"Anggota Pertama
yang Terbitkan Buku di FAM Publishing”
Lahir di Semarang, 30 September 1988. Alumnus
SMA Negeri 3 Semarang pada tahun 2006, yang kemudian lulus dari D III Akuntansi
Pemerintahan, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Jakarta pada tahun 2009.
Selama berkesempatan merantau di STAN, ikut serta menimba ilmu di Ma’had
Tarbiyah Masjid Baitul Maal dan mengikuti kelompok mentoring (halaqah). Setelah lulus dari STAN, Allah
mengamanahkan predikat ‘pelaksana’ pada salah satu kantor Kementerian Keuangan
di Jakarta. Mengiringi waktu senggang selain bekerja, bergabung sebagai
mahasiswa S1 Akuntansi di ABFII PERBANAS (Institut Keuangan Perbankan dan
Informatika Asia) dan santriwan di Forum Halaqah Quran An Nashr.
Sejak kecil Nur Syamsudin sudah bermain-main
dengan imajinasi. Menggambar di lantai sewaktu belum sekolah, mengarang komik
sewaktu SD, hingga melamunkan hal-hal yang berbau cerita dan kisah anak-anak.
Sempat terinspirasi dengan sebuah penyakit jiwa bertajuk ‘schizophrenia’, sampai-sampai
terkadang menyebut diri sebagai ‘schizy’ karena bermunculannya tokoh-tokoh
cerita yang diciptakan, tetapi selalu gagal di-komik-kan dan dieksekusi dalam
wujud penceritaan panjang lebar. Alhasil, semua inspirasi dengan berbagai
tokoh-tokoh imajinernya mengendap di pikiran sembari tetap menjalankan
aktivitas sehari-hari.
Di STAN, dengan ‘aura’ pesantrennya melalui
berbagai organisasi dan kepanitiaan, diakuinya benar-benar menyejukkan hati,
menempa ketakwaan dirinya, bahkan meminimalisasi pergerakan imajinasinya.
Puncaknya, adalah berkembangnya minat dan bakat menulis di tingkat 3 (semester
5), di mana aktivitas non-kampus sudah berkurang, dialihkan pada penumpahan
imajinasi ke blog, bervisikan harapan ‘semoga bisa menulis tugas akhir
perkuliahan dengan lancar’.
Pada semester 6, karya tulis pertamanya
dibukukan bertemakan Akuntansi Perpajakan.
Tetapi euforia menulis ternyata belum mau berhenti. Masa tunggu
penempatan kerja, dimanfaatkannya untuk menempa ‘pembiasaan’ menulis. Termasuk
ketika magang di satu kantor, dengan terpaksa mengikutkan kata hatinya untuk
menulis, lebih tepatnya; ketidakterimaan suasana kantor yang materialistis
membuat hati merespon tangan untuk menulis.
Dari sini, muncullah judul cerpen “Kecamuk Hati”
yang cukup menggemparkan rekan-rekan seangkatannya. Ia ingat salah satu
komentar mereka; “Membaca cerpenmu membuatku menjadi ogah makan.”
Sejak itulah, muncul perasaan pada dirinya bahwa
menulis itu laksana membawa pedang bermata pena, menerabas segala
ketidakbenaran, menjunjung tinggi-tinggi nilai kebenaran, meninggikan
kalimatullah (kala itu, visualisasinya; seorang Abu Dujanah yang diamanahi
pedang dari Rasulullah SAW, kemudian merangsek ke barisan depan pasukan musuh
dalam Perang Badar Kubra).
Selalu ingin menulis sambil mengikutkan hati;
menangis sambil menulis, tertawa sambil menulis, emosi sambil menulis, sedih
sambil menulis. Hingga akhirnya, mustahil menulis tanpa hati. Oleh karena itu,
mencoba menghidupkan SOP (Standard Operating
Procedure) bahwa sebelum menulis, perlulah menundukkan ruhiyah dengan
ketaatan, entah itu wudhu, membaca Quran, maupun shalat. Tujuannya tidak lain
adalah meraup barakah-Nya, agar tulisan yang lahir berbobot dan mendapatkan
keridhaan-Nya, rahmat-Nya, dan berkah-Nya.
Tentunya ia berharap berkah yang datang, setelah
bergabung dengan Forum Aktif Menulis (FAM). Sebuah forum yang membuat hatinya langsung
tertarik karena visi-misi yang diusung sama dengan keyakinannya, yakni da’watu bil qalam; kita berdakwah sambil
menulis (bukan menulis sambil berdakwah).
Tahun 2012, Allah memberikan kesempatan kepadanya
untuk mengemas 12 cerpen bertemakan ‘analogi/permisalan hikmah’ dalam wujud
Kumcer “Cermin Cahaya.” Alhamdulilah kumcer ini dinilai pihak FAM Indonesia layak
untuk diterbitkan. Yang kemudian diolah dan diterbitkan FAM Publishing pada
tanggal 1 Agustus 2012. Kumcer ini menjadi karya pertama dari anggota FAM yang
diterbitkan FAM Publishing. Ia juga bersyukur bisa mendapatkan endorsement
dalam bukunya dari Ketum dan Sekjen FAM.
Komentar Ketum dan Sekjen FAM dalam back cover bukunya:
“Nilai-nilai Ilahiyah banyak terdapat dalam
cerpen-cerpen Cermin Cahaya ini.
Siapapun yang ingin mendapat kebajikan hidup, selayaknya buku ini dibaca.
Teruslah Nur Syamsudin mengeksplorasi tema-tema kehidupan.” ~Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia
“Kumpulan cerpen ini berisi cerpen-cerpen yang
sarat dengan pesan moral. Penulis tidak sekadar menyajikan cerita dalam setiap
cerpennya, tetapi sekaligus menyisipkan pesan yang mengandung hikmah. Dakwah bil qalam seperti misi FAM Indonesia,
akan terasa sekali dalam kumcer ini.” ~Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia
Bukunya sudah bisa dipesan sejak tanggal 8
Agustus 2012. Sebuah niat yang mulia, ia bernazar menyedekahkan 20 persen keuntungan
dari penjualan buku ini untuk Rumah Quran Bintaro (Rumah Tahfidz Quran)
Tangerang Selatan.
Selain itu, cerpennya yang berjudul, “Buncah
Dakwah Dua Amanah” lolos dalam seleksi proyek antologi cerpen Cinta bernilai
Dakwah yang digagas FAM Indonesia tahun ini. Ia bersyukur FAM telah memberinya
banyak peluang dan mengantarkannya menjadi seorang penulis Islami.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment