Puisi ini menggambarkan betapa kekuasaanNya adalah sesuatu yang tak dapat dikalahkan oleh apa pun. Ini nampak dari penegasan yang terjadi di setiap baitnya. "Cambuk takbir" adalah tanda tentang peran kebesaranNya di seluruh alam semesta. Maka "nada" dan "anggukan jiwa" yang terusik, cukuplah sebagai pembuka dalam menyampaikan maksud penulis seperti tersebut di atas.
Ada semacam rasa tak berdaya dalam hubungan antar baitnya. Seperti sebuah penyesalan atau kesadaran yang datang setelah teguran demi teguran menghampiri diri seseorang. Mungkinkah ini semacam bentuk pertaubatan seorang hamba kepadaNya? Atau sebentuk puji dan kekaguman dari hamba yang memang telah lama tunduk pada kuasaNya?
Sedikit koreksi mengenai EYD, yakni pada kata "nafas" dan "di telan", yang benar ditulis "napas" dan "ditelan" (gabung karena merupakan kata kerja pasif, bukan keterangan tempat). Selebihnya tidak ada kesalahan.
Pesan untuk penulis agar lebih mempertajam pena dengan terus berlatih. Banyak membaca demi memperkaya perbendaharaan kata perlu dilakukan. Gali lebih dalam lagi makna yang dapat dihadirkan dalam setiap bait puisi Anda yang berikutnya.
Tetap semangat'
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Dan membara
Heni Nufaeni [IDFAM1910M]
cambuk takbir menggema
seakan mengusik setiap nada
dan anggukan jiwa
mempompa miliaran kata yang
bersatu membunuh setiap bait
yang dianggap tabu
dan membara
mematikan setiap raga yang lemah,
yang butuh desikan nafas
dan membara
bersama ribuan mimpi yang lenyap
di telan sajak sajak bumi
Sumber ilustrasi: intisari-online.com
Ada semacam rasa tak berdaya dalam hubungan antar baitnya. Seperti sebuah penyesalan atau kesadaran yang datang setelah teguran demi teguran menghampiri diri seseorang. Mungkinkah ini semacam bentuk pertaubatan seorang hamba kepadaNya? Atau sebentuk puji dan kekaguman dari hamba yang memang telah lama tunduk pada kuasaNya?
Sedikit koreksi mengenai EYD, yakni pada kata "nafas" dan "di telan", yang benar ditulis "napas" dan "ditelan" (gabung karena merupakan kata kerja pasif, bukan keterangan tempat). Selebihnya tidak ada kesalahan.
Pesan untuk penulis agar lebih mempertajam pena dengan terus berlatih. Banyak membaca demi memperkaya perbendaharaan kata perlu dilakukan. Gali lebih dalam lagi makna yang dapat dihadirkan dalam setiap bait puisi Anda yang berikutnya.
Tetap semangat'
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Dan membara
Heni Nufaeni [IDFAM1910M]
cambuk takbir menggema
seakan mengusik setiap nada
dan anggukan jiwa
mempompa miliaran kata yang
bersatu membunuh setiap bait
yang dianggap tabu
dan membara
mematikan setiap raga yang lemah,
yang butuh desikan nafas
dan membara
bersama ribuan mimpi yang lenyap
di telan sajak sajak bumi
Sumber ilustrasi: intisari-online.com

Comments
Post a Comment