![]() |
| SALMIZUL FITRIA |
Namun ketika duduk di bangku MTs dan SMK, Salmizul Fitria yang
biasa dipanggil Tia, tak pernah menulis, bahkan tak punya buku diary. Euforia masa remaja seolah mematikan karakternya. Ia
tak menulis, atau sekadar berkeluh kesah pada tulisan hingga semester tiga
studi kuliahnya.
Pada semester tiga ia bergabung dengan Surat Kabar Kampus “Ganto”
UNP—Universitas Negeri Padang. Singkat cerita di sana ia belajar banyak dan
beransur-ansur menemukan minat dan bakat dirinya. “Ganto” mengajarkan banyak
hal kepadanya, tidak hanya tentang tulis menulis tetapi juga tentang “menemukan
jati diri” dan kepercayaan diri.
Ia menulis banyak hal, namun tak semua bisa diterima redaksi
dan terbit. Banyak dari tulisan itu yang dikomentari, diedit, lalu hanya
tinggal satu paragraf saja yang layak dibaca orang lain. Ia merasa tak berbakat,
kecuali pada puisi. Setiap puisi yang ia ajukan, mereka tak berkomentar banyak.
Lalu berkat saran teman-teman di “Ganto”, Tia memberanikan diri untuk mengirim
karyanya ke media lokal. Sekali dua kali tak terbit, ia tak menyerah. Akhirnya
media menerbitkan juga.
Tulisan pertamanya yang diterbitkan suratkabar lokal berjudul
“Autis”, diterbitkan pada kolom Critical
U. selanjutnya menyusul beberapa tulisan lain berupa puisi, pada Minggu 24 Agustus
2008. Ada sekitar lima puisi dengan judul Mengurai
Sandi-Sandi, 27 April, Esok dan Selalu,
Ded.., Ladosa, kemudian menyusul Keahlian
atau Sekadar Impian, pada Minggu 7
September 2008, Musuh Tersayang (Teenlit Remaja, 21 September 2008), Cerdasi Cinta (Artikel Remaja, Singgalang 28 September 2008), Sisi Lain Andy Flores Noya (Resensi, Singgalang, 9 November 2008).
Saat itu selain aktif menulis di koran daerah, ia lebih
mengutamakan tugas di Ganto, ia masih
aktif menulis berita, atau mengkotribusikan tulisannya, atau bahkan mengurus
managemen Ganto. Kebetulan saat itu
dipercaya sebagai Kepala Penelitian Dan Pengembangan Manusia. Katanya tak logis
bila menjadikan ini alasan untuk tak menulis saat itu, tapi begitulah
kenyataanya.
Tahun 2009 ia menulis lagi, Teenlit Suara Hati Della, menyusul artikel remaja dalam rubrik
Gokil, Terpaksa Backstreet. Pernah
suatu ketika Surat Kabar Nasional Media
Indonesia menewarkannya menulis di Halaman Rostrum dan ia terlibat di dalamnya. Saat itu ia menulis tentang
organisasi mahasiswa yang ada di UNP (Media
Indonesia, Selasa 13 November 2007), mencoba lagi menulis di Rostrum Media Indonesia, pada tahun
2009, waktu itu ia menulis profil Meiriza Paramitha, junior kecilnya yang
sangat ahli di bidang desain. Pada Mei 2009 ia menulis lagi di Singgalang, puisinya dipercaya mengisi
kolom Puisi pada halaman Estetika (24
Mei 2009) dengan judul Lihat, Aku dan Egoku, Perajut, Berkhianat, Pasra, Kembali,
Patah. Mei 2010 kembali mengisi Rubrik Puisi, pada halaman Estetika Singgalang, dengan judul Kepagian, Perjalanan, Kapuk, 20 Juni.
Tia juga pernah mencoba mengikuti Kompetisi Penulisan Karya
Sastra Tingkat Universitas. Puisinya dengan judul Menunggu: Ladosa dan Ruang Sempit, menjadi salah satu dari lima
puisi terbaik dan dibukukan dalam Oase
(2009).
Ada beberapa tulisan yang klipingnya hilang ketika Gempa
Sumbar 2009. Tia tak ingat semua. Ia pindah ke kota Pekanbaru dan berdomisili
di sana hampir dua tahun lamanya. Selama itu pula ia berhenti menulis.
Teman-teman yang masih aktif menulis sering menanyakannya “di koran mana menulis
sekarang”, atau “bukunya sudah sampai di mana?” Ia mengemukakan alasan klasik, “Saya
tak punya ruang lagi untuk itu, saya tak ada komunitas di sini.” Komentar dari
teman-temannya, itu terlalu berlebihan dan Tia dianggap hanya mencari alasan.
Tia mengakui dalam hati membenarkan bahwa itu hanya mencari alasan dan intinya
ia merasa malas untuk menulis.
Terakhir ia mendapat tawaran menulis dalam buku Potongan Tangan di kursi Tuhan, Kumpulan
Cerpen 25 Penulis Muda Sumatera Barat (terbit 2011). Ia merasa kebiasaan
buruknya adalah jarang memeriksa inbox
facebook, undangan tersebut terbaca setelah deadline terlewatkan. Dan Tia pun marah pada dirinya sendiri. Ia
pun hanya bisa marah tanpa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya ia membaca
informasi tentang Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, sebuah wadah kepenulisan
Nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Ia tertarik dan ia ingin
punya komunitas yang dapat membimbingkan dan saling belajar. Ia ingin belajar
lagi dan akan terusn belajar. Ia ingin memberikan sesuatu yang bernilai sejarah
kepada orang-orang di sekitarnya.
[sumber: famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment