Kali ini FAM mengulas cerpen berjudul “Cinta Memang Bukan
Untukku” karya Dewi Putri Anggi, anggota FAM Pekanbaru, Riau. Ini adalah sebuah
cerita tentang Andra yang ditinggal mati oleh pacarnya bernama Arga. Jika
membaca keseluruhan cerita, maka pembaca bisa menarik kesimpulan bahwa tokoh
utama yang bernama Andra adalah seorang wanita. Akan tetapi, jika diteliti
lebih dalam terdapat beberapa kejanggalan.
Pertama, pada kalimat: “Aku Andra, aku adalah seorang
mahasiswa salah satu universitas ternama di Jakarta”. Seharusnya jika Andra itu
wanita menggunakan kata mahasiswi bukan mahasiswa. Lagi pula, nama Andra juga
terlihat seperti nama laki-laki. Nama sejenis yang familiar adalah ‘Andra &
The Backbone’.
Kedua, terdapat pada kalimat: “Rina adalah salah satu cewek
paling cantik di kampusku, tapi
sayang dia udah punya cowok”. Kalimat tersebut
seakan bernada kekesalan, penyesalan dan kecemburuan. Kalimat ini hanya wajar
jika diungkapkan oleh seorang laki-laki, namun Andra dalam cerpen ini adalah
perempuan. Jika diasumsikan Andra adalah laki-laki maka tidak masuk akal karena
dia punya pacar yang bernama Arga. Tapi jika perempuan juga aneh, karena jika
demikian berarti dia Lesbi (penyuka sejenis), tapi kenapa dia akhirnya punya
pacar laki-laki?
Ketiga, terdapat pada kalimat: “Arga adalah sosok cowok yang
diidam-idamkan cewek. Tubuhnya sixpag, tinggi, putih, ada lesung pipit ketika
ia tersenyum. Aku sedikit tertarik, ntah kenapa, sejak aku dikhianati 4 tahun
yang lalu, aku jadi tidak begitu sure dengan yang namanya cewek, mereka pun
pergi.” Di sini, Andra tertarik pada Arga yang merupakan cowok macho, tapi
anehnya pada bagian akhir kalimat dia trauma dengan cewek karena pernah
dikhianati. Jika memang demikian, seharusnya Andra adalah laki-laki. Tapi jika
begitu, berarti dia Homo karena punya pacar Arga. Tapi jika dia perempuan,
berarti dia Lesbi karena pernah dikhianati cewek.
Beberapa catatan lain adalah mengenai EYD (Ejaan Yang
Disempurnakan). Kata ‘di’ jika diikuti kata tempat seharusnya penulisannya
dipisah bukan digabung. Lalu untuk istilah asing lebih baik dicetak miring.
Penulisan newyork seharusnya adalah New York. Karena nama tempat, huruf awalnya
seharusnya ditulis dengan huruf besar.
Untuk selanjutnya, penulis supaya memerhatikan pemberian
nama tokoh dan kalimat yang digunakan agar tidak terjadi kebingungan seperti
ini lagi. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin
membaik.
Semangat berkarya!
Salam Aishiteru
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT NASKAH ASLI DARI PENULIS TANPA EDITING TIM FAM
INDONESIA]
Cinta Memang Bukan Untukku
Oleh Dewi Putri Anggi
IDFAM790M Anggota FAM Pekanbaru
Mataku terbangun kala surya menusuk tirai kamarku. Aku
segera melirik ke arah jam. “Ampun!!!! Aku telat! Sekarang udah jam 9”.
Aku Andra, aku adalah seorang mahasiswa salah satu
universitas ternama di Jakarta. Pagi ini aku ada bimbingan skripsi karena memang
sebentar lagi aku akan menyelesaikan kuliahku. Aku tinggal disebuah rumah
kontrakan yang lumayan jauh dari kampus. Aku bangun dan segera mandi. Buru-buru
aku ke kampus hingga akhirnya sampai, ternyata dosen sudah menungguku sejak
setengah jam yang lalu.
“maaf pak, saya telat bangun”, kata ku dengan terburu-buru.
“tidak apa-apa, saya juga sering begitu”, lanjut dosen yang
bernama Tono. Untungnya dosen yang membimbing skripsi ku ini orang nya sangat
toleran dan baik hati. Aku memperlihatkan skripsi yang telah ku buat dengan
banyak sekali menyita waktuku itu.
------------------------------
Jam sudah menunjukkan pukul 1, aku mencari-cari teman
dekatku Rina. Tiba-tiba hp ku berdering, ternyata Rina.
“halo Rina, kamu dimana sih?? Aku cari-cari dari tadi tau”
“maaf ndra, tadi aku ada urusan penting, kamu dimana?? Masih
di kampus? Aku kesana ya??
“ok the”, lanjutku.
Rina adalah salah satu cewek paling cantik dikampusku, tapi
sayang dia udah punya cowok, 5 menit aku menunggu akhirnya Rina datang, tapi
dia dengan seseorang.
“eh, uda lama ya nunggu nya??”
“gak juga kok, baru 5 menitan. Oh ya, kamu ama siapa???”
“oh iya,, nih sepupu aku, kenalin namanya Arga”, lanjut
Rina.
“Andra”
“Arga”, katanya dengan suara yang menggetarkan hatiku. Arga
adalah sosok cowok yang di idam-idamkan cewek. Tubuhnya sixpag, tinggi, putih,
ada lesung pipi ketika ia tersenyum. Aku sedikit tertarik, ntah kenapa, sejak
aku dikhianati 4 tahun yang lalu, aku jadi tidak begitu sure dengan yang
namanya cewek, mereka pun pergi. Tapi aku lupa meminta nomor hp Arga. Aku pun
pulang ke rumah.
Dirumah aku masih memikirkan Arga, mencari akal bagaimana
mendapatkan nomor hpnya dan bisa dekat dengannya. Aku pun menelfon Rina dan
meminta nomor Arga, tanpa curiga Rina memberinya.Aku senang sekali. Tapi aku
belum berencana menghubunginya.
Beberapa hari kemudian aku wisuda, aku memang mahasiswa yang
pintar di kampus. Karena itu ada yang langsung menawariku pekerjaan bagus sebagai
seorang manager sebuah perusahaan di jakarta. Aku menyetujui dan bekerja disana
esok hari. Aku pun melalui hari-hari disana. Tapi pikiranku masih tertuju pada
Arga. Aku pun berencana menghubunginya malam ini.
Jam pun menunjukkan pukul 08.00, dengan darah berdesir aku
mencoba menghubungi Arga.
“Hallo, siapa ya??”, kata Arga dengan suaranya yang macho.
“A....Andra”, kataku singkat karena aku sangat gugup
“oh, Andra?? Ada apa ya??
“besok kamu ada acara gak??? Besok aku libur kerja, Aku mau
ngajak kamu nonton nih, aku gak punya teman nonton”
“owh,, ok deh.. aku bisa kok, aku juga gak ada acara untuk
besok”
“kalau begitu besok aku jemput kamu ya?”
“ok”
Aku sangat senang, esok harinya aku menjemput Arga. Kami pun
ke bioskop, disana aku banyak bertanya apa hal yang tidak disukai dan
disukainya. Ternyata dia paling suka ke mall, bermain di timezone, esok hari ia
ulang tahun dan aku berencana mentraktirnya bermain di timezone sepuasnya.
Hari ulang tahunnya pun tiba, aku mengajaknya ke timezone
sejak mall buka hingga tutup kembali, ia mengaku sangat senang. Sepulang dari
mall aku mencoba mengutarakan apa isi hatiku, sebenarnya aku takut sekali ia
menolakku. Aku mengantarnya pulang, sebelum dia turun dari mobil yang ku beli
dengan pekerjaanku yang baru beberapa bulan itu aku memegang tangannya.
“Arga, Andra mau bicara sesuatu”, kataku dengan tatapan
serius, jujur. Dalam pikiranku saat itu dia pasti menolakku.
“kamu mau bicara apa ndra??”, lanjutnya.
“A..aku.. aku mau bilang kalau aku sayang kamu, kamu mau gak
jadi pacar Andra???”, dia terdiam, dalam hatiku terjadi perang, aku tak sanggup
bila ia menolakku, lalu ia berkata
“Arga juga sayang kok ama Andra, Arga mau jadi pacar Andra”
Aku pun tersenyum bahagia dan mencium tangannya,
“terimakasih sayang, Andra pikir Arga akan menolak Andra”
Dia hanya tersenyum dan masuk ke rumahnya. Malam itu adalah
malam yang paling indah yang pernah kurasakan.
----------------------------
Pagi-pagi telfon ku berbunyi, aku terbangun. Ternyata itu
Arga.
