Skip to main content

Jangan Minder, Kamu Juga Bisa Jadi Penulis seperti Temanmu

NET
Sekali waktu, kamu merasa minder bertemu dengan teman seusiamu yang sudah menerbitkan banyak buku dan bukunya bertengger manis di rak-rak toko buku skala nasional. Namanya sering disebut-sebut, diundang ke sana-ke mari dan diliput berbagai media. Belum lagi, setiap hari temanmu itu memposting foto-foto bukunya di akun facebook. Banyak orang yang nge-like, komentar positif, hingga share postingannya. Sementara kamu? Setiap hari hanya menonton ‘tingkah-polah’ temanmu itu dan mengikuti perkembangannya. Padahal sejak awal—bahkan mungkin jauh sebelum temanmu itu menjadi penulis—kamu sudah berniat menjadi penulis. Namun, hingga sekarang (hitungan tahun) belum satu pun karya yang selesai kamu tulis. Ada beberapa cerpen tapi belum jelas endingnya. Ada satu novel tapi belum tamat—gara-gara keburu bosan di tengah jalan. Ada satu dua puisi tapi temanya sama dan itu-itu saja alias tidak bertambah. Tulisan-tulisan separuh jadimu itu hanya mengendap di laptop yang sesekali kamu kunjungi dan seringkali kamu abaikan.

Nah, kalau setiap hari kamu hanya berkata ‘ingin jadi penulis’ tapi jarang menulis bahkan ogah-ogahan, mungkinkah keinginanmu itu tercapai?

Melihat temanmu yang sukses jadi penulis, selayaknya kamu tidak minder bahkan ciut mewujudkan keinginanmu. Apalagi bersikap iri!

Selayaknya kamu bersyukur, dengan begitu kamu bisa belajar dari temanmu, bertanya tips dan triknya menghasilkan tulisan, menembus penerbit, menawarkan buku, termasuk suka-dukanya menjadi penulis. Jadikan hal itu sebagai motivasi/pelecut bagimu untuk segera menuntaskan tulisan-tulisan separuh jadi.

Tapi teman saya sudah ‘sukses’ lebih dulu, mungkinkah saya bisa mengejar kesuksesannya?

Ingat, kamu bukan sedang lomba lari marathon; siapa yang  lebih dulu sampai garis finish, dialah pemenangnya. Tidak ada pemenang di dunia kepenulisan! Tidak perlu menoleh pada kesuksesan temanmu, lalu bersaing tidak sehat atau sebaliknya menggantungkan pena. Setiap penulis akan menemukan ‘kesuksesan’ yang berbeda, perjuangan yang berbeda dan apresiasi yang berbeda. Kalau kamu siap sukses menjadi penulis, maka kamu juga harus siap gagal. Sukses dan gagal itu rahasia, misteri. Tapi sikapmu sangat menentukan, sebab kesuksesan tak luput dari kesungguhan. Peluang kesuksesan terbuka lebar bagi siapa saja, termasuk kamu yang masih baru memulai.

Oke, saya siap menjadi penulis. Lalu, apa yang harus saya lakukan?

Pertama, kamu harus punya minat (keinginan) yang kuat dulu. Kalau keinginanmu sudah kuat, maka akan timbul cinta. Ketika sudah berbentuk cinta, ini mudah, tinggal kamu syukuri dan kamu rawat. Berbekal cinta menulis itu, kamu akan menyingkirkan yang namanya malas, tidak mood, minder, dan lain sebagainya yang menghambatmu dari kegiatan menulis. Cinta akan membuatmu membuktikan, bahwa kamu bisa!

Orang jatuh cinta tidak takut hujan deras, badai menggila, atau gelombang pasang. Gunung saja rela didaki, laut rela diseberangi, dan samudera rela diselami. Demi apa? Demi cinta! Apalagi ini hanya berhadapan dengan hal ‘remeh-temeh’ yang bersumber dari dirimu, pasti kamu lebih bisa menyingkirkannya.

Kedua, kamu harus komitmen mewujudkan cintamu itu. Kalau kamu sudah rajin menulis dan menikmatinya, pasti kamu akan kecanduan. Siap-siaplah kamu kecanduan! Akan gelisah kalau tidak nulis sehari saja, tangan ‘gatal’ dan terasa ada yang kurang. Maunya nulis, nulis, dan nulis.

Tapi sudah banyak tema yang ditulis orang, lalu tema apalagi yang harus yang saya tulis?

Ingat, ide bisa dicari dan ditemukan, bahkan imajinasi bisa diolah. Meskipun sudah banyak tema sama yang ditulis orang lain, bukan berarti kamu kehabisan tema dan ladang menulismu hilang. Tema boleh sama, tinggal kamu belajar teknik mengolah ide. Sudut pandang yang beda, pemikiran yang beda, akan melahirkan tulisan yang berbeda meskipun ide sama. Catat itu! Semakin tergali ide, kamu akan semakin menemukan hal-hal baru yang bisa dituangkan. Otak penulis tidak pernah sepi, akan selalu dipenuhi ide-ide. Peristiwa sehari-hari yang kamu lihat bisa membuatmu lebih kreatif menyusunnya jadi tulisan. Dari sana akan lahir berbagai karya  dengan ciri khasmu yang pasti sangat membanggakanmu.

Lalu bagaimana caranya supaya komitmen menulis?

Seseorang disebut petani karena dia bertani. Seseorang disebut pedagang karena dia berdagang. Seseorang disebut penulis karena dia menulis. Kalau sudah tekad jadi penulis, maka harus menulis! Tidak lagi tergantung pada suasana hati (mood), bahkan kamu harus rela mengesampingkan masalah pribadi yang membuatmu galau dan nangis bombay. Bayangkan kalau galaumu berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, lalu nasib tulisanmu? Apakah harus menunggumu hingga sembuh dari galau? Lalu kapan, kapan? So, ingat lagi tekadmu untuk jadi penulis.

Penulis yang profesional dia memperlakukan aktivitas menulisnya seperti sebuah pekerjaan kantoran; dilakukan setiap hari, memiliki target, tanpa peduli mood dan suasana hati. Tak ada alasan membolos! Nah kalau di sini kamu boleh menjadikan aktivitas menulismu seperti lomba lari marathon, seperti yang dilakukan penulis asal Jepang Haruki Murakami. Menurutnya, demi mencapai garis finish, seseorang harus cerdik mengatur tenaga agar tak kelelahan di tengah jalan.

Apakah karya saya akan dibaca orang, disukai dan laris?

Setelah karyamu dilempar ke pasar, kamu tidak punya kuasa lagi menentukan nasibnya. Mungkin menurut satu-dua orang karyamu itu sangat bagus, sebaliknya menurut banyak orang karyamu tidak menarik. Pembaca akan memberikan nilai pada karyamu sesuai sudut pandangnya masing-masing. Tulisanmu bisa dibilang “enggak mutu”, “cuma gini doang”, “udah pasaran”, de-el-el. Biarkan orang lain mengagumi, mengkritisi hingga mencaci karyamu. Sebaik atau seburuk apa pun karyamu, tidak akan bisa memuaskan semua orang. Yang penting kamu  terus konsisten menghasilkan karya.

Jangan lupa promosikan terus karyamu dengan caramu. Bisa dengan cara yang dilakukan temanmu atau cara-cara kreatif lain yang dilakukan para penulis. Kalau bukan kamu yang mempromosikan, siapa lagi? Siapa tahu dengan rajin promosi, karyamu banyak disukai, dibeli dan dibaca. Bahkan tidak mustahil, laris manis seperti karya temanmu, bahkan lebih laris.

Bagaimana kalau di tengah jalan kamu jenuh menulis, apalagi kalau bukumu tidak laku-laku?

Setiap penulis pasti pernah mengalami kondisi di mana kehilangan semangat dan ide untuk melanjutkan tulisannya (writer’s block).  Ini salah satu tantangan jadi penulis. Dalam kondisi seperti itu, kamu perlu merehatkan dulu sejenak kegiatan menulismu dengan melakukan aktivitas lain yang menyegarkan; mendengarkan musik, jalan-jalan, datang ke toko buku, nonton film, bertemu teman sesama penulis yang dapat membuat pikiranmu fresh kembali. Namun kamu jangan larut dalam rehat, hingga lupa tujuan awalmu menjadi penulis. Itu namanya bukan rehat, tapi pensiun!

Ingat lagi saat pertamakali kamu jatuh cinta pada menulis. Ingat lagi keterpesonaanmu pada karya-karya yang telah kamu hasilkan. Ingat lagi saat kamu berjuang keras menyingkirkan rasa malas, minder, dan mengatur waktu demi memperjuangkan cintamu. Ingat lagi tentang semangatmu kala itu yang begitu berkobar hingga mencapai titik candu (kasmaran menulis). Mainkan perasaanmu dan rangkul kembali penamu. Peluk erat, jangan dilepas lagi! Bangkitkan lagi cinta lamamu. CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) akan membuatmu kembali semangat, bergairah, kreatif, dan produktif berkarya.

Ssst... sedikit cerita, saya juga termotivasi menulis salah satunya karena bertemu seorang penulis yang usianya sebaya saya dan waktu itu sudah menghasilkan 46 buku nonfiksi—yang semua bukunya diterbitkan penerbit mayor. Wow! Sementara saya ketika itu belum menerbitkan satu buku pun! Itu pelecut bagi saya. Tanpa niat bersaing, saya pun mulai konsisten menulis.  Suatu hari, ketika dia membaca profil dan buku saya mejeng di media, dia berujar, “Oh, ini kamu yang dulu itu? Ck... ck, cepat sekali dikenal jadi penulis ya?” katanya. Hmm... saya tersenyum sipu, antara senang, bangga dan gimana gitu, he..he.

Kamu tahu nggak, jadi penulis itu enaknya cuma tiga bulan saja, selanjutnya... ueeenaaak sekali! (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...