Kata “maaf” memang seharusnya tidak menjadi buah bibir pada
akhir Ramadhan saja. Kata “maaf” harus selalu menyertai setiap langkah kita
setiap saat. Membiasakan diri meminta maaf dan memaafkan kesalahan oranglain,
harus menjadi ciri seorang muslim. Tidak berat, gengsi dan malu saat mengakui
kesalahan yang diperbuat, lalu meminta maaf. Saling memaafkan itu akan
melegakan kedua belah pihak. Hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan
akan semakin baik. Saling menghargai, saling menjaga untuk berhati-hati dalam
bersikap.
Perbuatan salah terhadap sesama manusia yang mungkin kita
lakukan setiap hari, lalu “dikumpulkan” dalam jangka waktu setahun. Menunggu Idul
Fitri tiba, barulah bermaaf-maafan. Sebab, bermaafan pada momen tersebut
dianggap seolah tanpa beban dan semua orang maklum. Pasti bukan bermaafan
seperti itu, hakikat dari bermaafan dalam Islam. Untuk meminta maaf atas
kesalahan, bukan menunggu setahun. Setiap kita melakukan kesalahan, mohon
ampunlah pada Allah. Berjanji tidak akan mengulangi lagi dan merasa menyesal.
Jika kesalahan itu ada kaitan dengan sesama manusia, maka ketika telah
menyadari bahwa perbuatan itu salah, segeralah meminta maaf. Besok atau lusa,
belum tentu ada waktu di sisa umur kita.
Euforia mudik di hari raya, mewarnai berakhirnya Ramadhan di
negeri ini. Apakah itu melestarikan tradisi atau dengan niat bersilaturahim
kepada keluarga di kampung? Hari raya menjadi momen berkumpul yang tepat bagi
setiap keluarga. Semua orang tentu bermaksud untuk silaturahim, menyambung
hubungan yang lebih baik dengan keluarga, kerabat dan handai taulan. Atau dalam
rangka menyambut seruan-Nya yang termaktub dalam Alquran surat An-Nisa ayat
36-40: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri….”
Keutamaan dan janji Allah terhadap orang yang rajin
bersilaturrahim:
1. Dijamin rejekinya tambah luas.
2. Tidak akan menemui masa-masa sulit.
3. Menjadi hamba yang selalu dekat dengan Allah SWT.
4. Akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang
beriman pada Allah dan hari akhir.
5. Akan diperbanyak keturunannya.
6. Allah SWT akan menyambung dengan dirinya.
7. Akan dimakmurkan negaranya.
8. Termasuk ahli surga.
9. Segera mendapat balasan (pahalanya disegerakan di dunia).
Mungkin dalam benak kita sering timbul pertanyaan, tiap
tahun euforia mudik (silaturrahim) di negeri ini demikian dahsyat, tetapi
mengapa rakyat negeri ini tetap berada dalam kondisi kekurangan secara ekonomi?
Tak ada tanda-tanda seperti yang dijanjikan Allah di atas. Pasti banyak faktor
yang harus menjadi bahan koreksi secara berjamaah.
Salah satu faktornya adalah konsep silaturahim yang kita
jalankan kurang tepat. Lebih terkesan formalitas belaka. Sekadar “say hello.”
Sekadar kata “maaf” di lisan, tapi tidak disertai keikutsertaan hati secara
total. Apalagi jika tujuan mengunjungi saudara atau teman itu, diwarnai dengan
niat untuk mengambil manfaat. Semakin jauhlah dari prinsip silaturahim yang
sesungguhnya.
Sejatinya, dalam melakukan silaturahim tersebut kita
berusaha mencapai derajat amal saleh. Sebab, inti silaturahim adalah ikhlas,
peduli menolong sesama dan amar ma’ruf nahi munkar.
Sahabat, mari kita saling peduli. Saling memberi manfaat,
bukan mengambil manfaat. Kita bersama-sama belajar menjalankan silaturahim yang
sesungguhnya, agar keutamaan yang dijanjikan Allah bisa kita rasakan dalam
kehidupan kita.
Salam santun, salam karya!
Aliya Nurlela
Sekjen FAM Indonesia
www.famindonesia.blogspot.com

Comments
Post a Comment