![]() |
| Ilustrasi |
Pada bait berikutnya, tersebutlah kata "rindu" itu, tempat di mana siksaan ini bermula. Judul "Aku dan Heningku" terasa tepat, sebab pertemuan yang tak terjadi membawa hening, gara-gara terlalu banyak memikirkan rindu "yang menghantui". Sosok "aku" pun tak berdaya, hanya bisa menuangkan segala rasa lewat "sajak-sajak curahan hati"-nya. Entah apa yang menumbuhkan kebuntuan ini. Yang pasti, rindu itu hanya terpendam dalam hening dan malam. "Membeku dan tidak bergerak" adalah ketidakberdayaan. Lengkap sudah derita yang ditanggungnya.
Sedikit koreksi ada pada penulisan "heningpun", yang semestinya tertulis "hening pun". Selebihnya mengenai EYD sudah benar. Sementara tentang isi dari puisi ini, penulis sudah cukup baik menggambarkan perasaan tersiksa akibat rindu itu, dengan menjadikan malam dan hening sebagai wujud dari derita.
Pesan untuk penulis agar jangan berhenti berlatih. Terus menulis dan menulis.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
Aku dan Heningku
Karya: Agus Sang Penghibur
Hening ini berkuasa
di raut malam membentang hitam
wajah rembulan tak tampak
nan biasanya di pucuk cemara
Pada hembus angin malam
kuteriak titip rinduku padanya
yang menjauh dari sukma
namun selalu dekat
pada segumpal darah dalam tubuh ini
rindu-rindu selalu menghantui
Sajak-sajak selalu jadi curahan hati
dan heningpun selalu setia menemani
lirih dalam hatiku memanggilmu
kini hanya dingin mencekam
kurasa bersama lamunan kerinduan
dan membeku tak bergerak
di tengah hitamnya malam.
Sumber gambar: bilarindutinggalkata.wordpress.com

Comments
Post a Comment