Bill Gates jatuh cinta pada komputer sejak pertama kali
melihatnya. Bill yang sejak kecil terkenal cerdas, menunjukkan kecintaannya itu
dengan membuat klub pecinta komputer. Anggota klubnya terdiri dari anak-anak
yang cerdas, termasuk Paul sahabatnya. Kebiasaan Bill yang suka begadang dan
mengabaikan pelajaran sekolah, membuat orangtuanya bersikap tegas. Bill
dijauhkan dari komputer.
Selama tidak bersentuhan dengan komputer, Bill banyak
membaca buku ensiklopedi tokoh-tokoh besar dunia. Usia 13 tahun, Bill sudah
punya pemikiran besar tentang komputer. Ia menyampaikan pada sahabatnya, Paul,
harus bisa menjual sesuatu pada dunia melalui bisnis komputer. Kesempatan
pertama datang, Bill dan sahabatnya dipercaya sebagai tester sistem keamanan
perusahaan Computer Center Corp. Imbalannya bukan uang, melainkan boleh
menggunakan komputer sesuka hati. Tentu saja, Bill sangat menyukainya.
Berkat pekerjaan pertamanya, Bill dipercaya sebagai
debugger di perusahaan kontraktor pertahanan. Ia juga diserahi tanggungjawab
komputerisasi jadwal sekolah. Setelah makin dipercaya, Bill dan Paul mendirikan
perusahaan bernama Traf-O-Data. Di perusahaan kecil ini, mereka bekerja berdua,
tanpa karyawan. Mereka berhasil membuat berbagai macam program baru, termasuk
program untuk mengukur aliran lalu lintas.
Usia 20 tahun, Bill dan
Paul mengontak Altair mengatakan bahwa memiliki software yang bagus, padahal
saat itu mereka tidak memiliki software apa pun. Di luar dugaan, Altair
tertarik. Setelah
itu order pun berdatangan dari perusahaan-perusahaan besar, hingga keduanya mendirikan
perusahaan komputer dengan nama Microsoft. Kejayaan Microsoft diperoleh setelah
dipercaya sebagai mitra IBM untuk membuat software-softwarenya.
Setelah kaya raya, Bill menikah di usia 37 tahun dengan
pesta yang sangat mewah. Ia memesan semua hotel di Hawai dan mobil sewaan. Bill
juga aktif dalam kegiatan sosial dan menyumbangkan lebih dari 50% total
kekayaannya. Ia membeli jet pribadi seharga lebih dari 500 miliar rupiah. Hal
itu dilakukannya untuk menghemat waktu. Menurutnya, waktu adalah hal yang
sangat penting dan harus digunakan secara efektif. Ia tidak mau buang waktu
menunggu di bandara dan membeli tiket. Uniknya, Bill tidak mau memasang
televisi di rumah. Menurutnya, TV akan memberikan efek yang tidak baik bagi
asupan otaknya dan anak-anaknya. Sebagai gantinya, ia memasang sebuah peta
dunia berukuran besar yang digunakan untuk menghapal wilayah ekspansi
bisnisnya.
[Cerita ini dikutip dari kisah nyata Bill Gates, berbagai
sumber/sudah saya ringkas]
Hobi jika dipupuk dengan baik, akan menjadi profesi yang
menghasilkan dan bermanfaat.
*)Aliya Nurlela, Penulis & Pegiat FAM Indonesia

Comments
Post a Comment