FAM Indonesia kemarin meminta pendapat sahabat-sahabatnya
tentang kejenuhan saat menulis. FAM mengajukan pertanyaan: “Pernahkah Anda
merasakan jenuh ketika menulis? Bila titik kulminasi jenuh itu tiba, apa yang
Anda lakukan? Apa yang menyebabkan Anda jenuh? Dan, apakah Anda akan mengubur
sedalam-dalamnya keinginan Anda menjadi penulis?”
Maka, inilah jawaban yang diterima dan semoga solusi yang
diberikan memberikan manfaat bagi penulis-penulis pemula yang sering mengeluh
ketika titik jenuh tiba:
“Kalau jenuh, aku biasanya langsung stop dulu nulis,
kemudian wudhu untuk menenangkan diri atau nggak main games. Ini cukup ampuh
untuk aku. ~ Yunita Syepriana
Pernah FAM. ketika aku telah capek kerja, konsentrasi hilang,
dan pada saat itu kejenuhan menulis seolah menangkapku. Lalu kejenuhan membisik
di telingaku, untuk meletakkan penaku dan menutup bukuku. ~ Melly Leena
Pernah. Saya pernah merasakan kejenuhan ketika menulis. Hal
itu disebabkan karena dua hal. Yang pertama karena kebanyakan ide
berputar-putar di kepala saya, yang kedua karena ide itu tidak terlitas sama
sekali. Aneh bukan? Setiap orang punya permasalahan masing-masing. Saya tidak
mengubur kejenuhan itu dalam-dalam. Waktu masih panjang. Ketika malam tiba
biasanya keinginan menulis baru muncul lagi. Saya keseringan menulis ketika
malam telah larut. Keheningan membantu saya menulis tanpa hambatan yang
berarti. ~DP Anggi, FAM790M Pekanbaru.
Menulis adalah hobi. Dan hobi adalah hal yang disuka atau digemari.
Jadi, jika rasa jenuh itu muncul, maka segera keluarkan jurus untuk
memusnahkannya. Kalau di dunia anak-anak biasanya ada Power Ranger. Namun di
duniaku (dunia menulis) ada Al Qur'an yang akan mensuport, memotivasiku untuk
tetap menggoreskan pena, supaya tidak ada kata bosan untuk menulis. Agar pena
kita tetap tergores. Hingga dapat benilai ibadah di mata Allah. Karena sesungguhnya
tulisanku dapat menjadikan aku lebih dekat dengan-Nya. ~ Asna Al Khansa
Tentu pernah merasa jenuh. Tapi bukan berarti hal tersebut
mendorongku untuk berhenti menulis. Biasanya saat jenuh, kusimpan pensil dan
kertasku, lalu pergi berlibur ke satu tempat—di mana pun di seluruh penjuru
bumi. Bukan naik pesawat, mobil, atau kendaraan lainnya. Aku tetap berada di
tempat duduk. Hanya pikiran dan imajinasiku saja yang pergi ke Paris, Mekah,
Stonehenge, Derbyshire, Barcelona, Uzbekistan dan lain sebagainya. Liburan
gratis menyegarkan ala diriku itu kulakukan dengan menikmati koleksi foto
tempat-tempat indah di seluruh dunia. Tak percaya? Percaya dan cobalah! ~ Ken
Hanggara, FAM801M-SURABAYA
Kalau aku bukannya jenuh. Malah penginnya nulis terus. He-he.
Tapi kan nulisnya di komputer, paling cuma ngerasa pusing sedikit. Kalau udah
begitu istirahatin mata dulu, alihin pandangan ke yang lain. Lihat pemandangan
di luar rumah misalnya. 'Kan masih pada hijau… ~ Intan Sayyidah Umyatur
Rahmania
Kalau ditanya pernahkah Anda jenuh dalam menulis? Tentunya
pernah. Apa yang membuatmu jenuh? Ya, mungkin tidak jauh berbeda dengan Kak
Anggi. Terlalu banyak ide yang terlintas akhirnya ragu ide mana yang harus
didahulukan dan ujung-ujungnya tidak jadi menulis karena sudah jenuh memikirkan
ide yang selalu berganti-ganti. Dan terkadang jenuh karena sudah capek
mencari-cari ide yang tidak muncul-muncul. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Biasanya
kalau sudah jenuh, tinggalkan alat tulis sebentar lalu berimajinasi mencari
ketenangan. Setelah pikiran fresh kembali baru deh menulis lagi. Kejenuhan
membuat berhenti menulis? Ya, jangan sampai lah. Jenuh 'kan masih bisa diatasi.
~Hamda Alfansuri, FAM795S, Pekanbaru
Kalau jenuh menulis, aku akan alihkan ke menjahit. Sembari
kaki bergoyang mengayuh mesin, dengerin murotal asyik.... Jahitan kelar jenuh pun
hilang. Saya masih ingat sewaktu sekolah dulu Mudhir sekolah saya sering bilang,
"Istirahat itu bukan berarti berhenti dan tidak melakukan apa-apa, tapi
perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain". ~ Andalusiana
Cordoba, FAM868 Trenggalek
Jenuh, satu kata yang sering menghampiriku. Jenuh dan
kekurangan inspirasi membuatku sering menatap layar komputer tanpa memberikan
reaksi apa-apa. Hal ini pernah saya tanyakan kepada para sahabat dan orang tua
di FAM melalui surat terbuka. Dan Ayahanda Muhammad Subhan pernah memberikan
solusi bahwa jika kita sudah sampai ketitik jenuh atau kehilangan inspirasi
menulis, alihkan kegiatan kita kehal-hal baru, misalnya rekreasi, main game,
atau pergi keperpustakaan mencari bahan referensi baru. ditambahkan lagi oleh
Bunda Aliya, nonton TV katanya. Dan sekian saran-saran dari Ayahanda dan Bunda
serta sahabat FAM lainmya, hal tersebut saya coba terapkan apabila sampai
kepada titik jenuh, dan alhamdulillah ternyata hal itu mujarab. Terimah kasih
FAM. ~ Abdul Kadir Halimin, FAM 350M, Sulawesi Selatan
Kayaknya saya belum pernah mengalami jenuh, apalagi jenuh
menulis. Mungkin ini dikarenakan waktu yang saya miliki sangat terbatas, entah
nanti kalau suda ada di Indonesia... tapi akan berusaha menyikapinya! ~ Ayunda
Prameiswari, FAM Arab Saudi
Kalau jenuh paling pas buat jalan-jalan dan nonton film.
Insya Allah jenuhnya hilang dan dapat inspirasi baru. ~Satria Nova, FAM
Surabaya
Iya, kadang jenuh datang tiba-tiba. Solusi paling tepat untuk
mengatasi jenuh adalah berhenti menulis sejenak dan mencari kesibukan lain di luar
menulis sementara waktu, sampai rasa jenuh itu memudar. ~Lia d'Espänå
Bà rcélönîëtã
Pernah jenuh tentunya. Ketika kegiatan lain memaksaku tak bisa
menulìs dan ide yang muncul mulai hilang. Akhirnya jenuh deh menulisnya. Solusinya
aku catat setiap ide dan kerangkanya dalam notebook, lalu menyelesaikan kegiatan
lain, setelah selesai mulai deh berimajinasi lagi. ~ Masrufah YH
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment