Skip to main content

Ulasan Puisi "Telaga Air Mata" Karya Dito Anurogo (Palangkaraya)

Sebagaimana yang kita tahu puisi juga dapat digolongkan berdasarkan zamannya. Dalam bentuk puisi lama kita akan menemukan puisi-puisi dalam bentuk mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, syair dan talibun. Dalam puisi lama itu masih terikat dengan aturan-aturan seperti:

Jumlah kata dalam 1 baris
Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris dan
Irama

Sedangkan dalam bentuk puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Dalam puisi "Telaga Air Mata", nampaknya kekuatan dan keindahan puisi ini sengaja menonjolkan persajakan (rima) di setiap bait-baitnya. Kita simak bait berikut:

Air mataku jatuh
terurai menjelma telaga
Anggun jiwamu runtuh
tercerai menjelma semesta

Mengapa mesti mencinta
bila enggan terluka
Mestikah mesra merengkuh
bila terbangun terjatuh

Dua bait puisi di atas kita bisa menyimpulkan persajakan a-b-a-b pada bait pertama dan persajakan a-a-b-b untuk bait ke dua.

Apakah kita bisa menyimpulkan puisi ini termasuk jenis pantun?

Sepertinya begitu karena permainan diksinya lebih memfokuskan pada permainan bunyi-bunyi akhir tiap kalimatnya.

Seorang penulis puisi, unsur- unsur itu memang menjadi suatu pencarian tiap kalimat yang ditulis agar muncul dengan sendirinya untuk membuat puisi itu terasa lebih indah.

Tak dipungkiri memang dalam puisi-puisi baru atau puisi kontemporer masih banyak kita temukan permainan bunyi dalam puisi. Dalam puisi lama yang berbentuk pantun tiap-tiap barisnya berisikan sampiran dan isi.

Apakah puisi “Telaga Air Mata” ini pada baris-barisnya juga begitu? Ternyata kita tidak melihat kalimat yang lepas sebagai sampiran, tapi lebih mendekat kepada satu kesatuan pesan dan isi yang disampaikan atau dicurahkan.

Ya, kita bisa menganggap puisi ini sebagai curahan hati penulisnya terhadap rasa cinta yang ditemuinya dalam hidup. Warna religius terasa lebih kental dan cinta yang dimaksud sepertinya rasa cinta yang dalam kepada Sang Khalik.

Selain curahan hati, penulis juga menyampaikan pesan kepada kita agar selalu berpegang teguh dan tidak lupa kepada Sang Maha Pencipta dalam menjalani perjalanan hidup yang memang sementara.

Menarik dan sangat menyentuh sekali tiap-tiap untaian kata yang disusun, karena sarat dengan pesan-pesan moral dan agamais. Pilihan diksinya menarik, ditulis dengan EYD yang baik pula.

Teruslah menulis karena dengan seringnya menggoreskan perasaan dalam kata-kata kita akan semakin terlatih dan punya warna sendiri.

Salam Aishiteru.
TIM FAM INDONESIA

[BERIKUT PUISI KIRIMAN PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Telaga Air Mata
Oleh Dito Anurogo

IDFAM750U caKacab FAM Palangkaraya

Air mataku jatuh
terurai menjelma telaga
Anggun jiwamu runtuh
tercerai menjelma semesta

Mengapa mesti mencinta
bila enggan terluka
Mestikah mesra merengkuh
bila terbangun terjatuh

Nirwana dambaan manusia
Neraka bukan ilusi
Hakikat cinta rahasia
Harkat romansa abadi

Berharap insan berduka
Berdekap Tuhan bersuka
Merpati bermahkota embun
Mentari bertahta anggun

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...