Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2012

Telah Terbit, Novel "Ustad Seumur Jagung" Karya Yasin Abiru Sabil

NOVEL USTAD SEUMUR JAGUNG Judul: Ustad Seumur Jagung (Novel) Penulis: Yasin Abiru Sabil Penerbit: FAM Publishing Cetakan: I, Agustus 2012 ISBN: 602-98158-9-X Harga: Rp. 55.700,- Pemesanan: 0812 5982 1511 Aji adalah seorang pemuda yang bercita-cita melanjutkan studinya ke Timur Tengah. Mesir dan seisinya telah melekat di benaknya sejak dia duduk di bangku MTs dan mengenal bahasa Arab. Tapi cita-cita kecilnya seolah terkikis ketika keluarganya memasukkan dia ke SMK setelah lulus dari MTs. Namun siapa sangka, di penghujung putih-abunya itu Allah berencana lain dengan pertemuannya kepada salah seorang pembina kerohanian Islam di sekolahnya yang memberinya info sebuah lembaga bahasa Arab dan Islam. Dan, dia pun dipertemukan dengan sebuah lembaga bahasa Arab strata D2 Program Persiapan Bahasa. Sebuah episode terindah pun terbingkai di penghujung semester kuliahnya di lembaga itu. Enam bulan terakhirnya, Aji dipertemukan dengan 60an santri boarding di salah satu SMP di Kota Bandung. Perte...

Pengumuman Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional FAM Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim. Hari ini, FAM Indonesia mengumumkan nama-nama penulis dan judul cerpen yang ditetapkan sebagai Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2012. Sejak lomba ini dibuka pada tanggal 23 April 2012 hingga ditutup pada 15 Agustus 2012 lalu, FAM Indonesia telah menerima sebanyak 895 naskah cerpen yang dikirim anggota FAM Indonesia yang tersebar di berbagai kota dan mancanegara. Ini event perdana tingkat Nasional yang digelar FAM Indonesia dengan sambutan yang luar biasa. Banyaknya naskah yang masuk itu, membuat Tim FAM Indonesia bekerja ekstra keras. Email FAM pun menumpuk dengan naskah cerpen dan puisi, di samping berkas pendaftaran (registrasi keanggotaan). Admin yang ditugaskan mensortir naskah yang masuk, memilah dan memilih per kategori lomba, masing-masing untuk cerpen dan puisi, serta menyerahkannya kepada Tim Juri yang ditunjuk untuk melakukan penilaian. Bisa disebut, siang malam Tim FAM Indonesia berkutat di depan komputer, di samping tetap memberikan ...

Pengumuman 25 Penulis & Judul Cerpen Bertema “Cinta Bernilai Dakwah” yang Lolos Seleksi Buku ke-2 (Update Kamis, 30 Agustus 2012)

Sahabat FAM Indonesia. Semoga hari ini suasana hati Anda sedang berbunga lantaran semangat baru yang menggelora. Seperti yang dijanjikan sebelumnya, pada hari ini, 30 Agustus 2012, FAM mengumumkan nama-nama penulis dan judul cerpen mereka yang dinyatakan lolos oleh Tim Kurator untuk menempati posisi BUKU KE-2 Antologi Cerpen FAM Indonesia bertema “Cinta Bernilai Dakwah”. Bila dalam daftar di bawah tersurat nama Anda, bersyukurlah karena keberuntungan (hoki) berpihak kepada Anda hari ini. Alhamdulillah. Sejak pengumuman antologi ini dibuka 1 bulan lalu, FAM menerima lebih seratusan naskah dari anggota dan non-anggota FAM Indonesia. Tim FAM bekerja keras membaca dan menyeleksi naskah yang sesuai tema. Sebagian besar cerpen bagus, tetapi yang dinyatakan lolos adalah yang terbaik dan sesuai tema yang diharapkan FAM Indonesia.

Bundel Surat Cinta

Oleh Aliya Nurlela Masa kanak-kanak, ketika itu masih duduk di kelas tiga sekolah dasar, seorang laki-laki teman satu sekolah mengirim surat kepadaku. Isinya? Wow, surat cinta! Sebagai anak kecil yang baru saja bisa menulis huruf tegak bersambung, aku merasa tak pantas mendapat kiriman surat itu. Aku menangis saat menerimanya. Bukan tangisan haru atau bahagia. Tapi tangis sebagai ekspresi rasa ‘terhina.’ Aku marah pada lelaki pengirim surat itu. Surat dengan tulisan yang tak rapi itu, langsung kumasukkan ke bawah kasur di kamarku. Aku enggan membacanya. Tanpa sepengetahuanku, kakak pertama yang laki-laki—waktu itu kakakku sudah kuliah—menemukan surat itu dan dengan entengnya mengibar-ngibarkan surat tersebut di hadapan kakak-kakakku yang lain. Ia berkata, “Ya ampun, anak baru lahir kemarin sudah ada yang naksir…,” ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak disambut gelak tawa kakak-kakakku yang perempuan. Bagi mereka mungkin lucu. Tapi bagiku, aku benar-benar malu dan meras...

Ulasan Cerpen "Gara-Gara Pilih-Pilih" Karya Rendra Pirani (Tangerang)

Cerpen ini bercerita tentang Rian, seorang siswa SMA yang suka pilih-pilih teman, meskipun itu hanya teman di dunia maya. Ia bahkan pindah sekolah karena merasa teman-teman sekelasnya, terutama yang wanita jelek. Ia pindah ke sekolah temannya hanya karena ia mendapat informasi jika di sana ceweknya ‘cakep-cakep’. Dari segi cerita, cerpen ini bagus. Kisah yang disajikan cukup unik dan mengena untuk kalangan remaja. Pesan yang tersirat dalam salah satu sisi cerita cukup bagus bahwa memang seharusnya kita tidak menilai seseorang dari wajah/penampilannya saja, apalagi hanya berpedoman dengan ‘profil picture’ di facebook. Jika jelek, kita tidak mau berteman, tetapi jika fotonya cantik atau tampan kita mau berteman.

Proyek Penerbitan Buku Antologi Cerpen “Cinta Bernilai Dakwah”

Bismillahirrahmanirrahim... Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia akan menerbitkan buku antologi cerpen perdana karya anggotanya. Namun proyek antologi ini juga terbuka untuk umum yang bukan anggota FAM Indonesia. Adapun tema yang diangkat dalam proyek antologi cerpen ini adalah “Cinta Bernilai Dakwah”, cinta yang maha luas, bukan cinta picisan, apalagi cinta monyet. Cinta dimaksud adalah cinta kepada sesama muslim, cinta kepada orangtua, cinta kepada guru, cinta kepada saudara yang berkekurangan, cinta kepada lingkungan dan tentu saja cinta kepada Allah, Tuhan Maha Pemilik Cinta. Kenapa antologi cerpen ini bertema cinta? Mengutip untaian syair Buya Hamka, sastrawan yang juga ulama itu, beliau berkata: “Seni tidak ada kalau cinta tidak ada. Apa sebabnya ada keindahan? Sebabnya ialah karena ada cinta. Dengan cinta alam diciptakan. Tiap awal surat Quran dimulai dengan “Bismillahirrahmanirrahim”. Di atas nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Itulah kunci rahasia cint...

Ulasan Artikel “Wajah Supremasi Hukum Indonesia” Karya Fadhly Ikhsan (Pekanbaru)

Sahabat yang baik, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah artikel berjudul “Wajah Supremasi Hukum Indonesia” karya Fadhly Ikhsan, anggota FAM Pekanbaru. Artikel ini mengangkat tema yang cukup menarik dan tema tersebut seperti tidak pernah usang. Tetapi penulis dalam menyajikan tulisan ini seolah terburu-buru, sehingga terjadi banyak kesalahan penulisan yang diakibatkan kurang ketelitian. Selain itu ada beberapa kesalahan yang berkaitan dengan EYD. Hal yang paling mendasar adalah penyajian tulisan dalam paragraf yang panjang dan mengandung beberapa pokok kalimat. Penyajian model ini selain mengaburkan makna, juga menyebabkan keengganan pembaca untuk menyimak isi secara keseluruhan karena akan menguras energi pembaca untuk melarutkan diri dalam paragraf panjang.

Profil Anggota FAM Indonesia: Ken Hanggara (Surabaya)

“Antara Main Sinetron, Model Iklan, dan Menulis” Ken Hanggara (IDFAM801M, anggota FAM Surabaya) adalah nama pena dari Erlangga Setiawan. Ia lahir di Sidoarjo pada tanggal 21 Juni 1991, merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Kota asalnya adalah Surabaya, namun kini ia berdomisili di Pasuruan. Ken kecil hidup dalam balutan cinta dan kasih sayang kedua orangtuanya. Rasa ingin tahu akan buku pelajaran milik kakaknya, membuat Ibunya tak sanggup lagi meredam ‘kenakalannya’. Maka, sejak berumur tiga tahun ia sudah bisa membaca beberapa huruf setelah diajari oleh Ibunya—meski terbata-bata. Dari buku warisan kakak tertuanya, serta beberapa buku cerita pemberian ibunya, Ken kecil menemukan hobi barunya. Hobinya yang lain adalah menggambar. Jadilah saat duduk di bangku taman kanak-kanak ia menyandang dua hobi sekaligus, dan sering menjuarai lomba melukis untuk anak-anak—baik itu tingkat kampung, sekolah, maupun kabupaten. Namun hobi menggambarnya perlahan hilang saat ia meng...

Membaca Hafney Maulana: Kumpulan Puisi “Ijab Kabul Pengantin”

Oleh Jendela Sajak Setelah tenggang antisipasi beberapa waktu, akhirnya buku puisi seorang sahabat lama, Hafney Maulana, sampai ke tangan saya. “Ijab Kabul Pengantin”, FAM Publishing, Kediri, Agustus 2012. Dalam buku mungil yang bertampilan manis itu terdapat 72 sajak Hafney; yang dikelompokkan ke dalam dua bagian, Seruling Jiwa dan Risalah Takdir. Buku itu pun dilengkapi kata pengantar tentang bagaimana ia melihat puisi, kekuatan dan pengaruhnya, bahkan tenaganya sebagai “panah” dakwah. Senang hati saya membaca sajak-sajak penyair yang telah saya kenal sejak lama itu. Catatan ini pun hanyalah sebuah apresiasi singkat yang sederhana yang tidak berniat menyebut-mengutip teori sastra apa pun [apalagi kalau hanya secara kategoris]. Saya memang memiliki bias dalam membaca sajak-sajak Hafney, tetapi itu justru merupakan hal yang menyenangkan bagi saya. Saya memang telah mengenalnya sejak lama dulu, akhir 1980an, ketika masih mahasiswa dan asyik berpuisi, walau pun kemudian setel...

Seminar Dahsyatnya Menulis Bersama Ketum FAM Indonesia di SMA Negeri 3 Batusangkar

BATUSANGKAR – Ikatan Alumni SMA Negeri 3 Batusangkar (Ikasatibasa) menggelar Seminar Kepenulisan yang diikuti 216 siswa sekolah itu. Acara akan berlangsung, Rabu (29/8), di Ruang Serbaguna Komplek Pendidikan Bukit Gombak SMA Negeri 3 Batusangkar. Menurut Koordinator Acara Seminar, Rahmizakia Rifka, Seminar Kepenulisan ini digagas oleh para alumni SMA Negeri 3 Batusangkar yang sangat ingin menebarkan “virus menulis” kepada adik-adiknya. “Seminar ini juga akan dihadiri oleh Kepala sekolah, wakil kepala, dan beberapa guru. Tentunya juga akan diramaikan oleh alumni SMA Negeri 3 Batusangkar,” ujarnya. Disebutkan, Ikasatibasa adalah sebuah nama bagi perkumpulan alumni SMA Negeri 3 Batusangkar. Ikasatibasa berarti Iikatan Alumni SMA Negeri 3 Batusangkar. Sampai saat ini, alumni SMA Negeri 3 Batusangkar sudah enam angkatan.

Hari Ini, FAM Konfirmasi Puluhan Teman Baru di Facebook

PULUHAN TEMAN BARU DIKONFIRMASI “AISHITERU MENULIS”, ADMIN FAM INDONESIA HARI INI. SEBAGIAN BESAR MEMINTA INFORMASI CARA BERGABUNG MENJADI ANGGOTA FAM INDONESIA. CARANYA SANGAT GAMPANG. BACA PANDUAN KEANGGOTAAN FAM INDONESIA DI SINI, KLIK http://famindonesia.blogspot.com/2012/07/panduan-dan-formulir-pendaftaran.html BILA ADA KENDALA, JANGAN SUNGKAN SILATURAHIM DENGAN MBAK ALIYA NURLELA (SEKJEN FAM) DI NO HP 0812 5982 1511 . INSYA ALLAH AKAN DIBERIKAN INFORMASI SEJELAS-JELASNYA. SELAMAT BERGABUNG DI WADAH KEPENULISAN NASIONAL YANG BERPUSAT DI PARE, KEDIRI, JAWA TIMUR. www.famindonesia.blogspot.com

Ulasan Cerpen “Pelangi Tiga Warna di Mataku” Karya Hamdi Alfansuri (Pekanbaru)

Sahabat FAM yang baik, hari ini kita mengulas cerpen berjudul “Pelangi Tiga Warga di Mataku” karya Hamdi Alfansuri, anggota FAM Indonesia dari Pekanbaru, Provinsi Riau. Secara umum, cerpen ini masih memuat sejumlah kekurangan dalam hal penulisan, baik kesesuaian dengan EYD maupun tata kalimat. Penulisan kata depan “di” masih banyak dirangkai dengan kata berikutnya, seperti pada kata:   “disini”           seharusnya       “di sini” “dimataku”     seharusnya       “di mataku” “disudut”         seharusnya        “di sudut” dan kata-kata lainnya yang serupa. Kata depan “di’ pada kata-kata di atas adalah kata tunjuk tempat, maka penulisannya harus dipisah dengan kata berikutnya. Berbeda dengan kata “dimakan” “diminum”, dll.

Profil Anggota FAM Indonesia: Nur Syamsudin (Semarang)

"Anggota Pertama yang Terbitkan Buku di FAM Publishing” Lahir di Semarang, 30 September 1988. Alumnus SMA Negeri 3 Semarang pada tahun 2006, yang kemudian lulus dari D III Akuntansi Pemerintahan, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Jakarta pada tahun 2009. Selama berkesempatan merantau di STAN, ikut serta menimba ilmu di Ma’had Tarbiyah Masjid Baitul Maal dan mengikuti kelompok mentoring ( halaqah ). Setelah lulus dari STAN, Allah mengamanahkan predikat ‘pelaksana’ pada salah satu kantor Kementerian Keuangan di Jakarta. Mengiringi waktu senggang selain bekerja, bergabung sebagai mahasiswa S1 Akuntansi di ABFII PERBANAS (Institut Keuangan Perbankan dan Informatika Asia) dan santriwan di Forum Halaqah Quran An Nashr. Sejak kecil Nur Syamsudin sudah bermain-main dengan imajinasi. Menggambar di lantai sewaktu belum sekolah, mengarang komik sewaktu SD, hingga melamunkan hal-hal yang berbau cerita dan kisah anak-anak. Sempat terinspirasi dengan sebuah penyakit jiwa b...

Mari Manfaatkan Potensi Diri

Oleh Aliya Nurlela Allah tidak sia-sia menciptakan makhluk-Nya. Masing-masing telah dibekali dengan kekuatan atau potensi yang ada pada dirinya. Termasuk pada hewan, telah dibekali dengan kekuatan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Cumi-cumi akan mengeluarkan cairan berwarna hitam, hingga menutupi pandangan pengganggunya. Seekor landak akan menegakkan duri pada seluruh tubuhnya saat terancam bahaya. Demikian pula kerang akan mengatupkan cangkangnya yang keras sebagai tempat berlindung. Kelemahan bagi seseorang sekaligus sebagai kekuatannya. Orang yang suka berterus terang, seringkali keterusterangannya itu menjadi kelemahannya. Ia tidak bisa menyimpan rahasia dan kurang pandai berdiplomasi. Tetapi, keterusterangan itu pula yang menjadikan ia kuat. Karena suka berterus terang, banyak posisi yang didapatkannya. Potensi seseorang kadangkala belum terlihat ke permukaan, masih diperlukan untuk menggali potensi tersebut. Bahkan, kadangkala untuk mengetahui potensi ...

Menulis, Belajar dari Alam

BELAJAR DARI ALAM Oleh Muhammad Subhan *) “Alam terkembang jadi guru”, demikian filosofi Minangkabau yang cukup populer. Artinya, alam memberikan banyak inspirasi kepada kita untuk belajar. Alam adalah guru paling bijaksana, ia selalu memberi, tidak suka memarahi, apalagi membenci. Nabi Ibrahim a.s., ketika mencari Tuhan, ia melihat bulan purnama yang bersinar terang di malam hari. Ibrahim menganggap bulan adalah Tuhan karena memberi penerangan di tengah gelapnya malam. Namun, ketika pagi datang menjelang, kemudian matahari terbit dengan sinarnya yang lebih terang benderang, kesimpulan Ibrahim pada bulan berubah, kemudian menganggap matahari itulah Tuhan yang maha besar. Apa yang diharapkan Ibrahim pada matahari ternyata tidak memberi kepuasan batin kepadanya tentang Tuhan. Sebab, ketika senja datang menenggelamkan matahari, Ibrahim pun berpikir mustahil Tuhan menghilang. Masa-masa pencarian Tuhan ini membawa Ibrahim pada pergulatan pemikiran yang sangat panjang. L...

Ulasan Puisi “Selangit Rindu” Karya Susi Susanti Idris (Kendari)

Sahabat FAM yang baik, hari ini kita mengulas puisi berjudul “Selangit Rindu” karya Susi Susanti, anggota FAM Indonesia di Kendari. Dalam salah satu artikel, ditulis Dimas Arika Mihardja, dinyatakan bahwa ukuran kualitas keindahan puisi itu dapat dikategorikan dalam beberapa aspek: 1. Ukuran Kesenangan Yaitu ketika kita membaca sebuah puisi ntuk mendapatkan hiburan ringan yang segar, untuk melepaskan pikiran sumpek, dan untuk memenuhi keinginan. 2. Ukuran intelligibility Yaitu ukuran kemudahan atau kesukaran memahami puisi yang digunakan untuk sebuah penilaian. Puisi yang bernilai tinggi memang memerlukan pemusatan pikiran dan pengerahan pengalaman batin serta wawasan keilmuan yang memadai tentang aspek-aspek puisi.

[Profil Anggota FAM] Nuril Anwar: “Duta Wisata yang Mahir Bahasa Inggris dan Rajin Menulis”

NURIL ANWAR Real De Sanggam, nama pena dari Nuril Anwar. Pemuda kelahiran Tebing Tinggi, 12 Juni 1988 ini tinggal di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Sekarang ia masih menempuh pendidikan Program S1 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP-PGRI) Banjarmasin. Anak pertama dari empat bersaudara ini sempat mengenyam kehidupan santri di Pondok Pesantren Modern Darul Istiqamah Barabai dari tahun 2006 hingga 2009, sebuah Pondok Modern alumni Pondok Modern “Darussalam” Gontor Ponorogo. Ia pun aktif sebagai tenaga pengajar di Pondok Pesantren Modern Darul Istiqamah Barabai dari tahun 2009 sampai sekarang sebagai guru bahasa Inggris. Belajar menulis puisi, cerpen dan novel secara otodidak sejak duduk di bangku SMP yang bernama SMP Negeri 2 Awayan. Mengisi hari-harinya dengan membaca, menulis, dan mengajar di Pon-Pes sekaligus bekerja sebagai staf keuangan po...

Pengiriman Piagam FAM Indonesia

PIAGAM FAM Sahabat FAM, hari ini FAM Indonesia telah mengirimkan PIAGAM PENGHARGAAN kepada peserta yang berpartisipasi dalam “Lomba Surat Terbuka Tentang Ide Kreatif” yang digelar FAM Indonesia bulan Juli 2012 lalu via email. Bagi sahabat-sahabat yang namanya tertera di bawah ini, silakan chek email masing-masing. Bila tak ditemukan dalam inbox buka juga SPAM, mana tahu kiriman mampir ke sana. 1. Dewi Putri Anggi (Pekanbaru). Email: dewiputrianggi@rocketmail.com 2. Retna Kusumawati (Bogor). Email: erkagis@gmail.com 3. Hamda Alfansuri (Pekanbaru). Email: h4everafansuri08@yahoo.co.id 4. Rahmat Sahri Ramadani (Bontang). Email: konc86@gmail.com 5. Moh. Fauzan (Lamongan). Email: fauzannevergiveup@gmail.com 6. Abi Yazid Bastomi (Nganjuk). Email: abiyazidbastomi@yahoo.com 7. Ma’arifa Akasyah (Kendal). Email: adarifadisini@hotmail.com 8. Najla Al Faiq (Malang). Email: bisma.annisa@ymail.com 9. Warno Adi Susilo (Wonogiri). Email: satriamadukara@gmail.com 10. Erlan...

Profil Anggota FAM Indonesia: Ma’rifa Akasyah (Kendal)

MA'ARIFAH AKASYAH Nama lengkapnya Ma’arifa Akasyah. Lebih sering dipanggil Rifa. Ia lahir di Kendal, pada tanggal 6 Mei 1995. Dari ayah bernama Ali Hikal dan ibu bernama Wiwik Umi Rosyidah. Ia tinggal bersama orang tua, seorang kakak, dan dua orang adik di Desa Penanggulan RT 01 RW 04 Pegandon Kabupaten Kendal. Rifa suka membaca buku sejak kecil. Tetapi, ketika tervonis minus, ia memutuskan untuk mengurangi frekuensi membacanya. Ia mulai beralih ke dunia pena sejak mondok di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Putri 1. Tulisan yang membuatnya kepincut dengan dunia tulis menulis berjudul “Ku Pinang Kau, Adikku” karya Laela Fitri Anis Syahroni dari Solo. Di SMA Negeri 1 Pegandon, minat menulisnya sempat mandeg. Hanya pernah mengikuti lomba menulis surat untuk bupati dan membantu kakaknya di lomba blog anti narkoba. Rifa menulis cerita pendek berjudul “Narko-Tika”. Di akhir kelas XI, ia ditawari untuk ikut lomba menulis artikel Badan Arpus tingkat Jawa Tengah. I...

Ulasan Cerpen “Ketika Bunda Telah Pergi” Karya Titi Haryati Abbas (Sinjai, Sulawesi Selatan)

Kali ini FAM Indonesia mengulas cerpen berjudul “Ketika Bunda Telah Pergi” karya Titi Haryati Abbas, anggota FAM Sinjai, Sulawesi Selatan. Cerpen ini bercerita tentang Dani, bocah 9 tahun yang diasuh bibinya karena ditinggal mati ibunya. Kadang ia merasa kesepian dan rindu ibunya, meskipun ia sudah punya ‘keluarga baru’. Bagaimanapun, ditinggal pergi oleh ibunda tercinta merupakan sesuatu yang berat, apalagi untuk Dani yang masih kanak-kanak. Ada beberapa kalimat yang kurang efektif yang digunakan penulis sehingga terasa kurang nyaman untuk dibaca. Misalnya pada kalimat kedua yang isinya, ‘Anak berumur kurang lebih 9 tahunan’, akan lebih baik jika kata ‘kurang lebih’ dihilangkan saja. Lalu pada kalimat ‘Ia bisa memastikan kalau tempat ini tidak pernah sama sekali dibersihkan’ yang terletak pada paragraf pertama. Kata ‘sama sekali’ lebih baik dihilangkan karena sudah diwakili oleh kata ‘tidak pernah’. Apabila masih ingin menambahkan juga bisa dengan menaruhnya setelah kata ‘dib...

Update Nama Penulis Buku ke-2 Antologi Cerpen FAM Indonesia (Jumat, 24 Agustus 2012)

Sahabat FAM Indonesia. Semoga hari ini suasana hati Anda sedang berbunga lantaran semangat baru yang menggelora. Pada kesempatan ini, FAM mengumumkan nama-nama penulis dan judul cerpen mereka yang dinyatakan lolos oleh Tim Kurator untuk menempati posisi BUKU KE-2 Antologi Cerpen FAM Indonesia bertema “Cinta Bernilai Dakwah”. Bila dalam daftar di bawah ini ada nama Anda, bersyukurlah karena keberuntungan berpihak kepada Anda hari ini. Alhamdulillah. Sebanyak 18 naskah dinyatakan layak terbit, 3 naskah dalam tahap editing Tim FAM dan berpeluang lolos, dan masih tersedia “4 (empat) bangku kosong” bagi sahabat yang ingin ikut dalam antologi ini. Tentu, “4 bangku kosong” itu akan menjadi rebutan, apalagi di penghujung deadline. Walau demikian, semuanya tetap memasuki tahap seleksi Tim FAM Indonesia. Hanya naskah terbaik yang akan menemui keberuntungannya. Berikut nama-nama penulis dan judul cerpen yang dinyatakan lolos seleksi untuk Buku ke-2:

Update Nama Penulis Antologi Cerpen FAM Indonesia

“FAM TERBITKAN 2 BUKU ANTOLOGI CERPEN” Sahabat yang baik, FAM Indonesia menerima banyak sekali cerpen yang dikirim ke email FAM untuk diikutkan dalam Antologi Cerpen bertema “Cinta Bernilai Dakwah”. Ini buku pertama karya bersama (antologi) yang akan diterbitkan FAM Publishing, divisi penerbitan FAM Indonesia. Banyaknya naskah yang masuk itu, mengharuskan FAM menerbitkan “2 (dua) Buku” untuk penerbitan perdana ini dengan tema yang sama. Hal tersebut juga sesuai harapan dari banyak anggota FAM Indonesia yang naskahnya dinilai layak oleh Tim Kurator untuk diterbitkan. Sampai hari ini, FAM telah menyeleksi sejumlah cerpen dari berbagai penulis di beberapa kota di Indonesia. Antologi ini akan membukukan 25 cerpen dari 25 penulis. Dengan demikian, bila dua buku total naskah 50 cerpen. Berikut nama penulis yang naskahnya dinyatakan lolos seleksi Tim FAM Indonesia:

Ulasan Puisi “Sayatan Rindu” Karya Vina Rohmatul Ummah (Malang)

Cinta memang suatu lautan yang tak pernah kering untuk kita arungi. Walau berbagai topan melanda, badai datang menerpa, tidak akan pernah jenuh kita melayangkan biduk, membentangkan layar, bergumul dan mencari sebuah arti cinta itu sendiri. Hingga pelabuhan pun menjadi tempat menepi, menambatkan sejenak riak-riak rasa dan berbagi dalam dekapan hati yang tertemui. Ya, bersyukurlah bila rasa cinta itu masih ada di dalam dada kita. Karena sejatinya cinta adalah sebuah anugerah yang tak terhingga yang ditanamkan dalam kalbu kita, oleh Sang Maha Pemilik Cinta itu sendiri. Dalam puisi “Sayatan Rindu” karya Vina Rohmatul Ummah ini, jelas cinta yang dimaksud adalah sebuah Keagungan Cinta dari makhluk kepada Khaliknya. Ini sangat jelas tergambar dalam pemakaian kata "Mu" yang ditulis dengan huruf kapital (huruf besar), walau bukan berada di awal kalimat. Sebuah pemakaian EYD yang tepat sekali dan sesuai aturan pemakaian huruf besar/kapital dalam kalimat. Kita simak ba...

Ulasan Puisi “Mereka Melulu” Karya Sunarsih (Lampung)

Hari ini FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Mereka Melulu” karya Sunarsih, anggota FAM Indonesia dari Lampung. Puisi ini sangat kontradiksi sekali. Sulit memang memahami apa yang dimaksud penulis dalam puisi ini. Semua rangkaian diksi-diksinya tidak memberikan sinyal yang jelas terhadap apa yang dimaksud dan pesan moral apa yang hendak disampaikan. Meski telah dibaca berulang-ulang, Tim Pengulas FAM Indonesia belum bisa memastikan siapa yang dimaksud dengan kata "Mereka" sebagaimana tertera dalam judul. Ada sedikit gambaran bila puisi ini sedikit berbau politis. Semacam bentuk kekecewaan terhadap penguasa yang sering lupa akan janji-janjinya dalam masa kampanye, sekadar bertujuan mengumpulkan simpatik warga dan memungut banyak suara. Bila telah menduduki tahta semua itu sering terlupa, hanya memperkaya diri semata.

Ingin Terkenal dan Kaya? Menulislah!

Oleh: Dianing Widya Yudhistira Mengapa Menulis? Pernahkah Anda memiliki keinginan untuk dikenal orang banyak, memiliki rumah sendiri, memiliki mobil bagus, juga jalan-jalan ke berbagai kota bahkan negara? Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan bekerja keras. Salah satunya dengan menulis. Mengapa? Menulis juga salah satu kegiatan yang menghasilkan uang, dan bisa dijadikan profesi. Artinya menulis bukan lagi sekedar hobi. Banyak penulis yang kemudian menjadi terkenal dan kemudian kaya raya. Kalau di Indonesia, kita mengenal Habiburrahman El Sirazy, Andrea Hirata, Ayu Utami, dan lain-lain. Di luar negeri, misalnya ada Dan Brown dan JK Rowlling. Sebelum menulis, nama-nama itu bukan siapa-siapa. Mereka bukan orang terkenal. JK Rowling, misalnya, sebelumnya hidup sangat sederhana. Untuk menghemat listrik di rumahnya, ia memilih menulis di kafe. Tapi, tahukah Anda berapa kekayaan JK Rowling kini?   Sungguh fantastis: US $ 1 miliar! Ia menjadi salah satu orang terkaya di...

