Skip to main content

Ulasan Puisi “Selangit Rindu” Karya Susi Susanti Idris (Kendari)


Sahabat FAM yang baik, hari ini kita mengulas puisi berjudul “Selangit Rindu” karya Susi Susanti, anggota FAM Indonesia di Kendari.

Dalam salah satu artikel, ditulis Dimas Arika Mihardja, dinyatakan bahwa ukuran kualitas keindahan puisi itu dapat dikategorikan dalam beberapa aspek:

1. Ukuran Kesenangan

Yaitu ketika kita membaca sebuah puisi ntuk mendapatkan hiburan ringan yang segar, untuk melepaskan pikiran sumpek, dan untuk memenuhi keinginan.

2. Ukuran intelligibility

Yaitu ukuran kemudahan atau kesukaran memahami puisi yang digunakan untuk sebuah penilaian. Puisi yang bernilai tinggi memang memerlukan pemusatan pikiran dan pengerahan pengalaman batin serta wawasan keilmuan yang memadai tentang aspek-aspek puisi.

3.Ukuran pragmatis

Seseorang mungkin saja tertarik pada sebuah puisi karena puisi itu mengungkapkan pengetahuan atau pengalaman baru (noveltry), atau sebaliknya ada seseorang yang tertarik pada puisi yang mengungkapkan sesuatu yang sudah dikenalnya, yakni sesuatu yang berada dalam pengetahuan dan pengalamannya.

4. Ukuran didaktis

Ukuran didaktis ini bersandar pada sebuah anggapan bahwa puisi yang indah dan berkualitas ialah puisi yang mampu memberikan nilai positif, yang menyampaikan pesan pembinaan moral dan kepribadian, serta meninggikan taraf kematangan pembaca.

5. Ukuran pelahiran (ekspresi)

Ukuran ini selalu dihubungkan dengan keaslian (orisinalitas) dan kejujuran.

6.Ukuran kebenaran

Puisi yang memiliki kebenaran ialah puisi itu mampu membayangkan atau mencerminkan kehidupan atau peristiwa kehidupan yang ada kebenaran dalam konteks ini ialah kebenaran yang ideal.

Demikian beberapa cuplikan dari beberapa pengamat dan pencita sastra untuk mengukur keindahan sebuah puisi.

Cukup luas memang, dan setiap kita punya kacamata tersendiri untuk memandang dari sudut mana ketika mengatakan kekaguman atas keindahan sebuah puisi.

Dalam puisi "Selangit Rindu" ini kita pasti akan merasakan sebuah keindahan saat menyelam kata demi kata, baris demi baris, yang menjadi satu kesatuan dalam sebuah puisi.

Baiklah kita coba mengukurnya dengan sebuah Ukuran Inteligibility.

Rasanya cukup pas kita memakai skala ini karena puisi ini selintas memang memerlukan pemusatan pikiran dan pengerahan pengalaman batin serta wawasan keilmuan yang memadai untuk dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya. Kita simak baris puisi berikut:

ketika malam kian sayu
melekatkan kemiskinan di kedua bahu
kita becermin pada larut
melumati kutuk dan rasa takut

Sebuah bait awal yang menggambarkan sebuah perenungan dari penulis saat keheningan menjadi tayangan kisah-kisah yang telah dan akan dilalui.

Ada semacam lecutan dari sebuah situasi yang dihadapi, untuk selalu tegar, pantang menyerah, dan tetap percaya akan sebuah perubahan yang lebih baik di masa datang.

Kita simak juga bait berikut ini:

namun ingatanku selalu gagal
mengecup kembali rambut-rambut keningmu
melewati lalang-ilalang
o, jalangnya laut
memucati bibirku
bibirmu gigil dengan warna ungu gincu
seandainya kau ada di sini
atau aku ada di situ
kita bisa saling rangkul
mencari suhu terhangat
dari selangit rindu

Sebuah catatan perjalanan hati akan seseorang yang menjadi pujaan sepertinya mulai tergambar di sini. Ya, masalah asmara memang adalah lautan inspirasi yang tak pernah kering kita gali, selalu saja rentetan kata-kata akan sering lancar ketika kita tuangkan dalam wadah aksara.

Bait ini sepertinya melukiskan sebuah "kebelum-berhasilan" untuk menyemai benih-benih asmara di taman hati yang berbunga-bunga.

Dan kata rindu begitu menikam seluas langit yang membiru.

Secara umum penulis cukup menyaring dan memadatkan diksi-diksi di setiap bait-bait puisinya. Satu hal yang bagus untuk menulis sebuah puisi. Yakin dengan semakin banyak tulisan yang dibuat, semakin mapan untuk melahirkan puisi-puisi yang berkualitas. Tentu juga kita mengharapkan keindahan itu juga dapat meresap pada pembaca dan penikmat sastra. Semoga.

Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT NASKAH PUISI YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

SELANGIT RINDU
Oleh Susi Susanti Idris

IDFAM899M Anggota FAM Kendari

ketika malam kian sayu
melekatkan kemiskinan di kedua bahu
kita becermin pada larut
melumati kutuk dan rasa takut

namun ingatanku selalu gagal
mengecup kembali rambut-rambut keningmu
melewati lalang-ilalang
o, jalangnya laut
memucati bibirku
bibirmu gigil dengan warna ungu gincu
seandainya kau ada di sini
atau aku ada di situ
kita bisa saling rangkul
mencari suhu terhangat
dari selangit rindu

membayang senyummu yang lengkung
lalu marahmu yang lengking
aku sekali lagi mesti mencium pesingnya kegagalan
atas usaha yang entah kapan kau
dan aku mulai
juga entah kapan selesai

asing
bagi dada kita yang baru saja menguning
aku mencoba diam
sekiranya, dadamu bisa lebih tenang
tetapi gejolak sudah amuk.
kita bahkan tidak lebih kuat dari sebatang rumput

menggapai-gapai langit rindu
kita merasakan jauhnya lapis ke tujuh
seandainya kau lebih banyak tahu
atau aku lebih sedikit mau
kutuk dengan sendirinya meluruh
sebab kau tanpa aku
dan aku tanpa kamu
semua bersorak
lalu duabelas tahun kemudian

hujan telah redam karam semua
jalan. menyamarkan horizon
kompas penantian para pemburu rindu
yang sepatunya masih basah air mata

kita memang gagal tapi bukan kekalahan
aku hanya menjaga tangan terkepal
sebab di telapak ini
telah kau tulis keikhlasan

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...