Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah
puisi karya Hamda Alfansuri, anggota FAM Pekanbaru, Riau, berjudul “Kita Pasti
Bisa!”. Simak ulasannya sebagai berikut:
Manusia seharusnya bersyukur, karena di tengah perkembangan
zaman yang ditandai dengan kemajuan ekonomi dan iptek, para penyair masih tetap
lahir dan abadi untuk mengevaluasi kondisi.
Tujuannya tentu saja untuk menegur dan meningkatkan kualitas
manusia, agar jangan terbuai dan tenggelam dalam perubahan nilai-nilai hidup
material secara berlebihan dan agar manusia selalu berupaya menjaga
keseimbangan alam, budaya dan perkembangan alam, budaya dan perkembangan
industri. Terserah bagaimana caranya untuk mencapai tujuan itu, sebab
perjuangan penyair secara formalis, hanya sebatas dunia kata. Tergantung
bagaimana dan sejauh mana penafsiran pembaca terhadap dunia kata yang
disodorkan penyair lewat puisi-puisinya.
Metafor dapat dipandang sebagai unsur bagunan puisi yang
mencakup perlambangan dan kiasan. Unsur bangunan ini dapat sebanding dengan
perwatakan tokoh-tokoh dalam karya fiksi. Dikatakan sebanding dengan
perwatakan, karena metafor itulah sesungguhnya yang menjadi watak kata-kata
dalam sebuah puisi, sehingga dari perwatakan atau sifat kata-kata itu dapat diinterpretasikan
sebagai kemungkinan makna dan saran yang terkandung dalam setiap puisi.
Kata mempunyai tugas yang khas dalam puisi. Ada tiga tugas
kata-kata yang amat penting diperhatikan dalam usaha kita untuk mempelajari
puisi, yaitu:
- sebagai pendukung makna (buah pikiran)
- untuk persajakan
- untuk perlambangan dan kiasan
Pada bait pertama puisi “Kita Pasti Bisa!” dapat kita lihat:
di tengah keramaian.
Penuh kebisingan.
Mendekap kesunyian.
Pada jiwa yang sepi.
Pada bait ini, penyair memakai kata “Mendekap” tidak
menggunakan kata lain seperti “memeluk” atau “merangkul”, karena kata
“mendekap” bagi penyair adalah kata yang sesuai dengan citranya di dalam
bangunan puisinya itu yang sunyi dan sepi di tengah kebisingan.
Bait-bait berikutnya:
Pada kegemulaian
sehelai kertas.
Dengan kegagahan
sebuah pena.
Melahirkan karya,
bernyawa sastra.
Digelari sebuah nama,
"KITA PASTI BISA !".
Didaulat menjadi
sahabat.
Sebagai penyemangat.
Mempertahankan
martabat.
Sebagai bangsa hebat.
Dalam puisi di atas terlihat pemakaian kata “kegemulaian”
pada baris pertama dan kata “kegagahan” pada baris ke dua. Jika dipakai kata
lain yang sama artinya dengan kata tersebut, yaitu “kelenturan” dan
“keperkasaan” akan mengganggu perlambangan dan kiasan yang berpadu semua elemen
yang membangun karya puisi ini.
Tampaknya puisi ini memberikan gambaran tentang seorang
penulis yang bertekad melahirkan sebuah karya walau dengan terbata-bata tapi
dengan semangat yang membaja “KITA PASTI BISA” maka akhirnya menjadi bisa dan
bisa.
Mempertahankan
martabat.
Sebagai bangsa hebat.
Sedikit koreksian FAM, sebaiknya hilangkan tanda titik ( . )
di akhir setiap baris puisi tersebut karena itu mengurangi keindahan puisi. Kuasailah
diksi-diksi yang tak biasa dan bernada puitis serta memiliki kedalaman makna. Itu
hanya bisa didapat lewat banyak membaca.
Akhirnya salam sukses untuk penulis, lanjutkan semangatmu.
Banyaklah membaca, membaca dan membaca sesuai dengan firman Allah, IQRA!
Salam aishiteru!
TIM FAM INDONESIA
[NASKAH ASLI PUISI
KIRIMAN PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
KITA PASTI BISA!
"
Oleh Hamda Alfansuri
IDFAM795S Pekanbaru
di tengah keramaian.
Penuh kebisingan.
Mendekap kesunyian.
Pada jiwa yang sepi.
Mengembara para semangat.
menikmati tari hati.
Menuliskan kata basi.
Menuliskan dunia kreasi.
Pada kegemulaian sehelai kertas.
Dengan kegagahan sebuah pena.
Melahirkan karya, bernyawa sastra.
Digelari sebuah nama, "KITA PASTI BISA !".
Didaulat menjadi sahabat.
Sebagai penyemangat.
Mempertahankan martabat.
Sebagai bangsa hebat.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment