Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, 28 Juni 1928 –
meninggal 9 Mei 1982 pada umur 53 tahun. Ia menyelesaikan pendidikannya di HIS
Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1942; SMP Muhammadiyah Yogyakarta tahun
1954; dan SMA “B” Negeri Yogyakarta tahun 1950. Setelah itu, ia melanjutkan ke
Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, tetapi hanya setahun.
Kemudian atas anjuran dokter, ia pindah ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas
H.E.S.P. jurusan Ekonomi.
Pada tahun 1964, ia belajar ke Nippon Bunka Gakuin tingkat
Sho-kyu- ranking I dan dikirim ke Jepang selama 6 bulan; dan pada tahun 1969,
kembali ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan
Hubungan Internasional sampai tingkat III. Selain itu, ia juga mengikuti
beberapa kursus, menguasai beberapa bahasa asing, seperti Inggris, Arab,
Jepang, dan Belanda, serta pernah menjadi santri di Pondok Modern Gontor,
Ponorogo.
Pada masa revolusi kemerdekaan, ia turut aktif dalam bidang
kemiliteran. Sekitar April sampai Juni 1945 mengikuti latihan kemiliteran di
Cibarusa, Jawa Barat. Selain itu, pernah menjadi opsir TRI (Tentara Rakyat
Indonesia) dengan pangkat letnan dua, menjabat dalam Staf Resimen Ontowiryo
(TNI Masyarakat), dan memegang pimpinan Komandan Seksi sampai tahun 1947.
Pada tahun 1951, ia menjadi guru tidak tetap dalam mata
pelajaran bahasa Indonesia di SMP Dinas Penyempurnaan Pengetahuan dan Keahlian
Staf “A” Angkatan Darat di Bandung. Pada tahun 1955, ia melawat ke Amerika
Serikat dalam rangka penelitian tentang Youth Activities dan Youth Leaders’
Grant dari USIS. Sepulangnya dari Amerika, ia mengunjungi Inggris, Belanda,
Prancis, Mesir, Pakistan, dan Singapura. Pada tahun 1959, ia bekerja di USIS
sebagai wakil direktur Jefferson Library Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1964,
ia mengunjungi Jepang dan Filipina.
Di bidang jurnalistik, ia pernah duduk dalam redaksi majalah
Tunas, yang diterbitkan oleh PII (Pelajar Islam Indonesia) pada tahun
1947-1950; kemudian dalam redaksi majalah Media, yang diterbitkan oleh HMI
(Himpunan Mahasiswa Islam) pada tahun 1955; dan redaksi majalah Misykah, yang
diterbitkan oleh H.P.S.I. (Himpunan Peminat Sastra Islam) pada tahun 1960.
Pada bulan Juni 1965, ia duduk dalam redaksi majalah Suara
Muhammadiyah, yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta.
Kemudian pada tahun 1975, ia diangkat menjadi wakil pemimpin redaksi/wakil
pemimpin umum majalah itu sebagai pengasuh ruang cerita pendek, sajak, rubrik
opini, karikatur, dan pembaca menulis. Sebagai pengasuh rubrik “English
Column”, ia menggunakan nama samaran Ben Hashem.
Di samping sebagai sastrawan dan wartawan, ia juga pelukis
batik, fotografer, dan sering menjadi juri deklamasi sajak, serta juri
sayembara drama televisi dan radio. Selain itu, ia pun gemar musik, bahkan
menguasai beberapa alat musik, seperti piano, gitar, dan biola, serta pernah
mencipta syair lagu. Syair-syair lagu ciptaannya, antara lain Mars Aisyiyah
(lagu oleh M. Irsyad) dan Bidan Prajurit Islam, sebuah gubahannya untuk siswa
Sekolah Bidan P.K.U. (Pusat Kesejahteraan Umum) Muhammadiyah. Namanya juga
tercatat sebagai anggota B.K.K.I.I. (Badan Kongres Kebudayaan Islam Indonesia).
Mohammad Diponegoro sudah aktif menulis sejak tahun lima
puluhan. Ia banyak menulis dan menyadur cerita pendek, drama, sajak, esai, dan
terkenal karena usahanya mempuitisasikan terjemahan al-Qur’an.
Karya-karyanya tersebar di berbagai majalah dan harian,
seperti Budaya, Budaya Jaya, Gajah Mada, Gema Islam, Horison, Indonesia,
Kartini, Kisah, Kompas, Media, Minggu Pagi, Misykah, Moderna, Panji Masyarakat,
Siasat, Suara Muhammadiyah, Suara Ummat, dan Tunas.
Sumbangannya terhadap dunia kesusastraan Indonesia, terutama
adalah cerpen-cerpen yang dihasilkannya. Selama hidupnya, tidak kurang dari lima
ratus buah cerita pendek telah ditulisnya, baik asli, terjemahan, maupun
saduran.
Cerpen-cerpen yang dihasilkannya itu tidak hanya disebarkan
melalui majalah dan harian, tetapi juga disiarkan melalui radio. Sejak tahun
1969, ia membuat rekaman cerita pendek untuk disiarkan pada Radio ABC Siaran
Bahasa Indonesia, Melbourne, Australia, pada setiap hari Rabu malam. Hal itu
berlangsung tidak kurang dari sepuluh tahun lamanya. Karena itu, tidak mustahil
jika cerpen-cerpen yang dihasilkannya mencapai jumlah seperti disebutkan di
atas. Selain itu, ia juga membacakan cerpen-cerpennya dalam ruang cerita pendek
di RRI Studio Nusantara II Yogyakarta, pada setiap Minggu pagi.
Akan tetapi, dari lima ratus buah cerita pendek yang
dihasilkannya, hanya beberapa judul saja yang berhasil diperoleh. Cerpen-cerpen
itu terdapat dalam majalah Gema Islam, Horison, Indonesia, Kartini, Kisah,
Media, Suara Muhammadiyah, dan harian Kompas.
Cerpen “Potret Seorang Prajurit” dimuat kembali bersama
karya-karya pengarang lainnya dalam Laut Biru Langit Biru (Pustaka Jaya, 1977),
sebuah bunga rampai yang disusun oleh Ajip Rosidi. Dua cerpennya “Kadis” dan
“Cubit Sejimpit” memenangkan hadiah pertama Lomba Penulisan Cerpen dan Cerpen
Humor yang diselenggarakan oleh majalah Kartini pada tahun 1980. Cerpen “Kadis”
dimuat kembali dalam majalah sastra Horison edisi bulan Ramadhan, tahun XIX,
nomor 6, Juni 1984 dan edisi bulan (?).
Mohammad Diponegoro juga dikenal sebagai dramawan, baik
sebagai penulis cerita, sutradara, dan kadang-kadang sebagai pemain. Sebagai
penulis cerita, ia menghasilkan sebuah karya asli berjudul Iblis, sebuah lakon
drama yang ditulisnya pada tahun 1961. Naskah itu kini telah diterbitkan dalam
bentuk buku oleh Pustaka Panjimas pada tahun 1983.
Drama Iblis dipentaskan pertama kalinya pada 25 September
1961 di gedung Chung Hwa Chung Hui Yogyakarta. Hari pementasan itu kemudian
ditetapkan sebagai hari lahir Teater Muslim, yang semula bernama B.K.K.I.Y.
(Badan Koordinasi Kebudayaan Islam Indonesia Yogyakarta). Ia menjadi ketuanya
selama empat tahun (1961-1965), dan seterusnya menjadi penasihat.
Di samping karya aslinya, ia pun menyadur dan menerjemahkan
naskah-naskah drama asing, seperti Desire under the Elms (O’Neill), The Death
of Odysseus (Lionel Abel), The Death Trap atau Jebakan Maut (Saki/H.H. Moenro),
Fortune Writes a Letter (Theodor Apstein), The Miracle of the Danube (Maxwell
Anderson), serta dua buah saduran dari karya Tennessee William, yaitu Labbaika,
Ya Rabbi, Labbaika dan Surat Kepada Gubernur.
Surat Kepada Gubernur disiarkan oleh TVRI pada 11 Mei 1982
dengan judul Surat dari Fatimah, dimainkan oleh Teater Angka.
Dalam bidang penulisan sajak, sebenarnya ia tidak begitu
menonjol, sebab hanya beberapa sajak saja yang dihasilkannya, baik asli maupun
terjemahan. Karya-karyanya dalam bentuk sajak dimuat dalam majalah Gajah Mada,
Media, Panji Masyarakat, dan Siasat.
Sebuah sajaknya yang berjudul “Balada Nyawa Saringan”,
sebelumnya dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah sebagai cerita pendek,
diterbitkan secara khusus dalam rangka memperingati ulang tahun Teater Muslim
ke delapan belas.
Mohammad Diponegoro terkenal karena usahanya mempuitisasikan
terjemahan al-Qur’an. Karya-karya puitisasi terjemahan al-Qur’an yang dibuat
oleh Mohammad Diponegoro dimuat dalam majalah Gema Islam, Horison, Indonesia,
Media, dan Suara Muhammadiyah.
Selain itu, karya-karyanya dibukukan bersama ciptaan tujuh
penyair lainnya, yakni Armaya, Djamil Suherman, Goenawan Mohamad, Hartojo
Andangdjaja, M. Saribi Afn, Taufiq A.G. Ismail, dan M. Yoesmanam dalam
Manifestasi (Tintamas, 1964), serta bersama Djamil Suherman dan Kaswanda Saleh
dalam Kabar dari Langit. Di samping itu juga diterbitkan secara khusus oleh
majalah Budaya Jaya dalam Pekabaran (1977), dan oleh majalah Suara Muhammadiyah
dalam Puitisasi Terjemahan al-Qur’an Juz 29 (1978). Kemudian keduanya diterbitkan
oleh 2D dalam Kabar Wigati (juz 29 dan 30).
Salah satu karya puitisasi terjemahan al-Qur’an juz 29 yang
berjudul “Kalam”, dimuat kembali sebagai penutup dari serangkaian ceramah
terpilih “Ramadhan in Campus” 1402 H/1982 M Jamaah Shalahuddin, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, dalam Mencari Generasi Qur’ani (Shalahuddin Press, 1982).
Di samping karya-karyanya dalam bentuk cerita pendek, drama,
sajak, dan puitisasi terjemahan al-Qur’an, ia juga banyak menulis esai, baik
asli maupun saduran. Esai-esainya dimuat dalam majalah Budaya, Budaya Jaya,
Media, dan Suara Muhammadiyah. Salah satu esainya yang berjudul “Sebuah Konsep
Individualitas: Percobaan Memahami Cita Iqbal tentang Manusia” dibacakan dalam
acara Peringatan Iqbal di Taman Ismail Marzuki pada 24 April 1972. Esai itu
kemudian dimuat dalam majalah Budaya Jaya, dan diterbitkan dalam Percik-percik
Pemikiran Iqbal (Shalahuddin Press, Desember 1983) bersama karya Ahmad Syafii
Maarif.
Esai lainnya yang berjudul “Muhammad Asad Duta Islam Masa
Kini”, yang pernah dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah, diterbitkan kembali
dalam Duta Islam untuk Dunia Modern (Shalahuddin Press, September 1983), juga
bersama tulisan Ahmad Syafii Maarif.
Selain itu, Mohammad Diponegoro juga telah menyusun
serangkaian karangan tentang teknik penulisan cerita pendek dan artikel.
Tulisan itu dimuat secara berturut-turut dalam majalah Suara Muhammadiyah pada
setiap nomor ganjil. Akan tetapi, karangannya tentang teknik penulisan artikel
hanya mencapai tiga bagian. Pada 9 Mei 1982, sastrawan itu telah menutup mata
untuk selama-lamanya, dalam usia hampir mencapai lima puluh empat tahun, di
Rumah Sakit Pusat Kesejahteraan Umum Muhammadiyah, Yogyakarta.
Siklus (Pustaka Jaya, 1975) adalah novel satu-satunya yang
ditulis oleh Mohammad Diponegoro. Dengan satu novel itu saja, ia telah
membuktikan kemampuannya sebagai penulis cerita yang berpengalaman.
[sumber: wikipedia.org]

Comments
Post a Comment