Cerpen ini sengaja diulas pada bulan Ramadhan, sesuai dengan
judulnya “Gadis Penanti Ramadhan.” Menurut penulisnya, cerpen ini merupakan
cerpen yang terpilih sebagai pemenang dalam salah satu lomba cerpen di wilayah
Riau.
Cerpen ini bercerita tentang seorang gadis yang lumpuh
karena suatu penyakit sehingga harus menghabiskan sisa umurnya di atas kursi
roda. Ayahnya meninggal pada Ramadhan tahun lalu. Gadis ini menyusulnya pada
Ramadhan tahun ini, sedangkan sang ibu mengikuti pada hari ke-27 Ramadhan.
Cerpen ini mengalir dan nyaman untuk dibaca. Pemilihan kata
dan teknik penulisannya juga bagus. Tidak ada masalah yang berarti dengan EYD.
Hal ini membuktikan jika penulis bukan lagi “pemain baru” dalam dunia literasi.
Kalaupun penulis adalah ‘new comer’, maka FAM mengangkat dua jempol untuk bakat
yang luar biasa ini.
Keunikan dalam cerpen ini adalah pengkutipan ayat suci
Alquran. Hal ini bisa menjadi suatu keunggulan namun bisa juga menjadi bumerang
yang akan mengurangi nilai positif dari keseluruhan cerita, tergantung siapa
yang membaca dan menilainya. Ada sebagian orang yang suka dengan cara ini, tapi
sisanya ada yang justru antipati. Hal ini harus menjadi bahan pertimbangan yang
disesuaikan dengan target pembaca dan di mana cerpen ini akan dipublikasikan.
Sebenarnya, untuk menyiasati perkara ini bisa dengan
menerjemahkan kandungan yang terdapat dalam Alquran ke dalam suatu cerita
sehingga yang muncul nanti adalah saripati, bukan induknya. Kita bisa mengambil
contoh cerpen yang ditulis oleh Asma Nadia. Lihatlah karyanya, yang cenderung
mengkonversi apa yang ada dalam kitab suci dalam bentuk cerita dan hikmah. Dan
kita tahu bagaimana tulisannya yang bisa membuat orang menangis itu. Maka
jangan heran jika beliau menjadi salah satu penulis terbaik di negeri ini.
Cerpen ini minim dialog, dan itu merupakan pilihan yang
tepat. Secara keseluruhan cerpen ini bagus. FAM berharap penulis terus berlatih
agar kualitas tulisan semakin meningkat.
Semangat berkarya!
Salam aishiteru.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH
CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Gadis Penanti
Ramadhan
Oleh Dewi Putri Anggi
IDFAM790M Anggota FAM
Pekanbaru
Yayasan Bunda—sebuah rumah sederhana di sebidang tanah yang
berukuran cukup luas untuk bocah bermain-main sesuka hatinya. Hembusan angin
membuat jilbabku yang lebar malambai seperti bendera berkibar. Angin kali ini
membawa hawa panas karena hujan tak kunjung turun beberapa minggu terakhir.
Hawa panas membuat bulir keringat jatuh dan tertahan oleh rambut halus milik
kulit yang menjadi lapisan pelindung di bawahnya. Sungguh Indah penciptaan
manusia yang begitu sempurna dibuat oleh-Nya.
“(12) Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari
suatu saripati (berasal) dari tanah (13) Kemudian kami jadikan saripati itu air
mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (14) Kemudian air mani itu
kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”.(QS. Al-
Mu’minuun 23 : 12-14).
Wangi semerbak bulan indah sebentar lagi akan menyapa. Hanya
menunggu hitungan jam saja ketika jam berdetik dan jantung berdetak, Ramadhan
sudah di depan mata. Pasar sudah mulai ramai karena sebelum hari pertama
Ramadhan di desaku selalu ada kebiasaan yang unik. Balimau Kasai—mandi dengan
air rebusan bermacam-macam bunga yang wangi, jeruk purut, daun pandan, dan
akar-akar wangi lainnya. Memang sudah menjadi tradisi yang turun temurun
adanya.
Aku bersyukur karena aku masih bisa bertemu dengan Ramadhan
tahun ini. Menjadikan aku sebagai seorang muslimah yang masih berusaha mencari
jati diri. Orang bilang—lahir itu bahasa inggrisnya birth, mati bahasa
inggrisnya dead, lihatlah awal huruf masing-masing bahasa inggris itu. B dan D
yang diantara nya ada huruf C. C untuk Choice yaitu pilihan. Aku sekarang
sedang memilih untuk hidup di atas kekuranganku, memilih untuk menjalankan
skenario kehidupan di dunia fana.
Aku tertegun di bawah pepohonan rindang. Angin menghembuskan
nafasnya membuat jilbab lebar ini lagi-lagi seperti bendera yang berkibar di
puncak tiangnya. Aku melipat kaki, menyikukan tangan kanan, meletakkan dagu di
atasnya, tangan kiri menemani tempurung lutut yang kurus. Aku tak mampu lagi
berjalan, hanya menyiku lutut itu sudah sangat luar biasa rasanya. Melihat
bocah yayasan bermain tali aku ingin sekali ikut bermain. Karena masa kecilku
jauh dari kata menyenangkan, jauh dari kata kebahagiaan, namun di dalamnya
tersemat rasa syukur yang masih ada berjuta nikmat tersimpan.
