Dalam hidup, tentu kita tidak pernah lepas dari permasalahan. Hidup akan selalu diiringi masalah, baik besar maupun kecil. Tidak ada hidup yang berjalan tanpa masalah. Semua masalah itu adalah bagian dari waktu yang tak terelakkan. Nah, puisi ini membawa kita pada sebuah proses pemecahan masalah. Penulis menjadikan hujan layaknya sebuah masalah.
Dapat kita rasakan hilangnya sebuah harapan, setelah hujan turun dengan deras membasahi bumi. Kata "riuh" sama artinya dengan keras atau deras, bak suatu keadaan di mana masalah mulai datang secara tiba-tiba dan mengejutkan. Lalu, harapan itu pun perlahan memudar. Pudarnya harapan ini tergambar jelas oleh "asa yang melebur" bersama dengan "mentari yang hilang" pada bait kedua.
Sementara itu, "hari yang kelam" dan isak tangis menjadi puncak dari masalah yang seolah tak mempunyai jalan keluar alias buntu. Ini merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada manusia yang lemah iman. "Luka dan tangis" menjadi bentuk penyesalan. Padahal, bukankah telah diketahui, bahwa tingkat kesulitan dari permasalahan itu tak melampaui keadaan seorang manusia? Itu artinya, akan ada jalan keluar meski lewat jalan tak terduga.
Pada bait berikutnya kita dibawa pada sebuah kesadaran. Kesadaran inilah yang akan membuka jalan menuju penyelesaian. "Nyanyian mesra katak yang merindu" pada baris keduanya, seolah berperan penting dalam penolakan atas terpuruknya diri pada masalah yang tak kunjung reda. Rindu ini adalah rindu pada kedamaian. Rindu ini adalah rindu pada keberpihakan hidup pada diri. Rindu inilah yang kemudian mengajak diri untuk bangkit.
Perlahan seiring dengan meredanya hujan/masalah, segalanya pun kian membaik. Bahkan jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Begitu banyak hal yang patut disyukuri setelah segala masalah itu tuntas dan tak sedikit pun menyisakan luka/kebencian pada hidup. Semua serba menyenangkan.
Penulis cukup cerdas mengambil hujan sebagai metafora dari sebuah masalah hidup. Betapa tidak? Hujan yang deras, kadang tak pernah terasa indah. Petir sambar menyambar, langit serasa tumpah ke bumi, hingga membuat siapa pun takut pada hujan. Tentu ini berhubungan erat dengan permasalahan hidup. Siapa yang senang bertemu masalah? Atau mungkin gemar menanti masalah? Jawabnya tak ada. Masalah memang selalu ada dan "tidak disukai". Namun manusia hendaknya tidak takut pada masalah, sebesar apa pun itu, karena tidak selamanya hujan deras membawa petaka.
Puisi ini mengandung nilai pencerahan tentang betapa manusia harus bersikap bijak ketika menghadapi masalah. Setelah kesulitan, akan ada kemudahan. Begitulah intisari dari bait-bait yang coba penulis ungkapkan.
Sedikit koreksi dari Tim FAM, yakni pada bait pertama baris ketiga. "Nankuyup" harusnya terpisah menjadi "nan kuyup", karena masing-masing adalah kata yang berdiri sendiri. Mungkin pada proses editing kurang teliti. Selebihnya dari segi EYD sudah benar.
Lalu dari segi isi, perlu lebih dipertajam lagi dengan terus menerus berlatih. Perkaya perbendaharaan kata untuk menambah variasi diksi yang unik, indah, dan menyentuh. Kembangkan ide sederhana menjadi sebuah tulisan penuh makna. Dengan demikian, pembaca akan dapat memetik banyak pelajaran dari barisan aksara yang kita torehkan.
Tetap semangat dan jangan berhenti berkarya.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Denting Hujan
Oleh Istiqomah
Denting hujan terdengar riuh
Menari di atas atap rumahku
Gemericiknya membasahi dedaunan nankuyup
Menghapus hawa bumi nan gersang
Denting hujan terdengar riuh
Meleburkan semua asa
Bersama hilangnya mentari pagi
Melelehkan sejuta harap
Bersama kelamnya hari
Menyisakan genangan luka
Bersama isak dan tangis
Denting hujan terdengar riuh
Bersambut mesra nyanyian katak yang merindu
Menumbuhkan kuncup bunga yang layu
Menebarkan aroma basah yang padu
Membawa sejuta mimpi baru
Denting hujan
Kini kau terdengar merdu
[www.famindonesia.com]
Dapat kita rasakan hilangnya sebuah harapan, setelah hujan turun dengan deras membasahi bumi. Kata "riuh" sama artinya dengan keras atau deras, bak suatu keadaan di mana masalah mulai datang secara tiba-tiba dan mengejutkan. Lalu, harapan itu pun perlahan memudar. Pudarnya harapan ini tergambar jelas oleh "asa yang melebur" bersama dengan "mentari yang hilang" pada bait kedua.
Sementara itu, "hari yang kelam" dan isak tangis menjadi puncak dari masalah yang seolah tak mempunyai jalan keluar alias buntu. Ini merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada manusia yang lemah iman. "Luka dan tangis" menjadi bentuk penyesalan. Padahal, bukankah telah diketahui, bahwa tingkat kesulitan dari permasalahan itu tak melampaui keadaan seorang manusia? Itu artinya, akan ada jalan keluar meski lewat jalan tak terduga.
Pada bait berikutnya kita dibawa pada sebuah kesadaran. Kesadaran inilah yang akan membuka jalan menuju penyelesaian. "Nyanyian mesra katak yang merindu" pada baris keduanya, seolah berperan penting dalam penolakan atas terpuruknya diri pada masalah yang tak kunjung reda. Rindu ini adalah rindu pada kedamaian. Rindu ini adalah rindu pada keberpihakan hidup pada diri. Rindu inilah yang kemudian mengajak diri untuk bangkit.
Perlahan seiring dengan meredanya hujan/masalah, segalanya pun kian membaik. Bahkan jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Begitu banyak hal yang patut disyukuri setelah segala masalah itu tuntas dan tak sedikit pun menyisakan luka/kebencian pada hidup. Semua serba menyenangkan.
Penulis cukup cerdas mengambil hujan sebagai metafora dari sebuah masalah hidup. Betapa tidak? Hujan yang deras, kadang tak pernah terasa indah. Petir sambar menyambar, langit serasa tumpah ke bumi, hingga membuat siapa pun takut pada hujan. Tentu ini berhubungan erat dengan permasalahan hidup. Siapa yang senang bertemu masalah? Atau mungkin gemar menanti masalah? Jawabnya tak ada. Masalah memang selalu ada dan "tidak disukai". Namun manusia hendaknya tidak takut pada masalah, sebesar apa pun itu, karena tidak selamanya hujan deras membawa petaka.
Puisi ini mengandung nilai pencerahan tentang betapa manusia harus bersikap bijak ketika menghadapi masalah. Setelah kesulitan, akan ada kemudahan. Begitulah intisari dari bait-bait yang coba penulis ungkapkan.
Sedikit koreksi dari Tim FAM, yakni pada bait pertama baris ketiga. "Nankuyup" harusnya terpisah menjadi "nan kuyup", karena masing-masing adalah kata yang berdiri sendiri. Mungkin pada proses editing kurang teliti. Selebihnya dari segi EYD sudah benar.
Lalu dari segi isi, perlu lebih dipertajam lagi dengan terus menerus berlatih. Perkaya perbendaharaan kata untuk menambah variasi diksi yang unik, indah, dan menyentuh. Kembangkan ide sederhana menjadi sebuah tulisan penuh makna. Dengan demikian, pembaca akan dapat memetik banyak pelajaran dari barisan aksara yang kita torehkan.
Tetap semangat dan jangan berhenti berkarya.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Denting Hujan
Oleh Istiqomah
Denting hujan terdengar riuh
Menari di atas atap rumahku
Gemericiknya membasahi dedaunan nankuyup
Menghapus hawa bumi nan gersang
Denting hujan terdengar riuh
Meleburkan semua asa
Bersama hilangnya mentari pagi
Melelehkan sejuta harap
Bersama kelamnya hari
Menyisakan genangan luka
Bersama isak dan tangis
Denting hujan terdengar riuh
Bersambut mesra nyanyian katak yang merindu
Menumbuhkan kuncup bunga yang layu
Menebarkan aroma basah yang padu
Membawa sejuta mimpi baru
Denting hujan
Kini kau terdengar merdu
[www.famindonesia.com]

Comments
Post a Comment