Skip to main content

Ulasan Puisi “Sayatan Rindu” Karya Vina Rohmatul Ummah (Malang)

Cinta memang suatu lautan yang tak pernah kering untuk kita arungi. Walau berbagai topan melanda, badai datang menerpa, tidak akan pernah jenuh kita melayangkan biduk, membentangkan layar, bergumul dan mencari sebuah arti cinta itu sendiri. Hingga pelabuhan pun menjadi tempat menepi, menambatkan sejenak riak-riak rasa dan berbagi dalam dekapan hati yang tertemui.

Ya, bersyukurlah bila rasa cinta itu masih ada di dalam dada kita. Karena sejatinya cinta adalah sebuah anugerah yang tak terhingga yang ditanamkan dalam kalbu kita, oleh Sang Maha Pemilik Cinta itu sendiri.

Dalam puisi “Sayatan Rindu” karya Vina Rohmatul Ummah ini, jelas cinta yang dimaksud adalah sebuah Keagungan Cinta dari makhluk kepada Khaliknya. Ini sangat jelas tergambar dalam pemakaian kata "Mu" yang ditulis dengan huruf kapital (huruf besar), walau bukan berada di awal kalimat.

Sebuah pemakaian EYD yang tepat sekali dan sesuai aturan pemakaian huruf besar/kapital dalam kalimat. Kita simak bait puisi berikut ini:

pertama kumengenal Mu
kau gores warna indah dalam kehidupanku
datang bangkitkan semangat juangku
berikan kekuatan gelombang cinta
membuatku tertunduk
merenung, menatap dan mengerti makna cinta hakiki

Sebuah cuplikan beberapa kalimat dalam puisi ini yang menggambarkan suatu bentuk keinsyafan untuk tidak melupakan Allah sebagai Maha pemilik cinta.

Kenapa rasa cinta kepada Tuhan tidak boleh dilupakan? Ya, kita semua tahu bahwa tak akan ada yang melebihi segala kasih sayang dari-Nya, dalam situasi dan keadaan bagaimanapun seorang makhluk menjalani hidupnya. Yang terbaik dan selalu digoreskan untuk kita walau terkadang kita mengeluhkannya. Selalu ada misteri demi kebaikan kita dibalik sebuah takdir yang kita punya.

Enam baris pertama dalam puisi ini mengesankan kita akan sebuah proses penyucian hati untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ada semacam kekuatan hati yang tersadari bila proses itu mampu kita lalui dan semakin menebalkan rasa iman dan taqwa.

Baiklah, kalau tadi kita mengkaji dari sudut pandang agama dan keyakinan, karena ini sebuah puisi, kita lihat juga kaedah-kaedah puisi itu sendiri.

Menurut Huda M. Elmatsani, sebagai sebuah karya seni, puisi tentulah sebuah keindahan yang bisa dinikmati. Ia merekam semangat dari subjek dan membangkitkan emosi. Keindahan yang dapat memukau jiwa pembacanya. Sebuah keharuan. Penyair Acep Zamzam Noor menyebutnya, puisi yang membuat bulu kuduk berdiri, disebutnya teori bulu kuduk. Perasaan tersentuh, hati bergetar. Ook Nugroho mengiaskannya sebagai virus yang menularkan wabah. Lalu, apa yang membuat puisi menjadi indah?

Keindahan puisi tercipta dari paduan harmonis: pesan yang ingin disampaikan, permainan kata, permainan bunyi, permainan imaji, kesederhanaan dan kedalaman.

Apakah pendapat para ahli tentang puisi di atas juga kita temui dalam puisi ini? Jelas ada, walau perlu sedikit pembenahan dalam mengungkapkan diksi-diksinya. Kita menangkap pesan moral yang ingin disampaikan, kita melihat permainan kata dalam baris-barisnya, juga ada permainan bunyi, imaji yang dicoba kembangkan, juga kesederhanaan dan kedalaman.

Walau dirasa unsur-unsur itu belum maksimal diungkapkan, dengan sering berlatih dan memahami puisi para penyair yang sudah punya nama, yakin penulis akan semakin mantap memainkan mata penanya.

Satu lagi yang ingin disampaikan, apakah penulis sudah menyesuaikan tulisan-tulisannya dengan EYD? Jelas ada beberapa yang terlupakan baik itu dalam hal pemakaian huruf kapital di awal kalimat, tanda titik, dan pemakaian imbuhan "me" yang melekat dalam sebuah kata dasar. Ini terlihat jelas dalam menuliskan me + langit. Di sini penulis menjadikannya "menlangit". seharusnya ditulis "melangit". Berikut beberapa aturan pemakaian imbuhan Me:

1. Awalan “me” tidak berubah

me + kata dasar dengan huruf awal l, m, n, r, w, y.
Misalnya:
me + lipat = melipat
me + makan = memakan
me + rakyat = merakyat
me + nanti = menanti
me + yakin + i = meyakini

2. Awalan “me” berubah menjadi “mem”

me + kata dasar dengan huruf awal b, f,p, v
Misalnya:
me + basmi = membasmi
me + foto = memfoto
me + pikat = memikat
me + veto = memveto
tetapi untuk kata yang terdiri satu suku kata
me + bor = membor atau mengebor
me + bom = membom atau mengebom

3. Awalan “me” berubah menjadi “men”

me + kata dasar dengan huruf awal c, d, j, t, z
Misalnya:
me + contek = mencontek
me + dorong = mendorong
me + jauh =  menjauh
me + tusuk = menusuk
me + zina + i = menzinai
tetapi untuk kata yang terdiri satu suku kata
me + cor = menbor atau mengecor
me + cap = mencap atau mengecap

4. Awalan “me” berubah menjadi “meng”

me + kata dasar dengan huruf awal huruf vokal, g, h
Misalnya:
me + ajak = mengajak
me + ejek = mengejek
me + isolasi = mengisolasi
me + orbit = mengorbit
me + ubah = mengubah
me + gunung = menggunung
me + hukum = menghukum
me + kilap = mengilap

5. Awalan “me” berubah menjadi “meny”

me + kata dasar dengan huruf awal s
Misalnya:
me + sembah = menyembah
me + sortir = menyortir
me + sikap + i = menyikapi

B. Perubahan pada huruf awal kata dasar

Huruf awal kata dasar yang akan mengalami perubahan adalah huruf k, p, t, s yakni akan luluh/lebur.

1. Huruf awal kata dasar “k” luluh menjadi “ng”
Misalnya:
me + konsumsi = mengonsumsi
me + kapur = mengapur
me + kaca = mengaca
tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
me + khayal = mengkhayal
me + khitan = mengkhitan
me + khianat + i = mengkhianati

2. Huruf awal kata dasar “p” luluh menjadi “m”

Misalnya:
me + pukul = memukul
me + pilih = memilih
me + potong = memotong
me + popular + kan = memopulerkan
tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
me + protes = memprotes
me + produksi = memproduksi
me + prakarsa + i = memprakarsai

3. Huruf awal kata dasar “t” luluh menjadi “n”

Misalnya:
me + tuju = menuju
me + tabrak = menabrak
me + toleransi = menoleransi
me + target = menarget
me + telantar + kan = menelantarkan
me + tarikh + kan = menarikhkan
tetapi perhatikan penulisan kata berikut dalam KBBI
me + tabulasi = mentabulasi bukan menabulasi
me + tablig + kan = mentabligkan bukan menabligkan

untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
me + traktir = mentraktir
me + tradisi = mentradisi

4. Huruf awal kata dasar “s” luluh menjadi “ny”

Misalnya:
me + sisir = menyisir
me + sobek = menyobek
me + susun = menyusun
me + salat + i = menyalati
me + sejahtera + kan = menyejahterakan
tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
me + syukur + i = mensyukuri
me + standar + kan = menstandarkan
me + syariat + kan = mensyariatkan

Tetap semangat untuk menulis, tetap semangat untuk memperbaiki dari waktu kewaktu.

Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

SAYATAN RINDU
Oleh Vina Rohmatul Ummah

IDFAM823M Anggota FAM Malang

pertama kumengenal Mu
kau gores warna indah dalam kehidupanku
datang bangkitkan semangat juangku
berikan kekuatan gelombang cinta
membuatku tertunduk
merenung, menatap dan mengerti makna cinta hakiki
sungguh………tenggelam dalam lautan cintaMu
terbesit keinginan tuk menyanding dan membawa dalam aura nafasku
dengarkanlah cinta abadiku
darah ini membeku karena kedalaman rindu kepadaMu
menjulang tinggi nan menlangit luas
dengarkanlah raja hatiku
rindu yang menggebu kan menghantui
rindu yang membara kan mengelabui
hingga tetes darah hayatku
hingga ujung nafas hidupku
membuat mawar tak seindah mula
menjadi pohon tak berbuah rasa
sungguh ini kerinduan lautan cintaku
berlayar mencarimu
bak perahu kecil tak terarah
hati merintih
bak goresan arang melekat pekat dalam sanubari
nan terobati oleh tatapan cinta sejatiMu
wahai pemilik kerajaan cinta
ku bersimpuh mengharap cintaMu
biarpun nyawa melayang dalam raga
namun
cinta tak kan tergoyahkan
biar orang berkata buta dan gila
tapi kalbu
senatiasa mendapat secercah harapan Sang pemilik cinta

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...