Cinta bertepuk sebelah tangan. Itulah yang penulis coba tuturkan dalam bait-bait puisi sederhana ini. Jatuh cinta membuat sosok yang diharapkan itu mengendap dalam kepala, atau biasa kita sebut: bayang-bayang. Maka, judul puisi ini menjelaskan betapa dalamnya rasa cinta tak berbalas.
Si bayangan ada di tempat yang jauh dari hati; tidak tahu, tidak mengerti, maka jatuh ke pemahaman oleh sang perindu bahwa itu "tidak peduli". Bayangan yang tidak tahu apa-apa memang tidak bisa disalahkan, apalagi digugat. Karena bayangan selamanya akan bisu. Dan sebagaimana bayangan, sosok yang dicinta itu hanya sekadar ada, tanpa hadir dalam bentuk seutuhnya, menemani "aku" yang dirundung berbagai kesusahan. Duhai, alangkah pahitnya.
Tim FAM Indonesia menemukan sejumlah kesalahan penulisan, di antaranya ada pada kata-kata berikut: "satupun", "takkan", "ku tahu". Yang benar ditulis: "satu pun", "tak 'kan", "kutahu".
Pesan untuk penulis, teruslah berlatih dan berlatih. Puisi tidak sekadar ungkapan hati, tetapi juga kedalaman makna pada tiap pilihan kata. Maka jangan henti berpuisi dan nikmati prosesnya, hingga kelak puisi yang tercipta lebih matang dari hari ini.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]
BAYANGANKU PUN TAK TAHU....
Oleh Walrina (IDFAM3345U)
Tak satupun orang tahu saat aku bersedih
Tak ada mata yang melihat raut dukaku
Tak ada bibir yang berucap menghiburku
Tak ada tangan yang usap air mataku
Bahkan bayanganku pun tak tahu
Kapan aku jatuhkan air mata itu
Kapan hatiku merasa pilu
Kapan batinku terasa ngilu
Dan kaupun takkan pernah tahu
Bagaimana rasa hatiku
Saat ku tahu bahwa dirimu
Selamanya takkan jadi milikku....
Samboja, 6 Agustus 2011
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
Si bayangan ada di tempat yang jauh dari hati; tidak tahu, tidak mengerti, maka jatuh ke pemahaman oleh sang perindu bahwa itu "tidak peduli". Bayangan yang tidak tahu apa-apa memang tidak bisa disalahkan, apalagi digugat. Karena bayangan selamanya akan bisu. Dan sebagaimana bayangan, sosok yang dicinta itu hanya sekadar ada, tanpa hadir dalam bentuk seutuhnya, menemani "aku" yang dirundung berbagai kesusahan. Duhai, alangkah pahitnya.
Tim FAM Indonesia menemukan sejumlah kesalahan penulisan, di antaranya ada pada kata-kata berikut: "satupun", "takkan", "ku tahu". Yang benar ditulis: "satu pun", "tak 'kan", "kutahu".
Pesan untuk penulis, teruslah berlatih dan berlatih. Puisi tidak sekadar ungkapan hati, tetapi juga kedalaman makna pada tiap pilihan kata. Maka jangan henti berpuisi dan nikmati prosesnya, hingga kelak puisi yang tercipta lebih matang dari hari ini.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]
BAYANGANKU PUN TAK TAHU....
Oleh Walrina (IDFAM3345U)
Tak satupun orang tahu saat aku bersedih
Tak ada mata yang melihat raut dukaku
Tak ada bibir yang berucap menghiburku
Tak ada tangan yang usap air mataku
Bahkan bayanganku pun tak tahu
Kapan aku jatuhkan air mata itu
Kapan hatiku merasa pilu
Kapan batinku terasa ngilu
Dan kaupun takkan pernah tahu
Bagaimana rasa hatiku
Saat ku tahu bahwa dirimu
Selamanya takkan jadi milikku....
Samboja, 6 Agustus 2011
Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments
Post a Comment