Skip to main content

Ulasan Puisi “Sada Mematai Peta” Karya Denni Meilizon (FAMili Sumatera Barat)

Puisi “Sada Mematai Peta” yang ditulis Denni Meilizon ini memiliki kekuatan diksi yang magis. Tidak mudah memaknainya. Penulis sangat lihai menyusun setiap kata yang beruntai menjadi baris-baris indah. Serupa mendongengkan sebuah kisah purba. Dan, membaca puisi naratif ini, pembaca pun dibawa hanyut, hingga ke titik paling akhir.

Tidak ditemukan makna kata “Sada” di KBBI. Dirujuk pada beberapa sumber, “Sada” berasal dari bahasa Sunda yang arti dan maknanya adalah "Bunyi". Dalam bahasa Batak juga ditemukan kata “Sada” yang artinya "Satu". Bila digabungkan kedua bahasa itu, secara bebas dapat bermakna “bunyi yang disatukan”.

Sada dalam puisi ini tentulah nama seseorang. Perempuan. Dapat diterka dari baris pembuka puisi: //Tarikan matamu semanis tanah yang dijanjikan/. Juga pada kata: /Kau merabanya seperti dalam rahimmu/. Selain itu pada baris: /Rahimmu bergetar memecahkan selaput bayi yang semakin keras mengowek/.

Siapa saja dapat menafsirkan puisi ini yang bukan liris/lirik. Sada bisa berupa perwujudan Bilqis, ratu Negeri Saba’ yang ditundukkan Nabi Sulaiman setelah dikabarkan oleh burung Hud-Hud. Seperti penguatan pada baris; /Peganglah gelang tangan Sulaiman dan ikutilah ia merentangkan kerajaan Daud./. Bisa juga muncul interpretasi lainnya, sebab tidak ada tafsir tunggal dalam memaknai karya sastra, terutama puisi.

Terlepas dari itu, Tim FAM menggarisbawahi beberapa catatan terhadap puisi ini. Di antaranya pemenggalan topografi puisi yang mengganggu, yaitu di alinea pertama baris akhir pada kata “Makanlah” (tanpa titik) dan langsung melompat ke alinea kedua. Alangkah baiknya tidak diputus, tetapi “Makanlah” menjadi satu bagian kalimat pada baris pertama di alinea kedua. Hal yang sama juga terjadi pada alinea ketiga dan keempat.

Di samping itu, cakupan simbol-simbol puisi ini juga terlalu luas. Semisal kaitan antara Toba, Pompeii, Krakatau, membuat puisi ini menjadi bias. Tetapi walau begitu tetap terlihat permainan rima yang manis, misal: “...dalam mitologi lama, purba...”, “...tarian acak, kecak...”, “...dalam hamparan peta, tanda...”, “...Peluk tangisan-tangisan, magis...”, dan “Atas nama segala kuasa, tunggu saja.”

Terkait EYD, ditemukan sejumlah kesalahan penulisan, di antaranya:  “membumi hanguskan” seharusnya “membumihanguskan”, “do'a” seharusnya “doa”, “gemerinting” seharusnya “gemerincing” atau “denting”.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Denni Meilizon menyimpan bakat penyair yang harus terus diasah. Selamat dan terus berkarya.

Salam santun,

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

SADA MEMATAI PETA

Denni Meilizon

Tarikan matamu semanis tanah yang dijanjikan. Membangun gema dalam ruang, kau ukur tiap jengkal sudut, peta. Di pelipis jendela kau tebar semacam tanda di mana Hud-hud untuk bertengger. Tanah kau jadikan bayi mengowek. Kau merabanya seperti dalam rahimmu. Saat duniamu menakar sunyi, hanya ada malam tentu saja. Sisa suatu hari yang dimakan dalam mitologi lama, purba. Makanlah

apel itu, menusuk garis ke garis. Meraut nama-nama hilang. Mengirim jarum mengaum membumi hanguskan Toba, Pompeii menanti dalam rahim Krakatau. Kau dengar lengkingan memahat batu-batu. Gelombang menjadi tarian acak, Kecak. Selubung masa lalu kau balurkan dalam hamparan peta, tanda. Penjaga dalam sepi memakan sisa malam. Terpancar do'a-do'a, bisu.

Palung berpaut dalam matamu. Peluk pula gunung-gunung. Peluk pulau-pulau. Peluk tangisan-tangisan, magis. Langit menjadi busur dalam ruang yang kau ukur. Para penjaga mengayunkan cemeti. Rahimmu bergetar memecahkan selaput bayi yang semakin keras mengowek. Kau cuma perlu menanak larva ketika meminum do'a Luth, Hud dan Nuh. Kaubaca semua yang kembali, Hud-hud datang bertengger memberi kabar dari kawanan Ababil dengan batu berapi di kakinya. Mata

di dalam tanah petamu saban kali malih-rupa, tanda. Kaudengar auman para bayi yang lahir setelah jarum membumi hanguskan Tsamud dan Aad. Peganglah gelang tangan Sulaiman dan ikutilah ia merentangkan kerajaan Daud. Peluk gunung-gunung di tiang pancang Mezbah-mezbah. Peluk pulau-pulau di atas gemerinting lonceng Jibril. sekarang kau bangun tangga dan kapal. Ajari para Penjaga untuk berlari ke atas bukit. Keluarkan kuda hitam dan putih peranakan apa saja. Bacalah!

Atas nama segala kuasa, tunggu saja.

Padang, Des. 2013

Sumber ilustrasi: dongengpengantartiduranak.wordpress.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...