Skip to main content

Cerpen Makin Dramatis dengan Tanda Elipsis


"Tidaaakk ……….."

Sering kita jumpai dalam cerpen, novel atau naskah drama sebuah kalimat langsung yang menggunakan tanda titik yang sangat banyak seperti contoh di atas. Memang, kalimat atau kata dalam dialog seperti itu memberi kesan yang sangat ekspresif. Akan tetapi, ternyata penggunaan tanda titik beruntun juga ada kaidah atau aturannya dalam bahasa Indonesia.

Tanda titik beruntun (…) biasa disebut sebagai tanda elipsis. Tanda ini dipakai untuk menunjukkan sebuah kalimat yang belum selesai. Penulisan tanda ini cukup dengan tiga tanda titik yang didahului spasi untuk memisahkan dengan kata sebelumnya, tidak perlu terlalu banyak seperti contoh di atas. Penulisan tanda titik yang terlalu banyak tentu tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia serta membuatnya menjadi tidak efektif. Jika tanda ini berada di akhir kalimat, maka ditambahkan satu titik lagi -jadi empat titik (….)-  untuk menunjukkan kalimat telah selesai. Tanda elipsis ini sering dipakai pada soal-soal isian singkat dalam ujian. Namun tidak hanya itu, tanda elipsis juga bisa kita gunakan untuk membuat cerita yang kita tulis menjadi lebih hidup dan dramatis.

Bagaimana cara penggunaan tanda elipsis yang benar dalam sebuah cerita? Mudah. Kita bisa mengeksplorasi dialog yang kita buat dengan menggunakan tanda elipsis ini. Contohnya seperti berikut ini.
“Sebenarnya, aku … hei, sejak kapan adikmu menguping pembicaraan kita?” kata Arya tanpa melanjutkan kalimatnya ketika sadar bahwa ada orang lain di ruangan itu.
Atau dalam contoh lain, ketika kita menggunakan tanda elipsis di akhir kalimat, penulisannya bisa seperti berikut ini.
“Ibu, aku ….” Alia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Ia yakin ibunya tak akan mengizinkannya mengikuti Persami pekan depan.


Nah, begitulah cara penggunaan dan penulisan tanda elipsis agar cerita yang kita buat lebih dramatis. Ingat, penulisan yang benar dan efisien cukup menggunakan tiga tanda titik saja dan ditambahi satu titik jika di akhir kalimat. Dengan memperhatikan penulisan tanda elipsis sesuai kaidah, cerita yang kalian buat tidak hanya lebih hidup, namun juga memperlihatkan kualitas penulis yang profesional. Cakep, kan? 😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...