Dahlan kecil hidup di lingkungan pedesaan dalam kondisi serba
kekurangan. Ia hanya memiliki satu celana pendek, satu baju dan satu sarung.
Sarung itu menjadi andalannya, bersifat multifungsi; bisa untuk ibadah,
selimut, alas kepala, pengganti baju saat sedang dicuci atau pengganti celana
saat sedang dicuci. Ia sengaja memilih sendiri tanggal lahirnya, yaitu 17
Agustus karena orangtua Dahlan lupa kapan anaknya dilahirkan. Biasanya sang
ayah menuliskan tanggal lahir anak-anaknya di belakang lemari, namun sayang
lemari itu terpaksa dijual untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Dahlan bersekolah tanpa alas kaki, ia tidak mampu membelinya. Ia
baru memiliki sepatu setelah kelas 2 SMA, membeli di pasar loak dengan harga
yang murah. Ia memakai sepatu itu seminggu sekali agar tidak cepat rusak,
mengingat berangkat sekolah harus berjalan kaki sejauh 5km. Dahlan pernah
kuliah, tapi tidak menyelesaikan kuliahnya. Tahun 1975, pindah ke Samarinda
memulai karier sebagai calon reporter di sebuah surat kabar kecil. Tahun 1976
menjadi wartawan Majalah Tempo. Kariernya berkembang pesat, tulisan-tulisannya
di Majalah Tempo banyak disukai masyarakat. Tahun 1982, Eric FH Samola
(direktur PT Grafiti Pers/Penerbit Majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Eric
mengangkat Dahlan untuk memimpin Jawa Pos.
Sebelum diambil alih oleh Grafiti Pers, Jawa Pos merupakan koran
kecil dengan oplah 6000-an eksemplar—yang didirikan oleh The Chung Shen dengan
nama Djawa Post. Awal berdiri koran ini pernah berkembang, namun mengalami
kemerosotan tajam di tahun 1972. Dahlan berupaya “menyembuhkan” Jawa Pos. Ia
melakukan berbagai strategi unik dan out of the box. Salah satunya mengeluarkan
ide untuk menerbitkan koran tersebut di pagi hari.
Saat itu, budaya membaca koran adalah sore hari. Bahkan hampir
semua koran, terbit selepas siang. Dahlan bermaksud memberikan citra positif
pada Jawa Pos dengan terbit lebih awal. Harapannya, Jawa Pos akan terkesan
sebagai koran yang selalu mengabarkan berita-berita aktual dengan lebih cepat.
Namun sebagian staf tidak setuju dengan rencana Dahlan. Mereka pesimis Jawa Pos
tidak akan laku. Menurut mereka, pagi hari adalah waktu yang sibuk, jarang
orang membaca koran (belum membudaya). Tapi Dahlan tetap teguh dengan
pendiriannya. Ia optimis, itu adalah cara terbaik untuk menyulap Jawa Pos dari koran
tidak laku menjadi digemari masyarakat. Persoalan budaya membaca, pelan-pelan
bisa diubah.
Awalnya banyak yang terkejut, ketika ada koran terbit di pagi
hari. Namun Dahlan bersama timnya mengedukasi masyarakat bahwa membaca koran di
pagi hari lebih nyaman, suasananya masih fresh. Upaya Dahlan berhasil
cemerlang. Oplah Jawa Pos meningkat pesat, hingga koran-koran lain pun ikut
menerbitkan korannya di pagi hari. Dalam waktu 5 tahun, oplah Jawa Pos melejit
hingga 300.000 eksemplar. Omzet tahunan melesat 20 kali lipat dari omzet
pertama! Lima tahun kemudian, terbentuklah Jawa Pos Network (JPNN), salah satu
jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki lebih dari 80 surat
kabar, tabloid, majalah serta 40 jaringan percetakan. Tahun 1997, Dahlan Iskan
berhasil membangun Graha Pena, sebuah gedung perkantoran berlantai 20 yang
menjadi salah satu gedung pencakar langit di Surabaya. Tahun 2002, ia membangun
gedung serupa di Jakarta.
[Cerita ini dikutip dari kisah nyata Dahlan Iskan, berbagai
sumber/sudah saya ringkas]
Di tangan orang kreatif, pagi hari pun bisa menjadi inspirasi.
*Aliya Nurlela, Penulis & Pegiat FAM Indonesia
Foto: dokumentasi penulis di Graha Pena, Surabaya
Comments
Post a Comment