Skip to main content

Ulasan Puisi “Dingin” Karya Novita Suci (Ponorogo)

Sahabat FAM yang baik, kali ini FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Dingin” karya Novita Suci, sahabat kita dari Ponorogo yang juga anggota FAM Indonesia. Puisi ini hanya terdiri dari 3 bait 11 baris saja.

Geoffrey (dalam Waluyo, 19987: 68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik).

Pendapat ini sangat beralasan karena dalam beberapa karya puisi yang kita temukan, dan telah dipublikasikan, kita seolah bertanya kenapa penulis kadang menghiraukan aturan-aturan kebahasaan itu?

Sebuah bentuk jati dirikah, tren yang sedang marakkah? Atau karena penulis memang belum mengetahui atau lupa dengan aturan kebahasaan yang berlaku. Yang jelas suatu alasan tertentu pasti terkemukakan oleh penulis ketika kita bertanya kenapa begitu bila sudah diketahui?

Itulah hal pertama yang berkesan dan ingin disampikan sehubungan dengan puisi ini.

"Dingin..." kata yang muncul di baris awal kalimat. Dengan spasi yang sama dengan baris kalimat lainnya, kita tidak tahu apakah ini judul atau kalimat awal di bait itu.

Pemakain tanda " ... " yang muncul dua kali di sini dirasa kurang tepat, karena tanda elipsis (....) hanya dipakai dalam kalimat yang terputus atau bila ada kata/bagian kalimat yang dihilangkan.

Kesan selanjutnya adalah dalam pemakaian huruf kapital dan tanda titik di setiap akhir kalimat. Ini yang biasa berlaku dalam bentuk-bentuk tulisan yang sesuai EYD. Menulis huruf kapital di awal kalimat, dan satu kalimat itu selalu ditandai dengan sebuah titik. Nah, sebagaimana yang disampaikan dalam kalimat awal di atas ini, apakah ini suatu bentuk "Penyimpangan?" Kalau kita tidak punya alasan yang tepat untuk suatu yang kita pilih dan berbeda dari lazimnya, rasanya tak perlu kita menyimpang.

Dari segi isi puisi akan tergambarlah oleh kita semacam bentuk pencarian jati diri atau renungan terhadap lika-liku perjalanan hidup. Kita simak bait berikut ini:

saat ku mencari seberkas sinar namun tak jua terlihat
berlari dan terus berlari dalam naungan angin
berlari dan terus berlari dalam kejaran dosa

Pemakaian kata kiasan cukup bagus. Memperlambangkan suatu yang haq/kebenaran/hidayah, atau suasana taubat dengan sebuah "sinar". Sebuah pelarian yang tak mudah karena tak hanya sebuah usaha menuju dekapan kasih-Nya, tapi juga semacam bentuk perjuangan melawan semua godaan dosa-dosa.

Penulis menggambarkan perjuangan itu sebagai bentuk yang mesti ditempuh meski senggalan napas dan detak-detak jantung menjadi hal yang memutuskan.

Sebuah pesan moral yang baik sekali, agar sebuah husnul khatimah menjadi terminal akhir sebuah perjalanan.

Ada semacam penyesalan yang ingin digambarkan dalam puisi ini. Penyesalan ternyata adakalanya sesuatu yang perlu dilakukan agar kita dapat berkaca dan memperbaiki masa-masa ke depan yang masih tersisa.

ketika degup jantung mulai terasa lemah
hanya bersimpuh dalam sisa malam
mengusap ujung mata yang berurai penuh penyesalan
mengelus hati yang mulai sesak penuh kerinduan
aku ingin kembali

Bila sebuah pengakuan terhadap jalan kelam yang pernah tertempuh, berusaha untuk menggapai cahaya benderang, tidak akan kembali menempuh hitam yang pernah menyesatkan, sesungguhnyalah Dia Maha Penerima Taubat hamba-hamba-Nya.

Ini mungkin yang ingin digambarkan penulis di bait terakhir puisi ini.

Aku Ingin kembali.

Semoga, semoga kita akan kembali kepada fitrah yang suci. Amin.

Sedikit koreksian diksi, kata “nafas” pada baris ke empat seharusnya ditulis “napas” sebagaimana Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Selamat menulis. Tetaplah terus menulis.

Salam Aishiteru.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

DINGIN
Oleh Novita Suci

IDFAM895M Anggota FAM Ponorogo

saat ku mencari seberkas sinar namun tak jua terlihat
berlari dan terus berlari dalam naungan angin
berlari dan terus berlari dalam kejaran dosa

tak lekas berhenti semua ini memburu nafas,
saat detik terus berdentum...
menghitung sisa nyawa yang bertaruh maut.

ketika degup jantung mulai terasa lemah
hanya bersimpuh dalam sisa malam
mengusap ujung mata yang berurai penuh penyesalan
mengelus hati yang mulai sesak penuh kerinduan
aku ingin kembali

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

  1. Sebenarnya dingin itu masuk ke bait pertama. Alias lupa gak tak kasih judul.
    Hehehe
    :D
    Penafsirannya memang benar begitu.
    Terimakasih atas masukannya.
    :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...