“halo sayang, kamu uda bangun??”, tanyanya
“mmmhh..aku baru bangun..”, kataku dengan manja
“mandi sana, liat jam berapa, ntar kamu telat kerja
gimana..”
“ia, makasih ya udah bangunin Andra??, Andra mandi dulu
sayang, ntar Andra hubungin lagi ya?” kataku.
“ok deh” katanya sambil menutup telfon.
Hari-haripun kami lalui, tak terasa sudah setahun kami
berpacaran. Tidak ada yang tahu dengan hubungan kami. Setahun berlalu dengan
banyak pertengkaran karena maklum kami masih saling mengenal kepribadian.
Memasuki tahun kedua, sudah jarang sekali kami bertengkar, kami dapat memahami
satu sama lain dan itu membuat ku semakin sayang padanya. Aku memikirkan
sesuatu, minggu depan aku berangkat ke Newyork sebagai utusan dari perusahaan
tempatku bekerja. Aku sedih harus meninggalkannya walaupun itu hanya 1 minggu.
Sorepun tiba dan aku mengatakan aku akan pergi ke newyork,
dengan bijak ia membolehkanku pergi. Besok jadwal penerbangan ku, ia berkata
akan mengantarku ke bandara. Tapi malamnya aku menerima telfon darinya .
“halo sayang, maafkan Arga. Perut Arga sakit, sepertinya
Arga tidak bisa mengantarkan Andra ke bandara, gak marahkan sayang?”
“kamu sakit?? Aku ke rumah ya??
“ia”, dia menutup telfon, aku bergegas kerumahnya malam itu.
Sampai dirumahnya aku langsung menuju kamar, ku lihat dia begitu pucat dan sakit,
perasaanku mulai tidak enak.
“sayang, kamu kenapa?? Air mataku membasahi pipi. Dan dia
mengusapnya.
“tidak apa-apa kok sayang, aku Cuma sakit perut biasa, kamu
jangan sedih gitu ya?”
“kita ke dokter ya sayang?” kataku dengan lembut
“tidak usah, mungkin besok aku sembuh” lanjutnya sambil
membelai rambutku
“Andra bisa batalkan penerbangan kok, Andra mau ngerawat
Arga sampai sembuh”
“tidak usah, pekerjaanmu penting sayang, aku mohon pergilah
demi aku”
“baiklah, tapi Andra akan temani Arga malam ini hingga Arga
benar-benar tertidur”
“ia, terimakasih sayang”.
Aku menemaninya hingga ia tertidur, ada perasaan tidak enak
di hatiku, tidak seperti biasanya. Dia pun tertidur dan sebelum aku pulang aku
mengecup keningnya dan berkata “Andra sayang Arga, sayang sekali”.
Esoknya aku berangkat dan sebelum aku pergi aku menelfonnya.
“halo sayang, aku pergi ya?? Aku sebentar kok, Cuma 1
minggu”
“ia sayang, Arga cinta kamu, cepat pulang ya?? Arga
menunggumu”
“ia sayang, Andra juga cinta Arga”, aku pun pergi.
Sampai di Newyork, aku masih memikirkan Arga dan perasaanku
yang tak karuan. Seminggu berlalu. Dengan tak sabar aku ke bandara dan ingin
pulang secepatnya ke Indonesia. Sampai di bandara indonesia aku menelfon Arga.
“halo, Arga” kataku dengan senang sekali
“halo,” tapi ku dengar suara seorang wanita dengan isak
tangis. Aku pkir itu Lia adiknya Arga
Tanpa aku berbicara lagi aku langsung menuju ke rumah Arga,
dengan perasaan hancur aku melihat ada bendera kuning di depan rumahnya. Aku
bertanya kepada adiknya.
“dek, Arga mana?”
“kak Arga,, kak Arga sudah tenang sekarang”
“tapi dia dimana? Apa yang terjadi padanya!”, aku
mengeluarkan air mata. Tapi Lia tidak berkata apa-apa dan membawa ku pada
sebuah pemakaman yang masih basah tanahnya.
“ini makam siapa dek! Jawab!!!”
“Kak Arga kak, dia udah ninggalin kita,” Lia pun berlari
meninggalkan ku dengan isak tangisnya.
Disana aku sendiri, “Arga! Kenapa kamu tinggalin aku! Aku
cinta sama kamu!! Aku sayang sama kamu!!! Aku gak bisa hidup tanpa kamu!!!!”
Aku menangis di nisannya. Aku tak menyangka secepat itu dia
pergi tanpa berkata apapun kepadaku.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment