Sebagaimana yang kita tahu puisi juga dapat digolongkan
berdasarkan zamannya. Dalam bentuk puisi lama kita akan menemukan puisi-puisi
dalam bentuk mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, syair dan talibun. Dalam
puisi lama itu masih terikat dengan aturan-aturan seperti:
Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris dan
Irama
Sedangkan dalam bentuk puisi baru bentuknya lebih bebas
daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Dalam puisi "Telaga Air Mata", nampaknya kekuatan
dan keindahan puisi ini sengaja menonjolkan persajakan (rima) di setiap
bait-baitnya. Kita simak bait berikut:
Air mataku jatuh
terurai menjelma
telaga
Anggun jiwamu runtuh
tercerai menjelma
semesta
Mengapa mesti mencinta
bila enggan terluka
Mestikah mesra
merengkuh
bila terbangun
terjatuh
Dua bait puisi di atas kita bisa menyimpulkan persajakan
a-b-a-b pada bait pertama dan persajakan a-a-b-b untuk bait ke dua.
Apakah kita bisa menyimpulkan puisi ini termasuk jenis
pantun?
Sepertinya begitu karena permainan diksinya lebih memfokuskan
pada permainan bunyi-bunyi akhir tiap kalimatnya.
Seorang penulis puisi, unsur- unsur itu memang menjadi suatu
pencarian tiap kalimat yang ditulis agar muncul dengan sendirinya untuk membuat
puisi itu terasa lebih indah.
Tak dipungkiri memang dalam puisi-puisi baru atau puisi
kontemporer masih banyak kita temukan permainan bunyi dalam puisi. Dalam puisi
lama yang berbentuk pantun tiap-tiap barisnya berisikan sampiran dan isi.
Apakah puisi “Telaga Air Mata” ini pada baris-barisnya juga
begitu? Ternyata kita tidak melihat kalimat yang lepas sebagai sampiran, tapi
lebih mendekat kepada satu kesatuan pesan dan isi yang disampaikan atau
dicurahkan.
Ya, kita bisa menganggap puisi ini sebagai curahan hati
penulisnya terhadap rasa cinta yang ditemuinya dalam hidup. Warna religius
terasa lebih kental dan cinta yang dimaksud sepertinya rasa cinta yang dalam
kepada Sang Khalik.
Selain curahan hati, penulis juga menyampaikan pesan kepada
kita agar selalu berpegang teguh dan tidak lupa kepada Sang Maha Pencipta dalam
menjalani perjalanan hidup yang memang sementara.
Menarik dan sangat menyentuh sekali tiap-tiap untaian kata
yang disusun, karena sarat dengan pesan-pesan moral dan agamais. Pilihan
diksinya menarik, ditulis dengan EYD yang baik pula.
Teruslah menulis karena dengan seringnya menggoreskan
perasaan dalam kata-kata kita akan semakin terlatih dan punya warna sendiri.
Salam Aishiteru.
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT PUISI
KIRIMAN PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Telaga Air Mata
Oleh Dito Anurogo
IDFAM750U caKacab FAM
Palangkaraya
Air mataku jatuh
terurai menjelma telaga
Anggun jiwamu runtuh
tercerai menjelma semesta
Mengapa mesti mencinta
bila enggan terluka
Mestikah mesra merengkuh
bila terbangun terjatuh
Nirwana dambaan manusia
Neraka bukan ilusi
Hakikat cinta rahasia
Harkat romansa abadi
Berharap insan berduka
Berdekap Tuhan bersuka
Merpati bermahkota embun
Mentari bertahta anggun
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment