![]() |
| Sumber ilustrasi: www.harianaceh.co.id |
Penulis berusaha membandingkan kebenaran seorang penyair yang "berpikir" lewat kata-kata indahnya, dengan politisi yang lebih "tidak berpikir" dengan kata-kata yang sama indahnya. Maka, jelaslah tampak mana yang benar dan mana yang salah.
Koreksi dari Tim FAM ada pada penulisan kata "kedepannya", yang seharusnya ditulis "ke depannya". Ada pula kesalahan ketik pada "rangakaipun", yang sebetulnya "rangkai pun".
Terus berkarya.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
Sang Pewakil Kami
Eka Susanti (IDFAM685U)
Tampangmu begitu gagah dan bengis, penuh kewibawaan dan percaya diri
Meyakini setiap lontaran kata yang diulurkan, tanpa mengingat kedepannya
Mengobral-obralkan janji yang begitu murah, tak semurah BBM yang kau tawarkan. Tak seharga sembako yang kau janjikan sebelumnya
Katamu indah sebagaimana kata mereka, kau pandai bermain merangkai kata sehingga kami terpedaya. Kau rangkai kata demi kata bak seorang penyair menyalurkan inspirasinya. Inspirasimu berbeda dengan penyair, kata yang kau rangakaipun berbeda dengan seorang penyair.
Kau tak memikirkan siapa yang akan menikmati katamu, kau juga tak memikirkan analisis yang akan dilakukan pendengarmu. Kedepannya,
Semarak Korupsi di Meja Bundar

Comments
Post a Comment