Kali ini FAM Indonesia mengulas cerpen berjudul “Ketika
Bunda Telah Pergi” karya Titi Haryati Abbas, anggota FAM Sinjai, Sulawesi
Selatan. Cerpen ini bercerita tentang Dani, bocah 9 tahun yang diasuh bibinya
karena ditinggal mati ibunya. Kadang ia merasa kesepian dan rindu ibunya,
meskipun ia sudah punya ‘keluarga baru’. Bagaimanapun, ditinggal pergi oleh
ibunda tercinta merupakan sesuatu yang berat, apalagi untuk Dani yang masih kanak-kanak.
Ada beberapa kalimat yang kurang efektif yang digunakan
penulis sehingga terasa kurang nyaman untuk dibaca. Misalnya pada kalimat kedua
yang isinya, ‘Anak berumur kurang lebih 9 tahunan’, akan lebih baik jika kata
‘kurang lebih’ dihilangkan saja. Lalu pada kalimat ‘Ia bisa memastikan kalau
tempat ini tidak pernah sama sekali dibersihkan’ yang terletak pada paragraf
pertama. Kata ‘sama sekali’ lebih baik dihilangkan karena sudah diwakili oleh
kata ‘tidak pernah’. Apabila masih ingin menambahkan juga bisa dengan
menaruhnya setelah kata ‘dibersihkan’. Dan masih ada beberapa kalimat yang
kurang efektif lainnya.
Catatan dari FAM untuk penulis adalah mengenai penulisan
kata ‘di’ yang seharusnya dipisah namun justru digabung oleh penulis. Termasuk
efektivitas kalimat dan pemilihan kata seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya. Meskipun demikian, beberapa kalimat lain sudah bagus penyusunannya.
FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan
semakin baik. Secara keseluruhan cerpen ini lumayan bagus baik dari segi cerita
dan teknik penulisan. Hanya saja penulis masih perlu memperbaiki sesuai dengan
beberapa masukan yang telah dijelaskan sebelumnya.
Semangat berkarya!
Salam Aishiteru.
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT CERPEN
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
KETIKA BUNDA TELAH
PERGI
Oleh Titi Haryati
Abbas
FAM810U, anggota FAM
Sinjai)
Dani menatap sekeliling ruangan yang penuh dengan kardus di
dalamnya. Anak berumur kurang lebih 9 tahunan itu berusaha mengenali setiap
sudut ruangan tersebut dengan pandangan matanya yang tajam. Ruangan yang sangat
kotor penuh dengan debu. Ia bisa memastikan kalau tempat ini tidak pernah sama
sekali dibersihkan. Dan di sinilah tempatnya kini, mulai sekarang dan mungkin
selamanya.
“Nah, di sinilah kamar kamu,” suara bibi Ati memecah
perhatiannya. Dengan sigap ia menoleh kearah perempuan separuh baya yang tengah
berdiri di belakangnya. Ada senyum yang tersungging disudut bibirnya meskipun
terkesan dingin.
Bocah itu mengangguk sopan, “Iya bi, nanti akan saya
bersihkan.” Lanjutnya lagi, kali ini dengan senyum samar, agak takut.
“Baiklah, jadi bersihkan dulu ruangannya, biar nanti malam
kamu sudah bisa tidur di sini!”
“Iya bi. Terima kasih!”
Kini ia benar-benar sendiri di ruangan ini. Seperti kata bi
Ati tadi, ia harus membersihkannya terlebih dulu agar bisa menjadi kamar yang
layak untuk ditempati tidur dan yang kegiatan lainnya, setidaknya bagi dirinya.
Dengan sigap ia mulai memindahkan kardus-kardus bekas yang
ada di dalam gudang tersebut ke halaman belakang. Ditumpuknya kardus-kardus
tersebut dengan rapi agar mudah dipindahkan lagi jika memang tempatnya bukan
disitu. Ia sendiri masih belum terlalu jelas dimana ia harus meletakkan
barang-barang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Hanya beberapa menit saja, semua barang yang ada di dalam
ruangan itu sudah ia pindahkan keluar. Tangan kecilnya memang sudah terbiasa
dengan pekerjaan seperti ini, saat ia masih tinggal bersama sang bunda. Tapi
kini bunda sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Itulah sebabnya
mengapa sekarang ia berada di tempat ini, mengikuti sang bibi, salah satu
kerabat ibunya yang bersedia memberinya tumpangan hidup.
“Kamu bisa ikut dengan bibi ke rumah, tapi tentunya kamu
harus mengerti apa yang seharusnya dikerjakan, mengerti kan maksud bibi?” itu
ucapan bibinya saat itu, saat ketika ia bingung harus kemana setelah sang bunda
meninggalkannya.
Serta merta ia mengangguk mendengar tawaran bibinya. Ia tahu
betul apa yang harus ia kerjakan demi membalas kemurahan hati bibinya yang mau
menerimanya tinggal bersama keluarganya. Ia sangat paham akan hal itu karena
bunda sudah membiasakan hal-hal seperti itu sejak ia masih kecil. “Kamu anak
ibu satu-satunya. Ibu tidak punya siapa-siapa selain kamu, hanya kamu yang ibu
punyai di dunia ini. Ibu hanya bisa mengandalkan kamu untuk membantu ibu
mengerjakan semua ini, kamu ikhlas kan, nak?”
”Iya dong, bu! Dani kan juga cuman punya ibu, jadi Dani
harus selalu membantu ibu. Pokoknya ibu tidak perlu khawatir, Dani akan selalu
menyenangkan hati ibu,” dan kalau sudah begitu, ibu pasti akan memeluknya
erat-erat, membelai rambutnya lalu menciuminya berulang-ulang. Ah, ia cuma bisa
mengusap pipinya yang tiba-tiba saja sudah basah tanpa ia sadari. Tiba-tiba
perasaan rindu yang sangat dalam menyeruak dari dasar hatinya, rindu ingin
melihat wajah lembut sang bunda juga senyum piasnya yang menyiratkan kelelahan
namun tak pernah sekalipun ia keluhkan di depannya. Ibu, Dani di sini bu,
sendiri tanpamu kini. Dani sangat merindukan ibu. Diusapnya pipinya yang
semakin basah dengan ujung bajunya yang lusuh. Hari perlahan beringsut senja,
gelap. Dikuatkannya hatinya menyelesaikan pekerjaannya yang sisa sedikit. Ia
ingin malam ini bisa tidur dengan nyenyak dan bertemu bunda dalam mimpi.
***
Lolong anjing bersahut-sahutan meningkahi malam nan pekat
lagi dingin. Dani merapatkan selimutnya. Matanya belum juga mau terpejam.
Sedari tadi ia hanya bolak-balik di kasurnya. Perasaan gelisah yang sejak tadi
menguasainya tak mampu ia kibaskan. Rasanya ingin ia keluar dan duduk di teras
depan sambil memandang bulan yang kian meredup tersapu awan. Kebiasaan yang
sering ia lakukan saat hatinya gundah mencari ketenangan.
“Kak Dani akan tinggal di sini bersama kita ya?” pertanyaan
polos dari Via, anak bungsu bibi Ati yang baru berumur 5 tahun tadi sore sempat
membuatnya bingung harus menjawab apa.
Untungnya bibi Ati segera membantunya keluar dari
kebingungan tersebut, “Iya sayang, kak Dani akan tinggal bersama kita sambil
membantu-bantu ibu. Kak Dani juga akan bantu Via kok. Jadi Via nanti bisa minta
tolong kak Dani kalau ada kesulitan.”
Demi mendengar itu, Via girang bukan kepalang. Tercermin
dari gerakannya yang refleks meloncat setinggi-tingginya sambil bertepuk
tangan. “Berarti, Via tidak akan kena marah sama kak Vito karena selalu minta
tolong terus!”
“Iya, dan aku juga tidak akan lagi sibuk ngurusin kamu
melulu, tau?” Vito, kakak Via, anak laki-laki yang berumur kurang lebih sama
dengannya langsung menyambar ucapan adiknya dengan cepat. Matanya kemudian
beralih kepada dirinya yang memang saat itu persis duduk disampingnya.
Tatapannya tajam namun tetap hangat. Tanpa sepatah katapun, ia segera berlalu
dari situ kemudian masuk kedalam kamarnya.
Dani memperhatikannya dengan seksama, ada perbedaan jelas
antara dirinya dengan Vito. Pakaiannya sangat rapi dan kulitnya bersih terawat
sama seperti Via adiknya, sementara dirinya, pakaiannya lusuh dan kulit hitam
kecoklatan karena terlalu sering berada di bawah sinar matahari. Dulu, bunda
selalu mengelus kulit lengannya yang hitam legam terbakar sinar matahari
setelah mencari kayu bakar di kebun milik tetangganya. Kakinya yang berdebu
juga tak luput dari perhatian perempuan yang sangat dikasihinya itu. Ibu akan
membasuhnya dengan kain lap yang telah disediakan untuknya. Kemudian rambutnya
yang kering kekuningan juga akan kebagian mendapat belaian dari tangannya yang
lembut. Semua perhatian itu membuatnya tak pernah sama sekali menyadari apa itu
pakaian yang rapi dan badan yang bersih terawat.
“Habiskan makananmu. Setelah itu kamu bisa istirahat. Kamu
pasti capek, kan? Besok kamu bangun pagi-pagi sekali, nanti akan bibi
tunjukkaan apa saja tugas-tugasmu.” Suara lantang bi Ati memutuskan lamunannya.
“Iya bi!” sesaat kemudian ia menuju ke kamarnya di belakang,
tempat yang baru saja selesai ia bersihkan dan diperuntukkan baginya sebagai
tempatnya untuk beristirahat.
Malam semakin larut. Bulan pasti sudah separuh tertelan
awan. Lolongan anjing masih kedengaran dari kejauhan. Suasana semakin hening.
Namun pikirannya belum juga mau berhenti mengembara.
“Dani, tolong ambilkan ibu air minum ya!” suara ibu lemah
selemah tubuhnya yang sudah beberapa hari terbaring tanpa daya. Matanya kuyu
karena kurang tidur, mungkin terlalu banyak beban pikiran yang mengganggunya.
“Ini bu!” ia segera membantu ibu bangun agar bisa meminum
air dari gelas dengan posisi yang baik. Ia rasakan tatapan ibu menjalari
seluruh tubuhnya menyiratkan makna aneh yang tak mampu ia artikan. Hanya satu
yang ia mampu kenang dengan sangat jelas. Tangan ibu yang kurus tak henti
membelainya, juga pipinya yang tirus senatiasa dialiri titik-titik air bening
membuat matanya sembab.
“Kamu sudah makan, nak?” meski sangat lemah, ia masih juga
memperhatikan keadaan dirinya. Hatinya semakin perih tersayat.
“Sudah, bu. Tadi bi Jum datang membawakan makanan.” Sejak
sang bunda sakit, kebutuhan mereka jadi tergantung dari belas kasihan tetangga.
Pekerjaan bunda yang hanya buruh serabutan dan sepenuhnya mengandalkan tenaga,
mulai dari buruh cuci, tani, sampai jadi pembantu di rumah tetangga yang butuh
tenaganya praktis tak bisa lagi dilakukan. Dan itu berarti mereka tak punya
apa-apa untu membeli sesuatu yang bisa dimakan.
Ia sendiri, dengan tenaganya yang masih belum bisa terlalu
diandalkan hanya bisa membantu mencari kayu bakar lalu menjualnya ke pasar.
Terkadang ia juga dipanggil oleh beberapa tetangga yang membutuhkan tenaganya
untuk sekedar mengangkat karung yang berisi gabah sehabis panen atau mencari
rumput untuk makanan ternak.
Dan kalau anak-anak sebayanya setiap hari sibuk dengan
kegiatan di sekolah mereka, ia sendiri sibuk mencari peluang kerja dari
tetangga sekitar sekedar untuk mendapat beberapa receh yang nantinya bisa
ditukar dengan makanan pengganjal perut setiap harinya. Bagi dirinya,
bersekolah adalah hal yang sangat mustahil untuk ia dapatkan. Mendapatkan
pengisi perut untuk satu hari saja sudah merupakan satu kesyukuran yang luar
biasa. Jadi ia tidak boleh terlalu banyak merenda mimpi yang aneh-aneh seperti
itu.
Betapa sebenarnya ia ingin sekali membawa bunda ke puskesmas
untuk berobat agar beliau segera sembuh, tapi sungguh sulit mengumpulkan uang
dengan pekerjaan yang tidak tetap dan juga dengan penghasilan yang tidak
seberapa.
Dan akhirnya kelelahan itu tiba di penghujung. Bunda tak
kuasa lagi menahannya dan pergi membawa lelah dan deritanya dan meningalkannya
sendirian. Dan untuk selanjutnya tak akan ada lagi sentuhan tangan lembut yang
selalu membelainya. Juga tak akan pernah lagi ia mendengar petuah-petuah bijak
yang selalu membuatnya tenang menahan gejolak hidup yang terasa sangat
menghimpit.
‘Ibu, mungkinkah kau memperhatikan aku dari sana, alam lain
yang kata orang merupakan tempat yang sangat indah jika kita mengisi hidup ini
dengan bersahaja? Kalau saja aku boleh ikut ibu, aku memilih ikut bersama ibu
ke sana agar kita tak terpisahkan seperti ini’ Sudut-sudut matanya kembali
digenangi air. Tak ada lagi keinginan untuk menghapusnya. Dibiarkannya pipinya
tergenang oleh titik-titik air tersebut. Kali ini ia tak perlu lagi takut akan
teguran bunda jika ketahuan menangis seperti itu. Bunda kini hanya bisa
menyaksikannya dari alam nun jauh di sana. Isaknya tertahan di dada. Jangan
sampai kedengaran oleh orang rumah. Hanya akan mengganggu, apalagi ia masih
baru di sini.
Mungkin bulan telah benar-benar tertutup awan. Subuh hampir
menjelang menyisakan penat yang amat sangat. Gerbang mimpi agaknya mulai
terkuak, pelan!
***
“Kak Dani, makan yuk!” teriakan Via pagi itu tak urung
membuatnya menoleh. Ini pagi pertamanya di rumah bi Ati. Tadi pagi-pagi sekali
ia ditugaskan menyapu halaman rumah, lalu menjalankan mesin air agar bak di
kamar mandi terisi penuh. Semua penghuni di rumah ini mengawali aktivitas
mereka dari kamar mandi. Pantas mereka semuanya pada bersih, pikirnya.
Via sudah siap dengan pakaian seragam TKnya. Demikian juga
Vito sudah rapih dengan pakaian seragam SDnya. Sejenak ia terpukau menyaksikan
keduanya. Ingin rasanya dirinya bisa seperti mereka juga, namun segera
ditepisnya pikiran itu dari kepalanya. Ia tersenyum pahit. Bisa makan saja
dalam sehari sudah syukur. Apalagi ditambah dengan sekolah. Dan mendadak
pikiran akan bunda kembali melintas. Ibu, apakah ibu juga sudah bangun pagi
ini? Isaknya dalam hati.
Via dan Vito dijemput oleh tukang ojek langganan mereka,
jadi bi Ati tak perlu repot mengantar mereka ke sekolah. Om Ridwan, suami bi
Ati sudah lama meninggal. Kehidupan bi Ati hampir sama dengan dirinya dan ibu,
bedanya bi Ati punya sumber kehidupan yang baik sementara ibu tidak demikian.
Saat keduanya sudah berangkat ke sekolah, kini giliran Dani
dan bi Ati juga akan memulai aktivitas mereka.
“Semuanya sudah terkunci, Dani?”
“Iya, bi.” Ia kemudian menyerahkan kunci gembok kepada bi
Ati lalu kemudian menuju pasar yang tak terlalu jauh dari rumah. Cukup dengan
dengan naik ojek beberapa menit, keduanya telah sampai di lokasi pasar tempat
bi Ati berjualan.
Wajah Dani berseri-seri, bi Ati ternyata berjualan aneka
macam. Mulai dari sabun, terigu, gula sampai aneka macam snack, semuanya ada di
tokonya. Kalau jualan sambil makan, diizinkan tidak ya? Ia tersenyum sendiri
memikirkan itu. Baru kali ini sepanjang hidupnya melihat jenis barang yang
demikian banyak, apalagi snacknya mulai dari aneka macam permen sampai aneka
macam biskuit dan wafer. Tak tahan rasanya ingin mencobanya, satu saja. Kembali
ia tersenyum sendiri membayangkan itu.
“Dani!” senyumnya segera terhenti. Bi Ati sudah ada
dibelakangnya.
“Iya bi!”
“Mulai sekarang, kamu akan membantu bibi di sini setiap
hari. Perhatikan apa-apa saja yang harus kamu lakukan mulai dari melayani
pembeli, mengambilkan barang pesanan mereka dan menerima pembayaran mereka,
paham?”
“Iya, bi!” jawabnya cepat. Akhirnya ia mempunyai kesibukan
baru, membantu bibinya berjualan di toko beliau. Tak butuh lama untuk belajar
menjadi pejual, melayani pembeli dengan baik dan menngatur barang yang sedikit
berantakan setelah pembeli memilih-milih. Dan kelihatannya bi Ati cukup puas
dengan hasil kerjanya hari itu.
“Dani, bisa bibi tinggal sebentar? Via dan Vito sudah ada di
rumah. Bibi akan membukakan pintu untuk mereka dulu ya!. Mereka pasti sudah
lapar dan lelah sehabis belajar.”
Ia mengangguk tersenyum. Ah, mungkin ia memang tak perlu
melanjutkan mimpinya untuk sekolah lagi, seperti Via dan Vito. Rasa lelah dan
lapar yang sama ia rasakan tak harus muncul karena pulang dari sekolah,
perasaan itu juga bisa datang dari kesibukannya berjualan seperti ini. Ibu,
apakah ibu masih di atas sana melihat Dani? Meski masih mengejar mimpi tapi
paling tidak, hanya ini yang bisa anakmu ini kerjakan sekarang. Kalau saja ibu
ada bersamaku di sini, kembali ia teringat akan bunda. Hatinya kembali mengharu
biru. Sendiri seperti ini selalu membuat bayangan sang bunda menjelma kembali.
Dan persaannya kembali diliputi rindu yang amat sangat.
Diperhatikannya bibinya yang perlahan menjauh menuju rumah.
Terbayang Vito dan Via yang tiba di rumah melepaskan penat setelah bersekolah,
andai suatu saat dirinya juga bisa merasakan hal yang sama. Tapi ini baru
permulaan. Jalan masih panjang. Dan ibu, selalulah melihat anakmu dari jauh
karena aku akan selalu merasakan getar-getar indah itu.***
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment