Skip to main content

(Parade Buku Antologi FAM) Sebait Perjuangan Hidupku Bersama Thalasemia

 


Karya: Devie Aryani


Tiiit… Tiiit… Tiit... 

Hening, sepi.

Itulah keadaan ruang ICU sebuah rumah sakit di mana kini menjadi tempatku berbaring di sebuah kasur rumah sakit. 

Aku Dinda, seorang penderita thalasemia yang kini terbaring lemah tak sadarkan diri setelah mengalami sesak napas kemarin malam. Aku mengidap thalasemia sejak bayi, yang kata orang tuaku aku adalah anak mahal yang selama hidupnya harus menjalani pengobatan di rumah sakit. 


Thalasemia adalah kelainan darah yang diturunkan dari orang tua. Kelainan ini membuat penderitanya mengalami anemia atau kurang darah. Kurang darah yang dialami penderita thalasemia akan menimbulkan keluhan cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak napas. Akibatnya, aktivitas penderita thalasemia akan terganggu.

Thalasemia sebenarnya tidak menular. Hanya saja perlu diwaspadai, terutama thalasemia yang berat (mayor), karena dapat menyebabkan komplikasi ke berbagai organ lainnya seperti gagal jantung, pertumbuhan terhambat, gangguan hati, hingga kematian.


Aku mulai mengetahui keadaanku sejak aku masuk sekolah dasar. Tubuhku yang normal tidak memperlihatkan aku berbeda dengan anak-anak lainnya. Namun mataku yang pucat dan terlihat kuning sering kali dipertanyakan teman-temanku pada masa itu. Banyak yang tanya, "Dinda, mata kamu kok kuning? Kamu sakit, ya?" di situlah yang membuatku menjadi pribadi yang lebih aktif, dengan tujuan aku ingin dipandang sama seperti anak-anak normal lainnya. 

Aktivitasku yang aktif ternyata membuatku kewalahan. Selalu saja di setiap minggunya ada darah yang keluar di hidungku. Dan selalu saja setiap bulan aku izin karena aku masuk rumah sakit. 


"Dinda sakit-sakitan." 

"Dinda penyakitan."

"Dinda aneh, keluar darah dari hidung terus." 

Menyakitkan memang, tapi kenyataannya itulah yang mereka katakan kepadaku selama sekolah dasar. Aku tidak banyak mendengarkan mereka. Aku pura-pura selalu tertawa menganggap semua yang mereka katakan adalah bercandaan. Sampai pada suatu ketika, aku mulai bosan terus menerus bahagia ketika dibilang manusia penyakitan. Akhirnya aku marah, aku benci dan aku menutup diri. Aku bosan mendengar mereka selalu menganggapku aneh dan penyakitan. 

Sampai pada di mana aku menginjak sekolah menengah pertama.


 Untuk tahun pertama semuanya berjalan normal seperti kehidupan banyak orang normal lain. Sampai pada saat di mana rumor tentang aku yang sering izin karena lagi dan lagi harus menjalani pengobatan setiap bulannya. Harus menjalani opname terus menerus dan harus mnegonsumsi obat-obatan setiap hari. Awalnya kukira aku bisa melewatinya, ternyata aku salah. Akhirnya aku pun kalah dengan keadaan, lagi dan lagi aku mulai bosan, aku mulai marah dan aku mulai tak ingin melanjutkan hidupku. 

Ketika aku beranjak menginjak kelas 3 sekolah menengah pertama, aku mulai berontak dengan hidupku. Aku menolak untuk berobat, aku menolak untuk semua terapi yang diberikan dokter kepadaku dengan alasan aku ingin hidup normal.


 Beberapa bulan aku menjalani kehidupan normalku, tanpa obat, tanpa masuk rumah sakit dan tanpa perkataan "Dinda si penyakitan". Awalnya terasa sangat indah, hidupku normal dan teman-temanku banyak. Tapi akhirnya dunia tak berpihak kepadaku. 

Enam bulan aku menjalani hidup normal, namun lagi dan lagi aku harus menyerah pada keadaan. Tubuhku drop. Darahku menurun dan aku hilang kesadaran. Perjuanganku selama 6 bulan ternyata tidak bisa mengalahkan sel darahku yang lebih jahat. Lagi dan lagi aku masuk rumah sakit tanpa sadarkan diri dan aku menjalani pengobatanku yang tertunda selama 6 bulan. Dari sana tubuhku mungkin berontak dan meminta haknya untuk beristirahat sehingga pada saat itu dokter memperketat pengobatan dan terapiku. 


"Mulai sekarang, setiap bulan kamu harus transfusi dan tidak boleh telat!" 


"Dan mulai sekarang, kamu tidak boleh melakukan hal-hal yang berat, yang akan membuatmu kecapekan. Istirahatlah dan jangan melakukan aktivitas yang akan membuat tubuhmu sakit lagi!" 

Cukup jelas dan selalu aku ingat apa yang dokter katakan. 

Semenjak saat itu, mau tidak mau aku harus bertahan menerima keadaanku yang sebenarnya.


