Puisi-puisi tentang Sang Pencipta sebagiannya selalu menonjolkan tiga hal: keagungan Tuhan, kelemahan seorang makhluk, dan rasa "tak berdaya" di hadapan-Nya bagi mereka yang beriman. Seperti halnya puisi ini, menunjukkan ketidakberdayaan seorang makhluk yang merasa kecil. Namun, rasa tidak berdaya ini tak menimbulkan ketakutan, justru tumbuh kesadaran diri untuk lebih mendekat pada-Nya.
Ada beberapa koreksi dalam penulisan/EYD, di antaranya kata "nafas", "takkan", "ridho", "tuhanpun", "dewapun", dan "mengkonvensionalkan", yang seharusnya ditulis "napas", "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof ( ' )), "ridha", "tuhan pun" (terpisah), "dewa pun" (terpisah), dan "mengonvensionalkan" (huruf 'k' lebur).
Sedikit catatan. Penulisan partikel "pun" di belakang setiap kata wajib terpisah, seperti pada penulisan kata "tuhan pun" dan "dewa pun" dalam puisi ini. Namun, ada 12 kata yang masuk pengecualian, yakni: "adapun", "andaipun", "ataupun", "bagaimanapun", "biarpun", "meskipun", "maupun", "kalaupun", "kendatipun", "walaupun", "sungguhpun", dan "sekalipun". Selain pengecualian tersebut, penulisan "pun" wajib terpisah dari kata apa pun.
Pesan dari Tim FAM untuk penulis adalah agar lebih memperkaya pilihan diksi. Puisi yang indah dan bermakna memang tidak selalu harus menggunakan diksi penuh warna. Akan tetapi, puisi yang baik juga tak lepas dari kejelian seorang penulis dalam menjalin diksi-diksi yang sederhana sekalipun, menjadi sebuah untaian kata-kata khas (tidak klise) dan nikmat diresapi.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Nafas Ini
Oleh Adris Wuryani (ID FAM2180S)
Allah.. tiada kata lain
Tuhanpun tidak lebih indah dari-Mu
dewapun, entahlah
Aku hanya menyembahkan nafas ini untuk-Mu
Menuahkan ayat ayat suci-Mu
Memotret keanugerahan yang Kau semai untukku
Memendam ujian,
dan terus menggali kebangkitan dengan firman-Mu
Aku takkan hidup tanpa nafas
nafas suci penuh makna
Upaya terus berotasi menggapai ridho-Mu
Berevolusi ikhlas mencapai nikmat-Mu
Aku gadis kertas yang usang
berusaha mengkonvensionalkan ajaran rasul
namun masih megikatkan dengan kehalalan
Nafas..
Allah...
Rasul...
Ajarkan gadis kertas ini dalam hal keikhlasan
Sumber ilustrasi: forum-tekaje.blogspot.com
Ada beberapa koreksi dalam penulisan/EYD, di antaranya kata "nafas", "takkan", "ridho", "tuhanpun", "dewapun", dan "mengkonvensionalkan", yang seharusnya ditulis "napas", "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof ( ' )), "ridha", "tuhan pun" (terpisah), "dewa pun" (terpisah), dan "mengonvensionalkan" (huruf 'k' lebur).
Sedikit catatan. Penulisan partikel "pun" di belakang setiap kata wajib terpisah, seperti pada penulisan kata "tuhan pun" dan "dewa pun" dalam puisi ini. Namun, ada 12 kata yang masuk pengecualian, yakni: "adapun", "andaipun", "ataupun", "bagaimanapun", "biarpun", "meskipun", "maupun", "kalaupun", "kendatipun", "walaupun", "sungguhpun", dan "sekalipun". Selain pengecualian tersebut, penulisan "pun" wajib terpisah dari kata apa pun.
Pesan dari Tim FAM untuk penulis adalah agar lebih memperkaya pilihan diksi. Puisi yang indah dan bermakna memang tidak selalu harus menggunakan diksi penuh warna. Akan tetapi, puisi yang baik juga tak lepas dari kejelian seorang penulis dalam menjalin diksi-diksi yang sederhana sekalipun, menjadi sebuah untaian kata-kata khas (tidak klise) dan nikmat diresapi.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Nafas Ini
Oleh Adris Wuryani (ID FAM2180S)
Allah.. tiada kata lain
Tuhanpun tidak lebih indah dari-Mu
dewapun, entahlah
Aku hanya menyembahkan nafas ini untuk-Mu
Menuahkan ayat ayat suci-Mu
Memotret keanugerahan yang Kau semai untukku
Memendam ujian,
dan terus menggali kebangkitan dengan firman-Mu
Aku takkan hidup tanpa nafas
nafas suci penuh makna
Upaya terus berotasi menggapai ridho-Mu
Berevolusi ikhlas mencapai nikmat-Mu
Aku gadis kertas yang usang
berusaha mengkonvensionalkan ajaran rasul
namun masih megikatkan dengan kehalalan
Nafas..
Allah...
Rasul...
Ajarkan gadis kertas ini dalam hal keikhlasan
Sumber ilustrasi: forum-tekaje.blogspot.com

Di baris kedua tertulis,"Tuhanpun tidak lebih indah dari-Mu".
ReplyDeleteMaaf, saya bingung. Allah sendiri itu kan Tuhan. Mengapa ditulis Tuhan pun tidak lebih indah dari-Mu? Apakah maksud penulisnya Allah itu bukan Tuhan? Atau ada Tuhan lain selain Allah?