Skip to main content

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriyah

Sahabat semua, di penghujung Ramadhan ini saya mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri.” Sebagai manusia yang tidak luput dari salah, saya menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin. Baik kepada teman di dunia nyata atau yang tersambung melalui dunia maya.

Kata “maaf” memang seharusnya tidak menjadi buah bibir pada akhir Ramadhan saja. Kata “maaf” harus selalu menyertai setiap langkah kita setiap saat. Membiasakan diri meminta maaf dan memaafkan kesalahan oranglain, harus menjadi ciri seorang muslim. Tidak berat, gengsi dan malu saat mengakui kesalahan yang diperbuat, lalu meminta maaf. Saling memaafkan itu akan melegakan kedua belah pihak. Hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan akan semakin baik. Saling menghargai, saling menjaga untuk berhati-hati dalam bersikap.

Perbuatan salah terhadap sesama manusia yang mungkin kita lakukan setiap hari, lalu “dikumpulkan” dalam jangka waktu setahun. Menunggu Idul Fitri tiba, barulah bermaaf-maafan. Sebab, bermaafan pada momen tersebut dianggap seolah tanpa beban dan semua orang maklum. Pasti bukan bermaafan seperti itu, hakikat dari bermaafan dalam Islam. Untuk meminta maaf atas kesalahan, bukan menunggu setahun. Setiap kita melakukan kesalahan, mohon ampunlah pada Allah. Berjanji tidak akan mengulangi lagi dan merasa menyesal. Jika kesalahan itu ada kaitan dengan sesama manusia, maka ketika telah menyadari bahwa perbuatan itu salah, segeralah meminta maaf. Besok atau lusa, belum tentu ada waktu di sisa umur kita.

Euforia mudik di hari raya, mewarnai berakhirnya Ramadhan di negeri ini. Apakah itu melestarikan tradisi atau dengan niat bersilaturahim kepada keluarga di kampung? Hari raya menjadi momen berkumpul yang tepat bagi setiap keluarga. Semua orang tentu bermaksud untuk silaturahim, menyambung hubungan yang lebih baik dengan keluarga, kerabat dan handai taulan. Atau dalam rangka menyambut seruan-Nya yang termaktub dalam Alquran surat An-Nisa ayat 36-40: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri….”

Keutamaan dan janji Allah terhadap orang yang rajin bersilaturrahim:

1. Dijamin rejekinya tambah luas.
2. Tidak akan menemui masa-masa sulit.
3. Menjadi hamba yang selalu dekat dengan Allah SWT.
4. Akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beriman pada Allah dan hari akhir.
5. Akan diperbanyak keturunannya.
6. Allah SWT akan menyambung dengan dirinya.
7. Akan dimakmurkan negaranya.
8. Termasuk ahli surga.
9. Segera mendapat balasan (pahalanya disegerakan di dunia).

Mungkin dalam benak kita sering timbul pertanyaan, tiap tahun euforia mudik (silaturrahim) di negeri ini demikian dahsyat, tetapi mengapa rakyat negeri ini tetap berada dalam kondisi kekurangan secara ekonomi? Tak ada tanda-tanda seperti yang dijanjikan Allah di atas. Pasti banyak faktor yang harus menjadi bahan koreksi secara berjamaah.

Salah satu faktornya adalah konsep silaturahim yang kita jalankan kurang tepat. Lebih terkesan formalitas belaka. Sekadar “say hello.” Sekadar kata “maaf” di lisan, tapi tidak disertai keikutsertaan hati secara total. Apalagi jika tujuan mengunjungi saudara atau teman itu, diwarnai dengan niat untuk mengambil manfaat. Semakin jauhlah dari prinsip silaturahim yang sesungguhnya.

Sejatinya, dalam melakukan silaturahim tersebut kita berusaha mencapai derajat amal saleh. Sebab, inti silaturahim adalah ikhlas, peduli menolong sesama dan amar ma’ruf nahi munkar.

Sahabat, mari kita saling peduli. Saling memberi manfaat, bukan mengambil manfaat. Kita bersama-sama belajar menjalankan silaturahim yang sesungguhnya, agar keutamaan yang dijanjikan Allah bisa kita rasakan dalam kehidupan kita.

Salam santun, salam karya!

Aliya Nurlela
Sekjen FAM Indonesia
www.famindonesia.blogspot.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...