Skip to main content

Ulasan Puisi “Mereka Melulu” Karya Sunarsih (Lampung)

Hari ini FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Mereka Melulu” karya Sunarsih, anggota FAM Indonesia dari Lampung.

Puisi ini sangat kontradiksi sekali. Sulit memang memahami apa yang dimaksud penulis dalam puisi ini. Semua rangkaian diksi-diksinya tidak memberikan sinyal yang jelas terhadap apa yang dimaksud dan pesan moral apa yang hendak disampaikan.

Meski telah dibaca berulang-ulang, Tim Pengulas FAM Indonesia belum bisa memastikan siapa yang dimaksud dengan kata "Mereka" sebagaimana tertera dalam judul.

Ada sedikit gambaran bila puisi ini sedikit berbau politis. Semacam bentuk kekecewaan terhadap penguasa yang sering lupa akan janji-janjinya dalam masa kampanye, sekadar bertujuan mengumpulkan simpatik warga dan memungut banyak suara. Bila telah menduduki tahta semua itu sering terlupa, hanya memperkaya diri semata.

Ini tersimpulkan bila kita menyelami bait puisi berikut ini:

Tapi,
Tak kunjung ada yang padam
Mereka tetap kukuh, kondang dan sejahtera
Dimana letak nasionalisme ini?
Merajuk tak pernah nampak dan nyata
Mulut bagai hanya sebongkah seruan belaka

Sebagai pemerhati dari sebuah keadaan di lingkungan, penulis puisi ini cukup tajam melukiskan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang berwenang dengan sebuah kebijaksanaan.
Ini cukup dirasakan setelah memahami bait berikut ini:

Kami ada
Kami mencoba dan terus mencoba
Memerhati kalian, memerhati mereka
Tapi, mereka bersulang bagai burung diatas binary
Apa ini dunia saat ini?
Berubah tak pasti, kendur dengan sendiri
Prinsip yang redup, memupuk untuk memburuk tetap hidup

Ya, situasi yang menggambarkan kekecewaan, pemberontakan, dan semangat untuk tetap bertahan dalam terpaan hidup dan kenyataan yang jauh berbeda dari sebuah yang terjanjikan, semakin jelas kita rasa ketika membaca bait-bait selanjutnya hingga akhir.

Memang, banyak sekali penulis mencoba menyamarkan maksud tulisannya dalam sebuah puisi. Tapi bukan berarti pembaca tidak punya penafsiran terhadap apa yang ditulis. Biar saja penafsiran itu akan berbeda setiap yang menilainya, karena salah satu untur puisi memang hendaknya mampu memancarkan makna yang pragmatis. Seperti sebuah gelombang radio yang dipancarkan, pendengar akan berusaha menangkap sinyal-sinyal itu dengan menyetel hingga lebih jelas dan pas. Walau tak selalu jernih dan jelas apa yang diterima.

Begitulah puisi, sebuah lagu, berita, atau pesan sebenarnya hanya si pemancar yang tahu pasti.
Yang jelas apapun itu penulis telah menghadirkan karyanya di tengah-tengah kita. Karena keindahan hidup ini akan lebih terasa bila kita telah mampu untuk berbagi antar sesama.

Koreksian FAM, sebaiknya kurangi pemakaian tanda elipsis (…) di akhir baris puisi karena terkesan mengganggu keindahan puisi. Kata “dimana” sebaiknya ditulis “di mana”, kata “hey” seharusnya “hei”. Secara umum puisi ini cukup baik.

Selamat menulis dan tetaplah cinta menulis.

Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

MEREKA MELULU
Oleh Sunarsih

IDFAM 675M Anggota FAM Lampung

Apa ini?
Kami sebar…
Kami rajam…
Kami tuntaskan…

Tapi,
Tak kunjung ada yang padam
Mereka tetap kukuh, kondang dan sejahtera
Dimana letak nasionalisme ini?
Merajuk tak pernah nampak dan nyata
Mulut bagai hanya sebongkah seruan belaka

Kami ada
Kami mencoba dan terus mencoba
Memerhati kalian, memerhati mereka
Tapi, mereka bersulang bagai burung diatas binary
Apa ini dunia saat ini?
Berubah tak pasti, kendur dengan sendiri
Prinsip yang redup, memupuk untuk memburuk tetap hidup

Hey kalian !...
Berjuanglah…
Nestapa diujung dadamu…
Sampai kapan akan kalian bawa
Dimana nurani hati jiwa makmur ini?

Mereka tertawa, mereka terngiang…
Dimana letak jiwa kalian jika mereka tetap dan tetap ramai
Akankah kalian diam?

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...