 Semenjak hari itu aku terus belajar dan belajar bagaimana menjalani hidup yang benar. 


Waktu terus berjalan, minggu ke minggu bulan ke bulan berjalan tanpa bisa kuhentikan. Dan tetap bosan selalu mengelilingi manusia, bosan dan bosan yang aku rasakan selama mengalami pengobatanku. Setiap bulan tetes demi tetes darah aku nikmati masuk ke tubuhku secara rutin. Butir demi butir obat masuk ke tubuhku tanpa henti. 


“Ma, aku bosan!”


“Jangan ngomong gitu, Nak!” peluk mama menenangkanku.


“Aku bosan, Ma. Dari kecil aku hanya tahu berobat, transfusi terus menerus… Kapan aku sembuh, Ma?”


Pasti selalu itu yang dikatakan semua penderita thalasemia di dunia ini. Tanpa mereka tahu bahwa perjuangan orangtua mereka lebih berat daripada anaknya. Seluruh penderita thalasemia tidak pernah tahu bagaimana perjuangan seorang ibu kalian agar selalu melihat kalian tersenyum. Tanpa kalian tahu bagaimana sakit dan tersiksanya hati orangtua kalian melihat kalian kesakitan setiap bulan, dan kalian bahkan tidak akan pernah tahu bagaimana kesepiannya orangtua kalian merasa selalu sendiri melewati beban berat seperti ini. 

Tapi, semua orangtua juga tidak akan pernah tahu bagaimana kami berjuang demi terlihat normal di depan orang lain. Wajah kami yang berbeda dengan orang normal lainnya membuat kami terlihat berbeda. Ukuran tubuh kami yang lebih pendek dari teman-teman seusia kami juga membuat kami sering dipandang sebelah mata oleh orang lain. 

Kupikir sejak masuk universitas, semuanya akan baik-baik saja dan aku akan bisa menjalani ini dengan damai. Tapi ternyata tidak, bahkan teman-teman satu jurusanku sering memandangku sebelah mata, dianggap sebagai wanita berpenyakitan, dianggap thalasemia menular dan selalu dijauhi karena alasan takut tertular olehku. 

Perlu diingat bahwa thalasemia itu penyakit genetik alias penyakit keturunan yang hanya dapat diperoleh dari gen orangtua yang mempunya gen thalasemia. Thalasemia itu tidak menular apalagi dengan cara dekat dengan penderita thalasemia, tidak akan membuatmu menjadi seorang penderita thalasemia juga. 


Dari sanalah aku memcoba bangkit, karena ada teman-teman yang harus sadar bahwa aku juga bisa sukses dan bisa hidup normal seperti kalian. Di sana aku mulai aktif menjadi mahasiswa yang mempunyai peran penting, masuk ke organisasi mahasiswa, ikut aktif dalam segala kegiatan bahkan beberapa kali aku menjadi narasumber di berbagai seminar kesehatan tentang thalasemia. Bukan maksud untuk sombong tapi tujuanku hanya untuk membuka wawasan teman-teman agar paham thalasemia itu tidak seperti yang kalian pikirkan. 


Aku lulus dengan gelar sarjanaku dengan predikat cumlaude. Baiklah, sampai sini rupanya aku mengerti bahwa Tuhan memberikan ku thalasemia bukan musibah tapi anugerah, karena aku mengerti bahwa kami “manusia pilihan” Tuhan.  Jika kamu masih berpikir thalasemia ini mengerikan, mungkin kamu kurang menikmati hidupmu, sahabat.

Kini umurku menginjak 24 tahun. Cukup sudah 23 tahun perjuangan hebatku melawan penyakit thalasemia. 

*

Kini aku terbaring di rumah sakit dengan selang di sebelah kanan dan kiri yang tak kutahu itu fungsinya untuk apa. Perlahan aku membuka mata. Terlihat beberapa sosok yang kukenal dan yang selalu aku sayangi. Mereka tersenyum padaku. Papa, mama, kakak, dan dia pangeranku. Mereka tersenyum bahagia. Namun tubuhku terlalu lemah berkata pamit. 

Sepersekian detik cahaya terang itu datang menghampiriku. Pria yang sangat tampan kini berada di hadapanku. Dia terseyum dan melambaikan tangan padaku. Tubuhku kini sudah tidak merasa sakit. Aku tenang, aku sembuh dan aku pamit. 

Tiiiiiiiiiiiiittttt...

Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. 

Selamat tinggal, Dinda. Kamu pejuang yang hebat. Kami sayang padamu. Tenang di alam sana ya, Dinda. Kini kamu sembuh. Kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Selamat tinggal, Dinda. We love you.* ❤

(Karya ini terdapat dalam buku antologi "Nyanyian Prosa Cinta" terbitan FAM Publishing)


Tentang Penulis:

 Penulis adalah salah satu penyandang Thalasemia. Kini dia mencoba megmbuka wawasan teman-teman mengenai thalasemia. Berdomisili di Ciamis, Jawa Barat.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...