Oleh Jendela Sajak
Setelah tenggang antisipasi beberapa waktu, akhirnya buku
puisi seorang sahabat lama, Hafney Maulana, sampai ke tangan saya. “Ijab Kabul
Pengantin”, FAM Publishing, Kediri, Agustus 2012. Dalam buku mungil yang
bertampilan manis itu terdapat 72 sajak Hafney; yang dikelompokkan ke dalam dua
bagian, Seruling Jiwa dan Risalah Takdir. Buku itu pun dilengkapi kata
pengantar tentang bagaimana ia melihat puisi, kekuatan dan pengaruhnya, bahkan
tenaganya sebagai “panah” dakwah. Senang hati saya membaca sajak-sajak penyair
yang telah saya kenal sejak lama itu.
Catatan ini pun hanyalah sebuah apresiasi singkat yang
sederhana yang tidak berniat menyebut-mengutip teori sastra apa pun [apalagi
kalau hanya secara kategoris]. Saya memang memiliki bias dalam membaca
sajak-sajak Hafney, tetapi itu justru merupakan hal yang menyenangkan bagi
saya. Saya memang telah mengenalnya sejak lama dulu, akhir 1980an, ketika masih
mahasiswa dan asyik berpuisi, walau pun kemudian setelah tamat hanya
bersentuhan dengan beberapa sajaknya yang termuat di media-media online; dan
belakangan, facebook. Kendati demikian, saya selalu merasa menangkap sosoknya yang
sama itu; yang lembut, hemat, menyerap ke dalam, selalu dengan ekspresi yang
terukur. Paling tidak, begitulah saya melihatnya.
Dalam kumpulan sajaknya itu, Hafney lengkap menampilkan
serba-serbi yang menjadi hirauannya. Warna-warna introspeksi vertikal dan
horisontal, kegelisahan dan keprihatinan, pengembaraan jiwa (musafir, peziarah)
, juga peluahan rasa-rasa. Dalam kumpulan sajak itu, ia akrab dengan ekspresi
kehambaan yang seluruhnya tak lain adalah berdasar ketentuan Dia---“jadi maka
jadilah”; wirid, kasidah, tasbih, alif batanya. Mawar-mawar, dermaga, burung
dan waktu-waktu malamnya; ekspresi kritik keprihatinannya lewat etalase
kehidupan zaman, kursi, dasi, parfum impor, layar komputer, menghadirkan
fenomena peminggiran yang akrab terpampang dalam wajah bangsa kita ini, lokal
dan nasional. Ijab kabulnya Hafney, selain jalinan pasangan rambut, juga
membawa kelahiran sebagai tanggung jawab; nasihat kepada anak, estafet
kehidupan dari ibu sampai ke cucu. Selalu tak meledak-ledak, melainkan rangkaian
ekspresi yang lebih lembut dan terukur, meski tampak jelas upaya untuk menjaga
hakikat kedalaman makna-maknanya.
Dalam buku itu, jika harus dipilih tiga sajaknya yang paling
saya sukai adalah, “Sepasang Terompah”, “Puisi yang Lahir dari Telinga”, dan
“Wirid Rumput”. Sajak yang disebut pertama sudah saya baca beberapa tahun yang
lalu, tetapi tetap melekat di ingatan saya. Secara asosiatif, sajak itu dan
Hafney seperti menyatu. Barangkali, sebelum Anda berkesempatan membaca bukunya
secara lengkap, baik saya kutipkan sajak itu di sini untuk melengkapi. Apalagi,
sajak ini pun telah diumumkan di salah satu media online jauh sebelumnya.
SEPASANG TEROMPAH
[Hafney Maulana]
Sepasang terompah yang
kau pakai dulu
kini rapuh berdebu
menunggu jejak kita
yang ditinggalkan
peziarah mengusung
deritanya
Sepasang terompah yang
kau pakai dulu
bagai seorang remaja
merenung gadisnya
menemukan mimpi yang
tak habis-habis
membangun kemegahan
yang tersengal dalam
derita
Sepasang terompah yang
kau pakai dulu
pucat bagai bibirmu—mencemburui
warna
pada bingkai kaca
tempat kita berdarah
di dalamnya
Bagi saya, sajak ini sangat menawan. Bukan saja karena
tergambarkannya dengan baik kontradiksi hidup yang sangat lazim menjadi hirauan
penyair mana pun, tetapi karena pengungkapannya yang menjadi khas, apalagi
dengan penggunaan kata “terompah” yang membekaskan jejak lokal. Ia melekat
(stick). Demikian pula pada sajaknya “Wirid Rerumputan”, ia melekat pada
ingatan saya karena wirid gemulai rumput-rumput “bagai kumpulan orang-orang
sufi” yang akhirnya menjadi “hening” sebagai “saksi” “abadi”.
Pun pesan-pesan kepada anaknya, saya garisbawahi: bahwa
hidup sangat sementara, “hanya melintas”, dan apabia tersesat, “bakarlah
kesesatan..” itu lalu “bacalah”. Estafet kehidupan ia gambarkan dengan ekspresi
ikan teri yang kini telah menjadi ikan kakap yang disantap anaknya [Kuingin Kau
Menyaksikan Jerih Payahmu, Ibu]. Tentang tomat yang tumbuh rimbun di matanya,
Hafney dengan manis membulatkan sebuah makna yang dalam: “Jika kau memetik
tomatku/Maka kau pun telah memetik hatiku/Itu pun kalau kau tahu”. Baris yang
terakhir itu yang paling saya nikmati, karena ia secara pas mengatakan
kesederhanaan dan kerendahan hati; hidup yang tak perlu ria mengaku-ngaku. Itu
Hafney yang saya tahu.
Memang hanya terbatas jumlah sajak yang tampil dalam buku
Ijab Kabul Pengantin Hafney Maulana ini. Kendati demikian, sebagaimana penyair
umumnya, apalagi yang telah cukup lama bergelut dengan puisi, Hafney pun
melakukan eksperimentasi, meski tidak meledak-ledak. Ia menuliskan sajak pendek
berjudul panjang tentang nasib negeri melalui metafora lancang kuning; juga
ironi luka hati yang “[men]eteskan tawa”. Sajak “Tawuran”-nya pun mengasyikkan:
adu ayam dan kematian yang ringkas. Tentu masih sekian lagi.
Buku Hafney ini dicetak dengan baik oleh FAM Publishing;
memang, masih ada beberapa salah cetak, hal-hal tipografis, dan lainnya.
Sayangnya, semua sajak dalam buku ini tidak diberi marka waktu, sehingga tidak
dapat dilacak kurun waktu penulisannya. Namun, tidak ada yang mengurangi makna
dalam menikmati buku kecil penyair dari Indragiri ini. Membacanya, seakan ingin
rasanya terbang menjadi burung untuk sekedar menikmati secangkir kopi memandang
sungai Indragiri, dengan sahabat seperti Hafney. Lalu membaca puisi; dan
berbincang-bincang tentang keseharian hidup, sesuatu yang sederhana, tetapi
sangat melekat di hati saya.***

Comments
Post a Comment