FAM kali ini mengulas puisi karya Arif Hifzul, anggota FAM
Simalungun, Sumatera Utara, berjudul “Wajah Kuli Panggul Beras”.
“Wajah Kuli Panggul Beras” adalah puisi realita kehidupan rakyat
jelata yang ditulis apa adanya, enak dibaca dan mudah dipahami, tidak
berbelit-belit, namun maknanya sangat luas: tentang hidup di Jakarta hanya
berpenghasilan pas-pasan. Kaki langit kehidupan harus dijalani, potret kehidupan
yang sangat memprihatinkan, wajah kuli panggul beras.
Kita simak penggalan puisinya yang sangat menggugah jiwa:
//Dengan berbekal tempe goreng/Ditemani dengan nasi
kucing/Ku beli di gang rumah tuaku/Ku berjalan mengitari sudut kota Jakarta.//
Puisi ini ditulis dengan sangat detail, memberikan gambaran sebuah
kejujuran dan harga diri sebagai kuli dan sekaligus sebagai kepala rumah tangga
yang menghidupi anak dan istrinya dengan mengandalkan sebagai kuli akan
menyentuh segala aspek kehidupan sehingga penutup klimaks puisi ini cukup
menarik:
//Dua puluh lima ribu ku dapat hari ini/
Cukup untuk makan sehari anak istri/Dan besok aku bekerja
kembali/Kulakukan dengan sepenuh hati/Demi kebutuhanku dan anak istri
Penulis cukup hati-hati memilih diksi untuk memperkaya isi
puisinya. Itu modal yang kuat bagi penulis untuk melahirkan puisi-puisi lainnya
yang lebih berkualitas.
Terus berproses dengan puisi yang penuh makna dan berjiwa,
kreatif sepanjang hari.
Salam santun, salam karya.
FAM INDONESIA
[BERIKUT PUISI
KIRIMAN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Wajah Kuli Panggul
Beras
Oleh Arif Hifzul
IDFAM865M Anggota FAM
Simalungun-Sumut
Pagi buta sekali
Saat matahari belum bangun
Aku kembali ke pusat pasar
Menjadi kuli panggul beras
Dengan berbekal tempe goreng
Ditemani dengan nasi kucing
Ku beli di gang rumah tuaku
Ku berjalan mengitari sudut kota Jakarta
Sekitar dua kilometer jaraknya
Dua ribu tujuh ratus detik lamanya
Lelah, lapar, lesu, serta lunglai kurasakan
Namun aku tetap semangat
Memikul puluhan beras
Dari truk sampai ke toko
Bekerja dari pagi hingga petang
Dua puluh lima ribu ku dapat hari ini
Cukup untuk makan sehari anak istri
Dan besok aku bekerja kembali
Kulakukan dengan sepenuh hati
Demi kebutuhanku dan anak istri
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment