Skip to main content

Ulasan Puisi "Denting Hujan" Karya Istiqomah (FAMili Tangerang)

Dalam hidup, tentu kita tidak pernah lepas dari permasalahan. Hidup akan selalu diiringi masalah, baik besar maupun kecil. Tidak ada hidup yang berjalan tanpa masalah. Semua masalah itu adalah bagian dari waktu yang tak terelakkan. Nah, puisi ini membawa kita pada sebuah proses pemecahan masalah. Penulis menjadikan hujan layaknya sebuah masalah.

Dapat kita rasakan hilangnya sebuah harapan, setelah hujan turun dengan deras membasahi bumi. Kata "riuh" sama artinya dengan keras atau deras, bak suatu keadaan di mana masalah mulai datang secara tiba-tiba dan mengejutkan. Lalu, harapan itu pun perlahan memudar. Pudarnya harapan ini tergambar jelas oleh "asa yang melebur" bersama dengan "mentari yang hilang" pada bait kedua.

Sementara itu, "hari yang kelam" dan isak tangis menjadi puncak dari masalah yang seolah tak mempunyai jalan keluar alias buntu. Ini merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada manusia yang lemah iman. "Luka dan tangis" menjadi bentuk penyesalan. Padahal, bukankah telah diketahui, bahwa tingkat kesulitan dari permasalahan itu tak melampaui keadaan seorang manusia? Itu artinya, akan ada jalan keluar meski lewat jalan tak terduga.

Pada bait berikutnya kita dibawa pada sebuah kesadaran. Kesadaran inilah yang akan membuka jalan menuju penyelesaian. "Nyanyian mesra katak yang merindu" pada baris keduanya, seolah berperan penting dalam penolakan atas terpuruknya diri pada masalah yang tak kunjung reda. Rindu ini adalah rindu pada kedamaian. Rindu ini adalah rindu pada keberpihakan hidup pada diri. Rindu inilah yang kemudian mengajak diri untuk bangkit.

Perlahan seiring dengan meredanya hujan/masalah, segalanya pun kian membaik. Bahkan jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Begitu banyak hal yang patut disyukuri setelah segala masalah itu tuntas dan tak sedikit pun menyisakan luka/kebencian pada hidup. Semua serba menyenangkan.

Penulis cukup cerdas mengambil hujan sebagai metafora dari sebuah masalah hidup. Betapa tidak? Hujan yang deras, kadang tak pernah terasa indah. Petir sambar menyambar, langit serasa tumpah ke bumi, hingga membuat siapa pun takut pada hujan. Tentu ini berhubungan erat dengan permasalahan hidup. Siapa yang senang bertemu masalah? Atau mungkin gemar menanti masalah? Jawabnya tak ada. Masalah memang selalu ada dan "tidak disukai". Namun manusia hendaknya tidak takut pada masalah, sebesar apa pun itu, karena tidak selamanya hujan deras membawa petaka.

Puisi ini mengandung nilai pencerahan tentang betapa manusia harus bersikap bijak ketika menghadapi masalah. Setelah kesulitan, akan ada kemudahan. Begitulah intisari dari bait-bait yang coba penulis ungkapkan.

Sedikit koreksi dari Tim FAM, yakni pada bait pertama baris ketiga. "Nankuyup" harusnya terpisah menjadi "nan kuyup", karena masing-masing adalah kata yang berdiri sendiri. Mungkin pada proses editing kurang teliti. Selebihnya dari segi EYD sudah benar.

Lalu dari segi isi, perlu lebih dipertajam lagi dengan terus menerus berlatih. Perkaya perbendaharaan kata untuk menambah variasi diksi yang unik, indah, dan menyentuh. Kembangkan ide sederhana menjadi sebuah tulisan penuh makna. Dengan demikian, pembaca akan dapat memetik banyak pelajaran dari barisan aksara yang kita torehkan.

Tetap semangat dan jangan berhenti berkarya.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Denting Hujan

Oleh Istiqomah

Denting hujan terdengar riuh
Menari di atas atap rumahku
Gemericiknya membasahi dedaunan nankuyup
Menghapus hawa bumi nan gersang

Denting hujan terdengar riuh
Meleburkan semua asa
Bersama hilangnya mentari pagi
Melelehkan sejuta harap
Bersama kelamnya hari
Menyisakan genangan luka
Bersama isak dan tangis

Denting hujan terdengar riuh
Bersambut mesra nyanyian katak yang merindu
Menumbuhkan kuncup bunga yang layu
Menebarkan aroma basah yang padu
Membawa sejuta mimpi baru
Denting hujan
Kini kau terdengar merdu

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...