Kali ini FAM mengulas cerpen yang berjudul “Alunan Suara
Hati” karya Laura Chrismadani (Tegal). Cerpen ini bercerita tentang seorang
wanita yang putus dengan pacarnya karena tidak diberi ketegasan kapan sang pria
akan melamar. Wanita itu lalu dijodohkan oleh ibunya dengan pria yang menjadi
temannya selama kuliah. Dan akhirnya mereka pun menikah.
Judul yang digunakan cukup bagus. Teknik penulisannya juga
bagus, termasuk pemilihan katanya juga. Sayangnya, konflik dalam cerpen ini
kurang terasa. Begitu juga dengan akhir cerita yang terasa kurang berkesan.
Catatan dari FAM adalah mengenai EYD (Ejaan Yang
Disempurnakan). Masih ditemukan beberapa tulisan yang salah, misalnya penulisan
‘di’ yang seharusnya dipisah tapi malah digabung. FAM berharap penulis terus
berlatih agar kualitas tulisan semakin bagus.
Teruslah berkarya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM
INDONESIA]
ALUNAN SUARA HATI
Oleh Laura Chrismadani
IDFAM890U Anggota FAM Tegal
Hembusan angin malam seakan menyapu wajahku. Aku masih diam
membeku. Tak terasa air mata keluar dari bola mataku yang indah. Kata-katanya
tajam menghujam jantungku. Baru kusadari betapa egoisnya dia. Adri, biasa aku
memanggilnya. Seorang pria yang selama ini telah menemani hari-hariku. Mengisi
hatiku dengan puisi cinta. Kurasa sekarang semuanya hanya semu. Tak ada
kata-kataku yang bisa membuatnya menurunkan nada suaranya. Dia berlalu
meninggalkanku dengan amarah yang besar. Kutatap dia sampai menghilang dari
pandanganku. Putus, itulah kata terakhir yang kudengar ditelingaku. Mungkin
firasat mama benar tentangnya. Sudah tiga tahun aku dan Adri bersama, tapi tak
sekalipun Adri mengatakan ingin melamarku. Sementara usiaku sudah menginjak
angka dua puluh lima. Tak ada lagi yang bisa kupertahankan. Kulangkahkan kaki
dan bersiap untuk pulang ke rumah. Bersiap dengan rencana baru mama yang ingin
menjodohkanku. Bersiap untuk mengenal pria itu. Bersiap untuk menerimanya
menjadi suamiku.
Kulihat mama sedang menungguku di teras. Pandangan matanya
tertuju padaku. Kekuatiran muncul karena anak gadisnya juga belum pulang ke
rumah. Segera kubuka pintu pagar besi perlahan. Mama langsung menghampiriku.
Mama melihatku datang dengan mata sembab. Kupeluk mama dengan erat.
"Kurasa mama benar, Adri tak sebaik yang kupikirkan.
Aku meminta Adri melamarku, tapi dia malah marah karena merasa belum siap. Aku
merasa terbuang dan tak dihargai, ma" tangisku meledak. Mama menghiburku
seperti biasanya.
"Kasih ibu sepanjang masa, Tia. Dan mama akan selalu
menyayangimu, kamu tidak akan merasa terbuang dari mama. Mama tidak ingin kamu
hanya sekedar pacaran. Mama hanya ingin ada yang menjaga dan melindungimu"
hibur mama.
"Baiklah ma, mulai sekarang, aku akan menuruti nasehat
mama. Aku akan belajar mengenalnya untuk menjadi suamiku" kataku.
"Alhamdulilah, mama tahu kamu adalah anak yang
berbakti, sekarang kita masuk ke dalam yuk, mama siapkan teh hangat
untukmu" ajak mama. Sepeninggal papa setahun yang lalu, membuat aku dan
mama harus berjuang untuk hidup. Kami menjalankan toko kue bersama-sama.
Keinginan terbesarku adalah membahagiakannya. Mungkin dengan menerima pilihan
mama adalah salah satu kebahagiannya.
Hari ini adalah hari minggu. Hatiku sudah terlanjur sakit
untuk bisa mengingat Adri. Jadi selama ini, aku hanya sebagai temannya pelipur
lara. Semua kesedihannya selalu kutampung. Bahkan saat dia melamar ke banyak
perusahaan, aku selalu menyemangatinya. Kuingat ekspresi kegembiraannya, saat
dia akhirnya diterima bekerja di salah satu perusahaan ternama. Kupikir saat
itu, tidak akan lama lagi dia melamarku. Sayangnya, semua hanya anganku saja.
"Tia.." panggil mama mengagetkanku. Mama masuk ke
kamarku. Dan seperti biasa, mama masih terlihat cantik. Jilbab biru sudah
menghias di kepalanya pagi ini.
"Kamu siap-siap, sebentar lagi calon suamimu akan
datang ke sini, mama harap kamu mau berdandan yang cantik" katanya.
"Iya ma, aku tak akan mengecewakan mama", jawabku
lirih.
Suara mobil kudengar dari kamar. Kuintip di balik jendela
kaca, sebuah mobil Yaris berhenti di depan rumah. Seorang lelaki keluar dengan
membawa parcel buah ditangannya. Aku segera mengenakan jilbabku dan kuoleskan
lipstik di bibirku. Mama sudah memanggilku untuk menemuinya. Aku bergegas
menuju ruang tamu dan kulihat dia tengah berbincang dengan mama.
"Nah, ini dia..., mama rasa kalian sudah saling kenal.
Nak Tommy dulu satu jurusan denganmu" kata mama melihat ke arahku.
"Tommy ??!" tatapku padanya seakan tak percaya
"Apa kabarmu, Tia. Kamu tambah cantik" katanya
sambil berdiri. Lalu mama meninggalkan kami berdua.
"Penampilanmu sekarang berbeda" tatapku. Badannya
tegap, kumis tipis menghias di atas mulutnya dan penampilannya lebih rapi.
"Waktu sudah banyak berlalu, Tia. Aku sekarang bekerja
di Perusahaan Otomotif. Tapi kurasa gajiku cukup untuk hidup kita berdua"
jawabnya percaya diri dan duduk kembali.
"Jadi, kamu benar melamarku ? mengapa ?" tanyaku
heran.
"Aku mencintaimu sejak kita kuliah dulu. Kamu gadis
yang cantik, jadi banyak pria yang menyukaimu. Saat itupun kamu sudah pacaran
dengan Roy, kan. Aku masih ingat semuanya. Untuk itu, aku berkata pada diriku
sendiri. Aku harus menjadi orang sukses, baru aku akan mencarimu dan
mengutarakan isi hatiku. Aku juga tahu saat ini, kamu adalah kekasih Adri. Aku
selalu mengikuti perkembanganmu. Harus kupastikan bahwa kamu belum
menikah" . Aku terpana mendengarnya. Sebesar itukah cinta Tommy padaku.
Kuingat dia dulu seorang kutu buku. Hobinya ke perpustakaan. Tak heran jika dia
harus memakai kacamata. Dan kami selalu bertemu di perpustakaan, karena kami
mempunyai hobi yang sama. Memang sih, aku pernah menangkap basah dia mencuri
pandang padaku.
"Kamu sudah tahu aku sedang dengan Adri, tapi kamu
malah melamarku". Aku dibuatnya bingung.
"Karena dia tidak cepat melamarmu. Kata orang, selagi
belum ada janur kuning melengkung, dia belum menjadi milik siapapun. Aku baru
saja tahu dari mamamu, kalau kalian sudah putus. Aku yakin, tidak secepat itu
kamu melupakannya. Maka itu, aku tidak akan memaksamu, aku hanya akan memberimu
cinta yang nyata dan tulus" lanjutnya bersahaja.
"Apa kamu mau menikah denganku ?" tanyanya lagi
mengagetkanku. "Sudah enam tahun, aku memendam perasaanku".
"Apa aku punya pilihan ?" tanyaku lagi
"Tentu saja, aku ingin kamu mengikuti alunan suara
hatimu. Cinta pasti bisa tumbuh dengan berjalannya waktu. Cintaku natural tanpa
rayuan", tegasnya. "Cintaku penuh tanggung jawab, kita bisa menikah
kapan pun kamu siap" tatapnya. Kali ini kuberanikan diri menatapnya. Aku
ingin melihat dengan jelas detail wajah calon suamiku. Mata kami berpandangan.
Kulihat alisnya yang tebal, membuat tatapan matanya semakin tajam.
"Kamu bisa melihatku dengan detail, kalau kita sudah
menikah nanti" katanya membuatku malu.
Tak membutuhkan waktu lama untuk membuatku menerima
lamarannya. Mama benar, aku telah menemukan suami yang sangat bertanggung
jawab. Segera kumatikan komputerku saat kudengar suara mobil memasuki halaman.
Kusambut suamiku dengan senyum menghias bibirku. Kecupan manis selalu mendarat
di keningku setiap akan berangkat maupun pulang kantor. Aku sudah mulai hafal
dengan aroma tubuhnya.
Saat ini kulihat dia terlelap di sampingku. Aku bangun
menatapnya yang sudah tidur. Biarkan aku memandangmu berjam-jam saat kamu
tidur, suamiku. Dimana kamu sudah memandangku dari jauh selama enam tahun
lamanya, batinku.
"Apa hanya saat tidur kamu selalu memandangku?"
katanya mengagetkanku. Tiba-tiba suamiku membuka matanya dan duduk memandangku.
"Mas, belum tidur ya ?" tanyaku malu.
"Mau sampai kapan kamu memandangku saat tidur ?"
"Jadi selama ini mas tahu ya..?" aku benar-benar
malu dibuatnya
"Tentu saja, aku hanya pura-pura tidur. Aku ingin tahu
apa yang kamu lakukan ketika aku tidur" tatapnya sambil membelai rambutku.
Aku memandang wajahnya.
"Terima kasih sudah menjadi suamiku. Terima kasih sudah
dengan sabar menungguku. Terima kasih sudah membiarkanku mengikuti alunan suara
hatiku" kataku.
Jemarinya ditempelkan pada mulutku. Mencegahku mengucapkan
kata-kata. Tangannya yang kokoh menarikku dalam pelukannya. Suara jangkrik
mulai terdengar. Ternyata malam sudah semakin larut. Tak ada lagi suara keluar
dari mulutku. Kurasakan malam ini adalah malam yang indah.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
subhanallah.. karya yang penuh hikmah :)
ReplyDeleteyth Penulis: Teruslah berkarya, sebuah karya fiktif yang bisa memberi hikmah untuk hidup nyata
ReplyDelete