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriyah

Sahabat semua, di penghujung Ramadhan ini saya mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri.” Sebagai manusia yang tidak luput dari salah, saya menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin. Baik kepada teman di dunia nyata atau yang tersambung melalui dunia maya. Kata “maaf” memang seharusnya tidak menjadi buah bibir pada akhir Ramadhan saja. Kata “maaf” harus selalu menyertai setiap langkah kita setiap saat. Membiasakan diri meminta maaf dan memaafkan kesalahan oranglain, harus menjadi ciri seorang muslim. Tidak berat, gengsi dan malu saat mengakui kesalahan yang diperbuat, lalu meminta maaf. Saling memaafkan itu akan melegakan kedua belah pihak. Hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan akan semakin baik. Saling menghargai, saling menjaga untuk berhati-hati dalam bersikap. Perbuatan salah terhadap sesama manusia yang mungkin kita lakukan setiap hari, lalu “dikumpulkan” dalam jangka waktu setahun. Menunggu Idul Fitri tiba, barulah bermaaf-maafan. Sebab, bermaafan pa...

Ulasan Cerpen “Gadis Penanti Ramadhan” Karya Dewi Putri Anggi (Pekanbaru)

Cerpen ini sengaja diulas pada bulan Ramadhan, sesuai dengan judulnya “Gadis Penanti Ramadhan.” Menurut penulisnya, cerpen ini merupakan cerpen yang terpilih sebagai pemenang dalam salah satu lomba cerpen di wilayah Riau. Cerpen ini bercerita tentang seorang gadis yang lumpuh karena suatu penyakit sehingga harus menghabiskan sisa umurnya di atas kursi roda. Ayahnya meninggal pada Ramadhan tahun lalu. Gadis ini menyusulnya pada Ramadhan tahun ini, sedangkan sang ibu mengikuti pada hari ke-27 Ramadhan. Cerpen ini mengalir dan nyaman untuk dibaca. Pemilihan kata dan teknik penulisannya juga bagus. Tidak ada masalah yang berarti dengan EYD. Hal ini membuktikan jika penulis bukan lagi “pemain baru” dalam dunia literasi. Kalaupun penulis adalah ‘new comer’, maka FAM mengangkat dua jempol untuk bakat yang luar biasa ini. Keunikan dalam cerpen ini adalah pengkutipan ayat suci Alquran. Hal ini bisa menjadi suatu keunggulan namun bisa juga menjadi bumerang yang akan mengurangi nil...

Menulis Itu Butuh Proses, Jangan Pernah Menyerah Apalagi Kalah

Oleh: Muhammad Subhan *) Saya mempunyai seorang ibu—yang ketika itu—pemarah. Dia paling tidak suka mendengar suara ‘tak-tik-tuk’ mesin tik tua ketika hasrat menulis saya tiba-tiba datang tidak diduga. Untuk menghargai perasaan ibu, kadang saya harus sembunyi-sembunyi di sudut rumah agar orang tua saya itu tidak mengetahui atau mendengar saya lagi menulis, tepatnya mengetik tulisan. Ya, begitulah ibu saya. Tapi dia adalah seorang ibu yang baik dan sangat penyayang kepada anak-anaknya. Mungkin, ketika itu ibu belum tahu apa manfaat dari pekerjaan saya menulis, yang akhirnya sekarang—setelah kebutuhan keluarga saya yang memenuhinya—ibu menikmati hasil jerih payah saya dari menulis. Alhamdulillah. Saya menulis sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Hampir setiap hari saya iseng ‘nongkrong’ di depan toko koran di dekat rumah hanya sekadar membolak-balik isi koran/majalah terbitan terbaru yang saya lihat. Tak jarang saya dimarahi si pemilik toko karena tidak memberikan ...

Profil Anggota FAM Indonesia Salmizul Fitria: “Pernah Jadi Kontributor Koran Nasional"

SALMIZUL FITRIA Salmizul Fitria lahir di Ranah, Sumatera Barat pada tanggal 11 Agustus 1986. Ia suka menulis cerita sejak masih sekolah dasar. Ibunya yang seorang petani—yang menurut Salmizul tak tahu tentang cita-cita—suatu hari memberi sebuah buku tebal. Buku tulis yang sudah dijilid, terdiri dari sisa-sisa buku bekas. Sebagian ada yang masih putih, dan sebagian sudah sangat kusam, namun masih kosong. Kulit buku itu berwarna merah. Salmizul menulis apa saja di sana. Mungkin kalau sekarang, orang menyebutnya jurnal. Sayang sekali, Salmizul tak tahu keberadaan buku itu sekarang. Namun ketika duduk di bangku MTs dan SMK, Salmizul Fitria yang biasa dipanggil Tia, tak pernah menulis, bahkan tak punya buku diary. Euforia   masa remaja seolah mematikan karakternya. Ia tak menulis, atau sekadar berkeluh kesah pada tulisan hingga semester tiga studi kuliahnya. Pada semester tiga ia bergabung dengan Surat Kabar Kampus “Ganto” UNP—Universitas Negeri Padang. Singkat cerita di...

Ulasan Cerpen “Alunan Suara Hati” Karya Laura Chrismadani (Tegal)

Kali ini FAM mengulas cerpen yang berjudul “Alunan Suara Hati” karya Laura Chrismadani (Tegal). Cerpen ini bercerita tentang seorang wanita yang putus dengan pacarnya karena tidak diberi ketegasan kapan sang pria akan melamar. Wanita itu lalu dijodohkan oleh ibunya dengan pria yang menjadi temannya selama kuliah. Dan akhirnya mereka pun menikah. Judul yang digunakan cukup bagus. Teknik penulisannya juga bagus, termasuk pemilihan katanya juga. Sayangnya, konflik dalam cerpen ini kurang terasa. Begitu juga dengan akhir cerita yang terasa kurang berkesan. Catatan dari FAM adalah mengenai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Masih ditemukan beberapa tulisan yang salah, misalnya penulisan ‘di’ yang seharusnya dipisah tapi malah digabung. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin bagus.

Lomba Cipta Cerpen & Cipta Puisi Nasional FAM Indonesia Resmi Ditutup

Tepat pukul 24.00 WIB malam ini, Rabu 15 Agustus 2012, Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi Nasional 2012 yang diselenggarakan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia resmi ditutup. FAM menerima ratusan naskah puisi dan cerpen karya terbaik para anggotanya yang tergabung di wadah ini. Antusiasme yang sangat luar biasa! Tim FAM Indonesia bekerja keras mensortir naskah yang masuk via email forumaishiterumenulis@yahoo.com yang kemudian nantinya dibagi kepada dewan juri yang ditunjuk dan diamanahkan memberikan penilaian objektif terhadap naskah peserta. Dewan Juri terdiri dari Ketua Umum, Sekjen dan penulis-penulis senior yang bergabung dalam Tim FAM Indonesia. Tahap penyeleksian naskah akan berlangsung mulai Kamis 16 Agustus 2012 hingga 30 Agustus 2012. Nama-nama para pemenang akan diumumkan pada tanggal 1 September 2012 lewat blog FAM Indonesia www.famindonesia.blogspot.com, KORAN-CYBER.com dan grup “Forum Aishiteru Menulis”. Penyerahan hadiah akan dilakukan pada tanggal 10 Sept...

Ulasan Puisi “Dingin” Karya Novita Suci (Ponorogo)

Sahabat FAM yang baik, kali ini FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Dingin” karya Novita Suci, sahabat kita dari Ponorogo yang juga anggota FAM Indonesia. Puisi ini hanya terdiri dari 3 bait 11 baris saja. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987: 68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). Pendapat ini sangat beralasan karena dalam beberapa karya puisi yang kita temukan, dan telah dipublikasikan, kita seolah bertanya kenapa penulis kadang menghiraukan aturan-aturan kebahasaan itu? Sebuah bentuk jati dirikah, tren yang sedang marakkah? Atau karena penulis memang belum mengetahui atau lupa dengan aturan kebahasaan yang berlaku. Yang ...

Ulasan Puisi “Alif Al Awali” Karya Hafney Maulana (Riau)

Sahabat FAM yang baik, hari ini Tim FAM Indonesia memberi ulasan untuk puisi berjudul “Alif Al Awali” karya Hafney Maulana, anggota FAM Riau. Puisi ini berjumlah lima bait 16 baris. Isinya sederhana tetapi butuh perenungan mendalam untuk memaknainya. Menurut Wikipedia, ensiklopedia bebas, “Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف ,) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tim FAM sengaja mengambil rujukan pengertian Sufi ini, terkait puisi yang akan diulas yang dianggap mempunyai warna puisi seorang sufistik. Kenapa dikatakan demikian? Karena semua diksi yang diuntai dalam puisi ini seolah mengarah ke dalam bentuk pendekatan dan pencarian Tuhan secara Magrifat. "Alif Al Awali", sebuah judul yang cukup da...

Panduan Penggunaan Tanda Petik, Tanda Petik Tunggal, Tanda Garis Miring, dan Tanda Penyingkat

Sahabat FAM, selamat pagi, semoga hari ini membuat kita lebih semangat dari hari-hari kemarin. Panduan penggunaan tanda baca di bawah ini sangat bermanfaat khususnya bagi penulis-penulis pemula yang sering menggunakannya di dalam tulisan. Mari kita pedomani bersama. A. TANDA PETIK ("...") 1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Contoh: "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!" Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia." 2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Ulasan Cerpen “Jakarta Bulan Desember” Karya Erlangga Setiawan (Surabaya)

Sahabat FAM yang baik. Hari ini FAM Indonesia mengulas cerpen sahabat kita Erlangga Setiawan (Ken Hanggara), anggota FAM Surabaya, Jawa Timur. Cerpen ini berjudul “Jakarta Bulan Desember”” “Jakarta Bulan Desember” bercerita tentang tokoh utama yang ingin menjadi penulis. Ia punya dua orang sahabat yang memiliki cita-cita yang sama. Nama tokoh utama baru diketahui di akhir cerita. Itupun dalam percakapan salah seorang tokoh, bukan penjelasan penulis sendiri. Penulis cukup mahir dalam menyusun setiap kalimatnya. Gaya tulisannya bagus dan nyaman dibaca. FAM menilai penulis cukup cerdas menyampaikan ceritanya. Kisah ini minim dialog, tapi justru di situlah letak kelebihannya. Banyak penulis, khususnya pemula, yang sering menampilkan dialog yang tidak perlu dalam cerita yang mereka buat. Bahkan dialog itu sebenarnya sudah dijelaskan dalam monolog yang telah dibuat sebelumnya. Itu sangat mengganggu dan membuat cerpen menjadi tidak mengalir lagi. Cerita jadi terasa kaku dan tidak ...

Ulasan Puisi “Jika Masih Ada Waktu” Karya Nuril Anwar (Balangan, Kalimantan Selatan)

Hari ini FAM Indonesia mengulas puisi karya Nuril Anwar, anggota FAM dari Balangan, Kalimantan Selatan. Puisi itu berjudul “Jika Masih Ada Waktu”. “Jika Masih Ada Waktu”, sebuah judul puisi yang selalu mengingatkan tentang pentingnya waktu. Karena waktu adalah nyawa kita, artinya sudahkah waktu dimanfaatkan dengan baik dalam kehidupan kita, karena umur kita juga dibatasi oleh waktu. Puisi ini dinilai masih ditulis dengan apa adanya, kurang adanya pengendapan untuk dapat menghasilkan puisi yang berbobot dan berjiwa, padahal idenya sangat bagus. Untuk menghasilkan sebuah karya berbobot dan berjiwa perlu proses yang matang. Kita lihat baris-baris dan tipografinya juga masih kurang memberikan kejutan cukup cair: //Kunci dari semuanya adalah waktu…/Jika masih ada waktu…/Harapan indah akan membantu../ Jika masih ada waktu…./Kesedihan akan berlalu….//

Profil Anggota FAM Indonesia: Soekoso Soedarmo

SOEKOSO SOEDARMO Nama lengkapnya Soekoso Soedarmo, lahir di Purworejo, 17 Juli 1949. Pemilik nama pena Soekoso DM ini terbilang anggota paling senior di wadah Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Walau demikian, ia tidak sungkan berbaur bersama penulis-penulis muda anggota FAM lainnya. Sebuah keteladanan yang sangat patut ditiru dari sosoknya yang aktif menulis sejak tahun 1970-an. Tulisan yang ditekuninya terutama puisi (pernah juga cerpen dan drama). Karya-karnya   dipublikasikan di media-media Jakarta, Semarang dan Yogyakarta, diantaranya Surat Kabar Sinar Harapan, Suara Karya, Suara Merdeka, Wawasan, Kedaulatan Rakyat, Republika , majalah Semangat, Horison , dan lainnya. Karyanya yang sudah dipublikasikan, antara lain: Antologi Puisi Tunggal berjudul “Bidakbidak Tergusur” (1987 - diresensi Majalah Sastra Horison ), “Waswaswaswas, Was!” (1996) dan “Sajak-Sajak Tanah Haram” (2004), dan masuk dalam lebih dari 20 Antologi Puisi terbitan berbagai kota, antara lain “Ne...

Tanda Elipsis, Tanda Tanya, Tanda Seru, Tanda Kurung, dan Tanda Kurung Siku

A. TANDA ELIPSIS (...) 1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus, misalnya untuk menuliskan naskah drama. Contoh: Kalau begitu... ya, marilah kita bergerak. 2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan, misalnya dalam kutipan langsung. Contoh: Sebab-sebab kemerosotan... akan diteliti lebih lanjut. Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat. Contoh: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati....

Profil Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

FAM INDONESIA FAM Indonesia berdiri tanggal 3 Maret 2012 di Pare, Kediri, Jawa Timur, INDONESIA. FAM Indonesia didirikan oleh: 1. Muhammad Subhan , penulis asal Padangpanjang, Sumatera Barat 2. Aliya Nurlela , penulis asal Malang, Jawa Timur Pengurus FAM Indonesia Pusat Ketua Umum: Muhammad Subhan Sekjen: Aliya Nurlela

Ulasan Puisi “Wajah Kuli Panggul Beras” Karya Arif Hifzul (Simalungun)

FAM kali ini mengulas puisi karya Arif Hifzul, anggota FAM Simalungun, Sumatera Utara, berjudul “Wajah Kuli Panggul Beras”. “Wajah Kuli Panggul Beras” adalah puisi realita kehidupan rakyat jelata yang ditulis apa adanya, enak dibaca dan mudah dipahami, tidak berbelit-belit, namun maknanya sangat luas: tentang hidup di Jakarta hanya berpenghasilan pas-pasan. Kaki langit kehidupan harus dijalani, potret kehidupan yang sangat memprihatinkan, wajah kuli panggul beras. Kita simak penggalan puisinya yang sangat menggugah jiwa: //Dengan berbekal tempe goreng/Ditemani dengan nasi kucing/Ku beli di gang rumah tuaku/Ku berjalan mengitari sudut kota Jakarta.// Puisi ini ditulis dengan sangat detail, memberikan gambaran sebuah kejujuran dan harga diri sebagai kuli dan sekaligus sebagai kepala rumah tangga yang menghidupi anak dan istrinya dengan mengandalkan sebagai kuli akan menyentuh segala aspek kehidupan sehingga penutup klimaks puisi ini cukup menarik:

Penggunaan Tanda Titik Koma, Titik Dua, Tanda Hubung dan Tanda Pisah

Sahabat FAM, berikut ini sedikit panduan penggunaan tanda titik koma (;), titik dua (:), tanda hubung (-) dan tanda pisah (–, —) yang tentunya telah dipelajari bersama sejak duduk di bangku SMP dan SMA. Remeh memang, tetapi bila menganggapnya sepele maka akan berakibat fatal bila salah penggunaannya dalam tulisan. Mari kita cermati bersama di mana saja penempatan tanda baca itu. A. Tanda Titik Koma (;) 1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Contoh: Malam makin larut; kami belum selesai juga. 2. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung. Contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.

Pengumuman untuk Warga FAM Indonesia

Sahabat FAM yang baik. Mengingat tugas-tugas Sekjen FAM, Mbak Aliya Nurlela begitu padat setiap hari, maka komunikasi seputar pengiriman formulir anggota, naskah lomba, naskah antologi cerpen, naskah ulasan anggota, konsultasi kepenulisan, dan naskah untuk diterbitkan di FAM Publishing, difokuskan pada satu pintu, yaitu lewat email: forumaishiterumenulis@yahoo.com atau forumaktifmenulis@yahoo.com . Tidak dikirim ke inbox “Aliya Nurlela”. Semua kiriman email akan dibalas oleh admin FAM Indonesia. Balasan silakan dichek di inbox email atau ‘mampir’ di spam. Bila dalam waktu 2 hari tidak ada balasan berarti kiriman email Anda belum masuk dan diharapkan mengirim ulang.

Panduan Penggunaan Tanda Koma (,) Dalam Tulisan

Sahabat FAM, tanda baca lainnya yang sering salah digunakan oleh penulis-penulis pemula adalah tanda koma (,). Berikut sedikit panduan tentang penggunaan tanda koma dalam tulisan sehingga tulisan Anda benar-benar rapi dan sesuai kaedah menulis yang baik dan benar. 1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan. Contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi. Contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan. 2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.