Skip to main content

Ulasan Cerpen “Bayangan 2012” karya Chaliza Nazra Nst (Anggota FAM Medan)

Chaliza Nazra Nst (kanan)

Kali ini FAM Indonesia mengulas karya Chaliza Nazra Nst (Call Ijhee), anggota FAM Wilayah Medan (nomor keanggotaan: FAM140S). Chaliza mengirim cerpen berjudul “Bayangan 2012”. Cerpen ini bercerita tentang tokoh “aku” bernama Mira yang bermimpi kiamat 2012 terjadi. Dalam mimpinya itu Mira sedang berada di sekolahnya, tetapi suasana sepi mencekam. Tidak ada orang.

Di sekolahnya itu, Mira hanya bertemu Pak Girin, penjaga sekolah yang muncul tiba-tiba dengan pakaian hitam dan topi lebar. Pak Girin membawa sapu dan segepok kunci seperti kunci penjara. Mira merinding melihat sikap Pak Girin yang aneh. Pak Girin berjalan di hadapan Mira dengan tampang dingin, tak membalas sapaannya.

Penulis melukiskan suasana mencekam di sekolah Mira dalam paragraf sebagai berikut:

“Sekolah yang sudah menyatu dengan jiwa kini mulai terasa asing, gelap dan sangat menyeramkan. Aku harus segera pulang, menembus gerimis yang rapat dan mencari angkot di simpang jalan sekolah. Di rumah, pasti aku tak akan merasakan keterasingan ini, keterasingan yang benar-benar asing dan tak bisa kujawab. Sekolah yang mendadak sepi, gelap dan dingin...”.

Tokoh aku akhirnya bertemu dengan teman-temannya di tengah tanah lapang di simpang jalan. Di lapangan itu orang sudah banyak berkumpul dengan wajah cemas. Mira bertanya kepada teman-temannya apa yang terjadi. Tetapi banyak yang tidak tahu. Teuku, kawannya menyebut bahwa sebentar lagi akan terjadi kiamat.

“Kita sedang menghadapi kiamat, katanya kita harus menghadapi bersama, enggak boleh masing-masing,” wajah Teuku nampak pasrah dan cenderung tolol. Aku melongo dan pias, wajah Bunda, ayah dan ketiga adikku melintas dalam bayangan di kepalaku yang terasa membesar. Oh Tuhan, jikapun kiamat akan datang, mengapa aku harus pasrah di sini? Menunggu seperti lembu atau kerbau bodoh? Aku bergerak, berlari keluar kerumunan, Teuku menjerit-jerit mencegahku.

Mira terus berlari sementara jarak rumahnya masih sangat jauh. Di tengah perjalanan ia terengah dan tiba-tiba muncul air bah yang besar. Mira menjerit histeris. Tubuhnya terasa ada yang mengguncang-guncang. Guncangan itu ternyata bersumber dari tangan ibunya yang menyadarkan Mira dari mimpinya di siang bolong.

“Mira, kenapa sayang?” Bunda mengguncang tubuhku. Aku terbangun dari tidur siangku. Kuhela nafas panjang. Mengerjap-ngerjapkan mataku yang basah. Badanku terasa sakit. Tulang-tulangku ngilu. Keringat dingin keluar dari tubuhku, dan tulang edmoidku serasa di tusuk jarum.

Cerpen-cerpen yang dibuka dengan ketegangan lalu berakhir dengan terjaganya si tokoh utama dari mimpinya sudah banyak sekali ditulis oleh penulis-penulis cerpen sebelum Chaliza Nazra. Jadi, teknik penulisan yang dilakukan Chaliza Nazra bukanlah yang baru, tetapi sudah umum. Namun demikian, sebagai penulis pemula Chaliza Nazra telah berhasil membawa hanyut pembacanya untuk terus membaca cerpen itu hingga titik paling akhir, walau akhirnya pembaca kecewa bahwa ketegangan-ketegangan di awal cerita ternyata hanya mimpi si tokoh utama saja. Akan sangat mengesankan bila kejadian kiamat itu benar-benar terjadi di dalam cerpen Chaliza Nazra. Sebab apa yang terjadi didalam cerpen tidak harus benar-benar ada di dalam kehidupan nyata.

Gaya bahasa Chaliza Nazra dalam cerpen ini cukup mengalir. Ketegangan yang ditulisnya mengundang penasaran. Tetapi Chaliza Nazra terlalu banyak menulis kalimat yang kurang efektif dan terlalu panjang. Mari kita simak kalimat pembuka cerpen Chaliza Nazra berikut ini:

Langit tampak pekat tanpa cahaya, angin semilir menggugurkan daun-daun akasia di halaman sekolah. Aku sendiri melangkah di koridor Sekolah, merasakan hentakan langkah kakiku sendiri yang terasa seperti dentuman gadam. Pemandangan yang aneh dan tak biasa, kemana semua sahabatku yang biasa hingar bingar seperti menonton konser musik boy band yang keren?. Kemana Britney, John, Teuku dan Nessa sahabat yang selalu setia menguntitku seperti menguntit artis idola?. Aku tak dapat menjawab semua, kepalaku berdengung menyusup ke ubun-ubun, semakin aku berpikir, semakin kepala itu berdenyut.

Kalimat di atas terlalu panjang dan kurang efektif. Coba dibandingkan setelah diedit berikut ini:

Langit tampak kelam. Angin kering menggugurkan daun akasia di halaman sekolah. Aku berjalan seorang diri di koridor. Yang terdengar hanya langkah kakiku bagai suara godam. Pemandangan terasa aneh. Kemana kawan-kawanku yang biasa ribut seperti menonton konser musik boyband yang keren? Kemana Britney, John, Teuku dan Nessa, sahabat setia yang selalu menguntitku seperti mengikuti artis idola? Aku tak mampu menjawab. Kepalaku berdenyut sakit hingga ke ubun-ubun. Semakin aku berpikir, semakin terasa berat beban di kepalaku.

Hasil editing di atas lebih ringkas, padat, dan menarik. Di paragraf-paragraf cerpen Chaliza berikutnya juga masih terdapat banyak kalimat yang terlalu panjang. FAM menganjurkan, gunakanlah kalimat-kalimat pendek sehingga enak dibaca. Pembaca juga tidak harus kehabisan nafas karena membaca kalimat yang panjang.

Chaliza Nazra dianggap berhasil menulis cerpen ini. Buktinya Chaliza sudah merampungkan cerpennya. Permasalahan urgen hanya soal editing saja. Itu bisa dilakukan Chaliza di kala senggang ketika ia membaca ulang karyanya ini. Proses editing sangat penting. Tujuannya agar cerpen yang ditulis benar-benar sempurna sebagai sebuah cerpen, yang tentu saja tidak hanya dibaca oleh penulisnya, tetapi juga dinikmati oleh khalayak pembaca lainnya.

Chaliza, teruslah berkarya. Lahirkan cerpen-cerpen lainnya yang tak kalah luar biasa. Eksplorasilah tema-tema kehidupan di sekitar kita menjadi cerita yang mengundang tanya, tawa, tangis, atau juga kisahnya berakhir tragis. Semua tidak mustahil bila Chaliza terus menulisnya.

Salam aishiteru,
FAM INDONESIA

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...