Skip to main content

Geliat Karya Penulis Cilik

Oleh Aliya Nurlela

Akhir-akhir ini banyak kita temukan karya para penulis cilik, bukan hanya di media tapi termasuk yang sudah dibukukan. Buku-buku tersebut kuantitasnya hampir sama dengan buku-buku yang dihasilkan orang dewasa. Sama-sama produktif dan terpajang di toko-toko buku terkenal. Sudah seharusnya kita merasa bangga dengan kemunculan para penulis cilik ini. Sebab hal itu menunjukkan minat anak terhadap aktivitas membaca dan menulis semakin meningkat. Berkat kebiasaan anak dalam membaca, sebagian dari mereka mencoba menuangkan imajinasinya dalam bentuk tulisan dan imajinasi pun berkembang.

Sebut saja Qurrota Aini, Arifia Sekar Seroja, dan Abdurrahman Faiz, mereka sudah menulis sejak anak-anak dan mempublikasikan karyanya di media maupun dalam bentuk buku. Awalnya sederhana saja, seperti Qurrota Aini sejak kecil sering dimasukkan boks bermain sambil ditemani buku-buku dan majalah anak. Sejak itu ia senang pegang buku dan coret-coret. Berlanjut mengungkapkan perasaan lewat buku harian, hingga kemampuan menulisnya itu terasah. Masih duduk di bangku sekolah dasar saja, Qurrora Aini telah menghasilkan sejumlah cerpen dan novel. Patut diacungi jempol atas prestasinya tersebut. Tak heran, jika MURI (Museum Rekor Indonesia) memberikannya penghargaan pada tahun 2005 sebagai Peraih anugerah penulis antologi cerpen termuda.

Demikian  halnya Ilma Nurfalah, penulis buku Puisi “Jeujeuer” yang diterbitkan FAM Publishing pada Mei 2013, ia sudah menulis sejak kecil dan di usia sekolah dasar mendapat berbagai penghargaan, termasuk dalam bidang menulis. Ilma Nurfalah pernah menjadi juara 1 lomba cipta puisi tingkat SD se-Kota Padangpanjang, juara 1 lomba bercerita tingkat SD se-Kota Padangpanjang dan peserta lomba cipta puisi dalam lomba cipta seni tingkat nasional. Sebuah prestasi luar biasa yang diraih Ilma Nurfalah di usia anak-anak.

Prestasi yang diraih oleh Qurrota Aini dan Ilma Nurfalah ini tentu tak lepas dari bimbingan orangtua dan lingkungan yang sejak kecil telah membiasakannya mencintai buku, memberi kesempatan menulis serta mendukung minat baik tersebut hingga karyanya terpublikasi dan dapat dinikmati pembaca.

Saya masih ingat sewaktu kecil paling suka mendapat oleh-oleh buku atau majalah. Mengapa demikian? Saya patut bersyukur dan berterima kasih kepada orangtua yang rutin berlangganan buku dan majalah setiap bulan, membeli buku-buku terbaru dan menjadikan rumah seperti sebuah perpustakaan. Sejak kecil saya menyaksikan kedua orangtua yang suka membaca, saudara-saudara pun demikian. Sepertinya membaca buku di rumah kami menjadi santapan wajib yang tidak boleh terlewatkan. Karena kebiasaan demi kebiasaan itulah, maka saya dan saudara-saudara kandung saya sangat suka buku. Kami senang sekali ketika mendapat oleh-oleh buku, majalah atau koran dan akan langsung berebut untuk membaca lebih dulu. Sangat jauh berbeda dengan saat mendapat oleh-oleh makanan. Alhasil, berkat kebiasaan orangtua itulah, kami sembilan bersaudara memiliki hobi yang sama yaitu membaca dan menulis.

Setelah menikah dan memiliki anak, kebiasaan dan hobi saya itu tentu masih melekat. Bahkan sering menulis atau membaca di sela-sela kegiatan memasak. Belanja buku pun –meskipun tidak banyak—menjadi rutinitas bulanan. Meskipun saya tidak mencetak anak menjadi penulis, hanya memberikan motivasi-motivasi sederhana saja, tapi saya perhatikan sejak kecil anak saya suka membaca dan menulis. Oleh karena itu, waktu ia masih duduk di kelas dua sekolah dasar, saya kirimkan tulisannya untuk mengikuti lomba di majalah anak. Alhamdulillah menjadi salah satu pemenangnya dan berhak mendapatkan hadiah. Berkat apresiasi dari pihak luar itulah, tampaknya semangat menulisnya semakin menjadi. Saya biarkan ia kreatif menulis apa saja, orangtua cukup memantau dan memberikan fasilitas. Sementara karyanya sendiri, menurut saya karya anak itu tidak perlu terlalu banyak diberikan sentuhan atau pengeditan, agar hasilnya alami dari sudut pandang anak-anak dan menggunakan bahasa anak-anak.

Sebagai orangtua saya tentu merasa bangga ketika pada perkembangan berikutnya, anak saya meraih penghargaan sebagai Penulis Berbakat tingkat kabupaten. Bahkan ia pernah diam-diam meresensi buku saya dan dimuat di sebuah majalah  SMA. Padahal dia masih anak-anak, belum SMA. Andai, guru pembina majalah tersebut tidak bercerita, mungkin saya tidak pernah tahu karyanya yang dimuat itu. Sejak itu, saya mengajak anak untuk menekuni hobinya, menulis dan menulis. Terserah menulis apa saja, yang penting menulis dulu. Saya biarkan ia menulis tentang artis-artis Korea yang sedang digandrungi anak muda atau mencurahkan perasaannya di buku harian. Saya hanya memberikan arahan saja agar dalam tulisan itu ada pesan bermakna yang disampaikan. Tidak hanya bercerita ngalor-ngidul yang tidak ada isinya.

Namun satu hal yang awalnya menurut saya, aneh. Ketika anak saya disuruh menulis dongeng dan fabel untuk dikirim ke majalah anak, ia menolak. Saya pun heran, kok bisa? Saya saja orangtuanya masih suka menulis dongeng dan fabel. Ternyata dia punya alasan, hanya ingin menulis yang ia sukai saja. Apakah mau dimasukkan karya anak-anak atau remaja tanggung, terserah,  yang penting dia menulis. Jawaban itu membuat saya termenung. Ternyata, yang namanya karya anak itu memang tidak selalu harus berbentuk cerita anak. Karya anak itu adalah karya yang ditulis oleh anak-anak dan  soal isi bisa bermacam-macam, tidak harus berbentuk cerita anak. Akhirnya saya pun tidak pernah mendorongnya lagi menulis cerita anak. Biarlah berkembang sesuai minatnya, dan seiring pertambahan usianya, minat menulis itu pun akan terasah. Sebagai orangtua, tidak boleh meremehkan karya anak, meskipun mungkin di mata orang dewasa karya itu dianggap jelek, justru kita harus menghargainya agar anak semakin giat berlatih. Bahkan saya sering tertegun membaca karya para penulis cilik yang ternyata sangat luar biasa. Belum tentu saya mampu menulis sebagus mereka, di usia seperti itu.

Di awal berdirinya, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia membatasi keanggotaan dari usia pelajar SMP ke atas. Namun pada perkembangannya, banyak pelajar SD yang ingin menjadi anggota dan akhirnya keanggotaan FAM Indonesia kami buka untuk berbagai usia. Suatu kebahagiaan bagi FAM dengan banyaknya pelajar SD yang bergabung menjadi anggota, mengikuti event menulis yang digelar FAM atau pihak luar dan mulai mengirim karyanya ke media serta menerbitkan buku. Semoga dari tangan mereka akan lahir karya-karya hebat, menjadi penulis muda berbakat dan menjadi generasi penerus yang menyebarkan semangat cinta membaca dan menulis karangan.

*) Aliya Nurlela, Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...