![]() |
| FAM INDONESIA |
Saat kita menawarkan sebuah konsep kepada seseorang, mungkin
pernah mendapat jawaban seperti ini, “Kamu lakukan saja dulu. Nanti kalau kamu
berhasil, saya ikut.” Terlihat sekali, yang menjadi ukuran adalah hasil, bukan
bagus tidaknya konsep itu. Atau baik buruknya sebuah ajakan. Ini menandakan
bahwa ia akan berbuat jika orang lain berhasil. Meski sesuatu itu baik, jika
orang lain tidak berhasil, tidak mau melakukan. Itu gambaran umum. Mungkin,
kita pun kadangkala bersikap demikian. Masih banyak tipe orang yang ‘wait and
see’, menunggu orang lain sampai berhasil. Ketika orang lain berhasil, barulah
bertindak dan itu sudah terlambat.
Jika tipe ‘wait and see’ ini diterapkan pada amalan ibadah
yang tidak bisa langsung kelihatan hasilnya (dalam bentuk materi), maka bisa
merugi dan penyesalan panjang yang akan didapat. Ketika orang lain mengajak
bersedekah, ia menjawab, “Nanti saja kalau kamu kaya karena sedekah, saya akan ikut
sedekah.” Padahal, orang yang gemar bersedekah belum tentu akan berlimpah
materi setelah rutin mengamalkannya. Meskipun balasan orang yang gemar
bersedekah itu salah satunya akan dilipatgandakan hartanya. Sedekah satu
bagian, dibalas menjadi 10 kali lipat. Hingga janji-Nya ada yang dibalas 700
kali lipat. Ibarat menanam satu biji jagung, akan tumbuh ratusan biji dari satu
tongkol jagung. Saudara saya pernah tergerak menghitung satu tongkol jagung,
yang dihasilkan dari kebun seorang lelaki yang ia saksikan sangat gemar
bersedekah. Setiap panen, ia akan menyedekahkan sepertiganya kepada orang-orang
yang membutuhkan. Waktu panen tiba, hasil jagungnya luar biasa melimpah dan
setiap tongkol bijinya sangat padat tersusun. Tanpa ada yang renggang. Saya dan
saudara saya tergerak untuk menghitung jumlah biji dalam satu tongkol.
Ternyata, jumlahnya benar-benar 700 biji. Luar biasa! Bagi seorang pelaku
sedekah yang mengerti, bersedekah bukan bertujuan mengejar untuk menjadi kaya
raya. Meskipun itu telah merupakan janji Allah dalam Kitabullah. Tujuan utama
adalah mendapat keridhaan-Nya dari amalan yang sesuai perintah-Nya. Jika
kemudian Allah membalasnya dalam bentuk materi, itu adalah bonus dari amalan
lurus yang ia lakukan.
Bagi yang bertipe ‘wait and see’ tidak demikian. Ukurannya
adalah berhasil secara materi. Sebab, kerangka berpikir yang dipakai adalah
berpikir secara logika bumi. Segala sesuatu harus bisa dirasionalkan dan
hasilnya bisa langsung dilihat oleh kedua mata. Jika sedekah, dipandang dari
cara berpikir logika bumi maka dengan bersedekah dianggap akan mengurangi
harta, yang membuat pelakunya menjadi miskin. Baginya, segala sesuatu yang
masuk akal itu adalah yang benar. Jika tidak masuk akal, maka dianggap mustahil
meski itu berasal dari firman Allah langsung. Berbeda dengan orang yang
menjadikan keimanan sebagai pegangan dengan menggunakan cara berpikir ‘logika
langit’. Logika langit lebih merupakan kehendak Allah yang dijalankan sesuai
dengan cara bertindaknya Allah, yang bertumpu pada jurus ampuh yang dimiliki-Nya,
yakni ‘kun fayakun’ (jadilah, maka terjadilah). Sebagaimana dalam firman-Nya
(QS. Maryam ayat 35): “Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya
berkata kepadanya, ‘Jadilah, maka jadilah ia’.” Mereka yang berpikir dengan
logika langit, yang dilihat bukan hasil tetapi berbuat yang sungguh-sungguh
menjalankan sesuai perintah-Nya, untuk mendapat keridhaan Allah. Bonus yang
diterimanya setelah rutin bersedekah, tidak selalu bentuk harta. Sebagaimana
janji-Nya yang lain, disehatkan badannya, dimudahkan urusannya, dijauhkan dari
bencana dan marabahaya serta balasan yang tak terhingga di sisi-Nya kelak. Nah,
faktor keimanan cukup signifikan untuk menjadikan seseorang mau memercayai dan
memahami logika langit.
Menjadi penonton memang enak. Contoh, saat pertandingan
sepakbola. Penonton bisa teriak-teriak, ikut mengatur harus ke arah mana bola digiring
dan ditendang, dan bisa memaki-maki pemain sepuasnya. Jika pemain menang dalam
pertandingan, penonton akan bersorak sorai, mengelu-elukan bahkan menampakkan
seolah-olah ia ikut andil dalam kemenangan para pemain itu. Namun, ketika
pemain kalah di medan pertandingan, umpatan, makian hingga lemparan benda ke
arah pemain bisa dilakukan penonton. Saat kalah, penonton bisa berlepas tangan,
seolah-olah bukan bagian dari pendukung tim tersebut. Bahkan bisa dengan
entengnya mengatakan, “Saya bilang juga apa. Coba kalau bolanya digiring ke
arah pinggir dulu untuk mengelabui lawan?” Seolah-olah sepak terjangnya lebih
hebat dari pemain. Tetapi, coba suruhlah ia menggantikan salah satu pemain,
bisa jadi permainannya lebih parah. Itulah sifat penonton. Seperti halnya pakar
penonton (pengamat), mereka memberikan komentar permainan hingga titik yang
paling detail, yang paling rumit. Serta bisa menilai kelemahan dan kelebihan di
balik tendangan kaki para pemain. Para pengamat itu berbekal teori. Jika harus
menendang bola langsung di lapangan, belum tentu lebih baik dari para pemain
yang diamati. Meski ada saja yang awalnya pemain, kemudian setelah ‘pensiun’
menjadi pengamat.
Meskipun menjadi penonton itu enak, tetapi lebih enak lagi
menjadi pemain. Kenapa? Yang dihargai adalah pemain. Yang mendapat trophy
adalah pemain. Yang disanjung adalah pemain. Yang menjadi berita di media
adalah pemain. Meskipun menjadi pemain itu harus berkeringat, kelelahan, hingga
babak belur kena amukan penonton, tetapi pemainlah yang dibayar dengan harga
mahal. Penonton harus membayar dengan membeli tiket. Sehebat-hebat penonton,
dengan memberikan dukungan terbaik dan sering menonton pertandingan, tidak akan
mendapatkan penghargaan dari pihak penyelenggara. Tetapi, seburuk-buruk pemain,
meski kalah berulang kali masih tetap mendapat penghargaan walau nilai
penghargaannya lebih kecil dari pemain yang menang.
Dalam dunia menulis pun demikian, seorang penulis (pemain)
harus berkeringat, berpikir menyusun kata, berusaha menemukan ide, menawarkan
hasil karyanya pada media. Jika karyanya bagus, akan diterima. Mendapatkan
honor, royalti, popularitas, undangan-undangan, hingga kenalan baru dari
berbagai kalangan. Namun, di satu sisi harus mendapat kritikan, bukunya tidak
laku, honor minim dan keluar banyak biaya untuk pengetikan. Itulah penulis,
yang telah siap menjadi pemain dengan segala resikonya. Tanpa melihat hasil
akhir. Dengan catatan, saat memulai menulis sudah berpegang pada rambu-rambu
yang tidak boleh dilanggar, baik menurut norma agama ataupun norma yang berlaku
di masyarakat. Berbeda dengan yang bertipe ‘wait and see’ tadi, ia menunggu
orang lain berhasil. Jika orang lain berhasil menulis sebuah novel, hingga
novel tersebut menjadi best seller maka barulah ia bergerak. Orang lain yang
sudah menghasilkan novel best seller tadi sudah melangkah lebih jauh, ia baru
memulai. Sibuk mencari penulis senior yang bisa membimbing, menghubungi
tempat-tempat kursus menulis, mencari informasi cara mengirim karya dan lain
sebagainya. Masih memulai. Memang tak ada kata terlambat dalam belajar, namun
kekeliruan yang perlu digarisbawahi adalah, “menunggu orang lain berhasil, baru
bergerak”, itu yang tidak tepat.
Kecenderungan seorang penonton, selalu mengentengkan hasil
karya oranglain. Sebab, penonton tidak merasakan bagaimana proses pembuatan
karya tersebut. Penonton hanya melihat hasil akhirnya. Satu contoh, ketika ada
teman yang berhasil menerbitkan buku. Komentar si penonton, “Cuma buku seperti
ini aja, promosinya gede-gedean.” Mengentengkan! Ia tidak tahu, saat penulis
buku tersebut menyusun kalimat demi kalimat untuk menjadi sebuah buku. Ia harus
menguras pikirannya, menyisihkan waktu khusus, membagi waktu dengan keluarga,
mungkin juga sambil menggendong anaknya termasuk melakukan survey lapangan.
Perlu perjuangan panjang sebelum terwujud menjadi sebuah buku. Namun di mata
penonton, perjuangan sering diabaikan, yang dilihat adalah hasil. Seorang
pemain, akan lebih menghargai hasil karya orang lain. Sebab ia merasakan proses
berjuang itu seperti apa. Ia tahu menciptakan sebuah karya itu tidak mudah.
Oleh karena itu, lebih arif menilai daripada seorang penonton. Saya pun sedang
belajar untuk menjadi seorang pemain yang baik dalam segala hal, bukan hanya
dalam bidang menulis. Dalam arti, mau mempraktikkan ilmu yang didapat meski
ilmu itu belumlah banyak. Ilmu tanpa praktik, hanya akan membuat ilmu itu tidak
berguna dan diri kita pun tak berguna.
Sahabat FAM, seorang pemain membuat sesuatu itu terjadi.
Sedangkan seorang penonton melihat sesuatu itu terjadi. Seorang pemain melihat
peluang dalam kesulitan. Sedangkan seorang penonton melihat kesulitan dalam
peluang. Seorang pemain akan cepat menangkap peluang untuk ambil bagian.
Sedangkan penonton, menunggu oranglain melakukannya. Berhentilah menjadi
penonton! Mari kita berbuat sekarang juga. Kita amalkan ilmu yang kita terima,
sekarang juga. Kita sama-sama belajar menjadi seorang pemain yang baik melalui
wadah kepenulisan nasional FAM Indonesia. Insya Allah.
Salam Aishiteru!
ALIYA NURLELA
Sekjen FAM Indonesia

Sippp dehhhhhh Insya Allah Saya akan jadi Pemain Inti
ReplyDeleteBentuk segera cabang FAM Indonesia di kotamu. Add facebook FAM Indonesia: "AISHITERU MENULIS". Ikuti diskusi kepenulisan bersama Tim FAM Indonesia di Grup FB "FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA". Bergabung menjadi anggota Hubungi Sekjen FAM Aliya Nurlela, Hp: 0812 5982 1511.
ReplyDelete