Adzan Ashar berkumandang, masih dalam bisu aku memutar kursi
roda yang sudah 5 tahun menemaniku. Tidak pernah mandiri, itu satu kalimat
sederhana yang patut dilayangkan padaku. Setiap hari ibu membantuku untuk
melakukan segala hal tanpa terkecuali, sekalipun saat mata ingin melampiaskan
lelahnya dengan menyelam ke alam mimpi. Saatnya aku beribadah, berkomunikasi
transendental—bentuk komunikasi yang terjadi antara manusia dengan Tuhannya,
Sang Pencipta yang tentu saja tidak dapat dilihat secara kasat mata, hanya
dapat dirasakan dan diresapi melalui firman-firman-Nya yang terdapat dalam
kitab suci Al-Qur’an atau segala ciptaan-Nya di alam semesta ini.
Bumi yang bulat beredar mengelilingi matahari sesuai
orbitnya dengan kecepatan yang konstan. Isi bumi yang dihuni oleh manusia memiliki
kelebihan-kelebihan dibanding planet-planet yang lain. Hutan yang hijau, barang
tambang yang tersimpan dalam perut bumi, udara yang diperlukan, air yang
berlimpah, dan masih banyak lagi rizki yang Allah limpahkan bagi manusia di
muka bumi ini. Dengan kasih sayang yang telah Allah berikan itu, tentu tidaklah
pantas apabila kita tidak merasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah
berikan kepada manusia.
Aku masih ingat, sebuah vonis dijatuhkan kepadaku tepat
ketika aku berusia 13 tahun. Vonis itu membunuh segenap impian dan harapanku
untuk dapat bermain dengan teman sebayaku. Ketika itu, upacara senin. Suaraku
hilang dari keramaian paduan suara yang mengiringi Sang Merah Putih sesaat
setelah darah merah mengalir dari hidung yang nafasnya tak henti beriring
asma-asma Allah. Aku jatuh pingsan. Aku dibawa ke rumah sakit terdekat karena
ini sudah terjadi berkali-kali setahun belakangan. Ketika terbangun sebuah
pelukan hangat mengisi rongga-rongga yang kosong dan menyusupi jiwa hampa tanpa
seorang ayah yang sudah lama tiada.
Bingung. Hening. Hanya ada suara nafas yang berkejar-kejaran
dengan detak jantung antara aku dan ibu. Lama sekali pelukan itu melekat,
terasa basah pundakku. Aku mendorong ibu pelan, melihat lekat ke wajahnya yang
sangat cantik. Aku menghapus air mata ibu dan kembali memeluknya. Saat itu aku
hanya ingin ibu merasa tenang dan nyaman berada di dekatku. Baru kali ini aku
melihat ibu menangis seperti itu, satu hal yang tak dapat dipungkiri, selalu
ada tangis ibu walau senyumnya selalu mengelabui luka yang bersemayam mengisi
relungnya. Jiwanya kesepian sejak ayah meninggalkan kami setahun yang lalu.
Potret buram kehidupan pun pernah merajai ibu. Namun ibu sadar bahwa ia masih
memiliki aku, terutama Sang Maha Pencipta.
Seorang perawat muda dan cantik masuk ke kamar tempat aku
berkasih-kasih dengan ibu. Ibu meninggalkanku dengan sebuah senyuman dan
anggukan kecil. Aku yang tak biasa berdiam mengikuti langkahnya perlahan. Aku
terhenti ketika mendengar isak suara yang ku kenal di sebuah ruangan. Aku
mendekati ruangan itu dan menempelkan daun telingaku ke pintu. Dari situlah
awal mula aku tahu mengapa aku sering pingsan dan mimisan.
Waktu berlalu. Usiaku berpacu dengan penyakit yang
melelehkan sejuta impian dan harapan yang telah ku susun rapi menjadi puzzle
kehidupan. Aku tetap sama, Ramadhan kali ini sama seperti tahun-tahun
sebelumnya, berada di atas kursi roda. Sama seperti langit masih memerah ketika
kemarin senja dan matahari tidak terdiam dalam rotasi.
***
Tinggal bersama ibu di sebuah yayasan yang didirikan semasa
ayah masih hidup telah membuatku merasakan apa arti kehilangan dan memiliki.
Ayah pernah mengatakan kepadaku, ‘kita tidak akan tahu apa arti memiliki
sebelum kita merasakan apa arti dari kehilangan’. Saat mengingat itulah aku baru
sadar, aku harus lebih dewasa menjalani hidup ini, harus lebih dewasa daripada
usiaku sendiri. Aku harus kuat melihat ibu yang selalu menangis usai mengadu
kepada Yang Maha Kuasa di sepertiga malam-Nya. Bahkan semuanya ku lakukan
persis di atas hati yang telah mati setelah vonis itu menghantui segenap saraf
di sekujur tubuhku.
Hari pertama Ramadhan. Seperti tahun lalu, kami berdua
memilih kembali ke rumah peninggalan ayah untuk merasakan sisa-sisa kebahagiaan
Ramadhan yang dulu. Sahut-sahutan pemuda desa membangunkan warga untuk segera
sahur. Aku membuka mata namun masih samar-samar terasa. Aku memanggil ibu untuk
menaikkanku ke kursi roda. Namun aku terjatuh karena mata ini ku pikir belum
bekerja sama dengan saraf lainnya. Ibu kembali menaikkan ku, mendorong kursi
roda ke dapur.
Sesekali aku ingin menyeduh teh hangat untuk ibu, menyiapkan
masakan lezat, dan membangunkannya dari tidur ketika semua telah ku persiapkan.
Namun ibu tidak pernah mengizinkanku melakukan itu. Setelah selesai ibu
mendorong kursi rodaku ke meja makan untuk sahur pertama di bulan Ramadhan. Ibu
tidak lupa mengingatkanku agar membaca niat puasa terlebih dahulu. ‘Nawaitu
souma godhin 'an adaa i, fardhi syahri Ramadhaana fardlu lillahi ta'ala.’
Selepas subuh aku ingin sekali menulis sesuatu untuk ibu.
Namun ada yang lain kali ini, aku merasakan penglihatanku mulai berkurang.
Inikah cara penyakit itu menggerogotiku? Aku acuh, aku ikhlas menjalani
semuanya. Aku kembali menulis surat itu dengan sepenuh hati. Aku menggenggam
surat itu di tangan, memutar kursi roda untuk pergi ke luar rumah menyaksikan
fajar yang berganti subuh. Subuh hilang mendapati pagi dan matahari terbit dari
peraduan.
Di seberang jalan aku melihat sosok seseorang, seperti ayah.
Aku mendekati orang itu dengan memutar kursi roda. Semakin dekat rasanya
semakin aku percaya jika itu adalah ayah. Aku terus memacu kursi rodaku. Namun
semuanya menghilang ketika hantaman keras menyapu harapanku mendapat pelukan
hangat ayah di pagi itu. Aku mendengar suara ibu berteriak memanggil namaku.
Ibu berteriak berulang-ulang, mendapatiku dalam pelukannya yang telah bersimbah
darah. Ternyata yang ku dapat pagi itu bukan pelukan ayah, tapi pelukan hangat
ibu. Ibu mengambil secarik kertas yang ku genggam. Surat itu berlumuran darah,
berdesir tajam di telinga ibu saat pelukan itu tak henti menemani detak jantung
ibu yang takut kehilanganku.
Detak jantungku mulai lelah memacu, mataku, pendengaranku,
semuanya membeku dengan iringan nafas terakhirku dengan sebuah kalimat tauhid.
“ Laa ilaaha illallah…”.
Allah menyayangiku. Tidak memanggilku melalui penderitaan
yang panjang karena penyakit itu. Angin yang berhembus mengatakan bahwa ibu
telah membaca isi suratku.
“Ibu, maafkan anakmu. Aku tahu selalu ada tangismu yang
selalu kau sembunyikan dariku. Aku tahu hatimu erosi merasakan ujian datang
bertubi-tubi. Aku tahu kau selalu ingin melakukan yang terbaik untukku. Aku
tahu jika kita orang yang ‘punya’, ibu akan membawaku kepada dokter yang
terhebat di dunia ini untuk mengobati penyakitku. Namun aku sadar diri pula
bahwa kita bukan orang yang memiliki banyak harta. Bu, sakit ini akan menguji
kesetiaan kita untuk selalu memuji asma-Nya. Ibuku, jangan bersedih. ‘laa
tahzan inallaha ma'an...’, aku percaya akan janji Allah karena janji Allah itu
selalu benar bu. Seperti yang tertuang dalam Surat Al'insyirah, yang artinya
‘setelah kesulitan ada kemudahan’. Ibu, aku mencintaimu karena Allah.”
Ramadhan kali ini ternyata berbeda. Ramadhan tahun lalu ayah
meninggalkan aku dan ibu. Ramadhan tahun ini aku yang meninggalkan ibu sendiri.
Tersiar kabar yang dibawa hembusan angin, bahwa kematianku masih misterius. Ada
yang mengatakan bahwa aku bunuh diri, ada yang mengatakan sebuah truk barang
menabrak tubuh kurus kering ini dan menyeret jauh kursi rodaku. Kenyataan pahit
itu membuat ibuku sakit, suratku yang berdarah sudah kering di genggamannya.
Ketika adzan maghrib berkumandang di Ramadhan ke 27, Allah memanggilnya untuk
berkumpul bersama aku dan ayah. Berbuka bersama disini, di Jannah-Nya.
“ Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian
benar-benar akan mati”. (QS. Al- Mu’minuun 23:15)
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
semangat nji,,
ReplyDeletebanyak orang yang sayang ma nji..
ana yakin suatu saat nanti nji pasti bisa mewujudkan mimpi2x nji..
ana ukhibukifillah ya ukhtii..:)
keep fighting for u..