini?” tanyaku kemudian.

“Sama sekali tidak.”

Aku memaksakan tersenyum. “Alasanmu sama denganku,” ungkapku, singkat.

Tidak berapa lama. Azizah beranjak pergi. Ditinggalkannya aku seorang diri. Telepon yang berdering menutup pembicaraan sore itu. Isyarat tangannya menandakan dia harus segera buru-buru.

***

Selepas shalat, aku mulai merenungi perjalananku selama di kampus. Tidak terasa sudah tiga semester aku lalui. Hasil belajarku kurang memuaskan. Terlihat, IPK-ku kurang dari 3.00. Terlihat garis kekecewaan dari wajah Ibu dan Ayah. Selama ini aku hanya terfokus pada perasaan keterpaksaanku. Hingga semua itu berimbas pada hasil belajar.

Ayah dan Ibu sering mengajakku diskusi tentang perkuliahan. Hingga ujung-ujungnnya selalu menanyakan apa kendalaku selama kuliah. Aku menduga, ini ada sangkut pautnya dengan hasil belajarku. Melangkah menuju kamar menjadi pelarianku untuk menghentikan perdebatan. Muak dengan segala obsesi yang mereka canangkan. Jadi guru agama yang sopan dan penuh tata krama. Menurut mereka keinginan yang simple. Apakah mereka mengerti betapa tersiksanya batinku dengan harapan konyol tersebut?

Iringan musik pop dari HP mampu menina bobokan. Hingga sudah tiga jam aku pulas mengarungi bahtera mimpi. Kupandangi lekat-lekat foto artis yang menjadi idolaku. Kuusap kaca yang menjadi bingkai foto tersebut.

“Harapan semu, untuk menjadi sepertimu,” ungkapku di depan bingkai foto.

***

“Lizda, ke kantin yuk,” ajak Azizah dengan paksa.

“Kantin? Kamu belum makan?” ujarku.

Tangannya begitu cekatan dalam menarikku. Belum sempat aku menerima jawaban dari pertanyaanku, kakiku dan kakinya telah melesat ke kantin. Di kursi paling depan di dekat pintu masuk menjadi tempat pilihannya.

Embusan nafasnya terasa memburu. Seakan ada hal penting yang ingin dia ceritakan kepadaku.

“Aku memenangkan lomba Karya Tulis se-Jateng. Makanya, aku nraktir kamu.”

Aku masih terbengong-bengong dengan berita yang dia sampaikan. Ingatanku kembali pada awal dia masuk kuliah. Keterpaksaan yang membuatnya masuk kuliah dengan jurusan PAI. Dan, sekarang…

 “Kok bisa?”

“Masak mau meratapi nasib terus-terusan. Jalan terbaik adalah move on. Menurutku, aku pantas berada di sini. Aku sadar, bahwa apa yang kujalani sekarang adalah ketentuan-Nya. Aku bercermin lewat dunia yang Kakakku jalani. Sama persis. Kenyataannya sekarang dia sudah bisa jadi dosen. Selain itu harapannya yang dulu sirna tetap bisa terwujud. Pengusaha yang sukses pun mampu dia sandang.  Bekal yang dia tanam dalam diri hanyalah keyakinan. Yakin dengan jalan yang digariskan dan yakin akan kemudahan yang Allah hamparkan.”

“Kamu ingin mengikuti jejak Kakakmu?”

“Bukan hanya keinginan. Tapi, sudah menjadi target dalam hidupku. Di sisi lain aku mampu menyenangkan hati orang tuaku. Selain itu pula, ada kebanggan tersendiri bisa membuat orang tua tersenyum. Mengenai keinginanku untuk bisa mendalami ilmu desaigner, aku ikut kursus. So, dua-duanya bisa tercapaikan? Baik keinginanku maupun keinginan orang tuaku.”

Kata-katanya meluncur begitu tulus. Kebenaran dari apa yang dia ucapkan benar-benar terwujud. Aktivitasnya yang padat tidak membuat IPK-nya turun. Justru sebaliknya. Ibarat bola bekel, tubuhnya amat lentur untuk digerakkan kemana-mana. Seakan tiada rasa lelah yang menghinggapinya.

Aku berdecak kagum melihatnya. Perubahan yang memesona terlihat di depan mata. Kecemburuanku memuncak padanya. Aku tertunduk malu. Perbuatan perubahan dalam diriku selama ini tidak ada. Belenggu kemalasan dan keegoisan bersarang tepat di jantungku. Seakan dia telah mengotori seluruh organ. Hingga tidak ada seinchi pun yang bersih. Helaan nafas berulang kali aku lakukan. Mulutku masih bungkam.

“Apakah kamu akan bertahan pada posisimu? Ataukah akan mengubahnya menjadi lebih bersinar? Itu adalah suatu pilihan. Dan hanya dirimu sendiri yang mampu menentukan.” Ucapnya membuyarkan lamunanku.

Diamku menjadi jawaban atas pertanyaannya. Lama aku terdiam di kursi kantin. Aku melihat ke depan. Pandanganku kosong. Andai, andai dan andai, itulah yang terpikirkan dalam tempurung otakku. Waktu yang telah berlalu tiada mungkin kembali dan mampu untuk di putar ulang. Renungku panjang.

Tanganku menyangga kepalaku.

“Kok, tiba-tiba kamu murung? Apa… ada kata-kataku yang salah? Atau kamu sedang memikirkan sesuatu?” Beberapa saat dia menunggu jawaban dari pertanyaannya.

“Ho…e…!” Hentakan yang keras dia hujamkan ke meja.

“Eh, ma… af…” jawabku gugup. “Tadi kamu tanya apa ya?”

“Pulang yuk, sepi banget ini kantin.”

“Sepi!” kumemandang sekeliling yang masih banyak pengunjung yang hadir. “Iya,” jawabku pelan.

“Azizah sudah mampu mengubah paradigma yang membelenggunya. Sosoknya kini tampil memukau. Yeah… keyakinannya begitu kuat mengenai ketentuan yang di gariskan oleh-Nya. Berubah menjadi pilihannya. Sedangkan jalan yang telah aku pilih… ah… tak ubahnya seekor keledai yang bingung akan arah tujuan,” gumamku sepanjang perjalanan pulang. ***

[www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...