Skip to main content

Sebingkai Dunia Masa Kecil Agam

Rakyat Sumbar, 23 Jan 2016
Judul: Rumah di Tengah Sawah
Penulis: Muhammad Subhan
Penerbit: FAM Publishing
Tebal: 157 halaman
Terbit: Agustus 2015
ISBN: 978-602-335-054-4
Harga: Rp40.000,-
Peresensi: Aliya Nurlela*)

CERITA berawal dari tokoh Agam, seorang bocah yang hidup bersama kedua orangtuanya di Tembung, Medan. Hidup dalam himpitan kemiskinan, kesulitan, serta kepahitan ekonomi. Kepahitan demi kepahitan peristiwa dalam hidup Agam menjadi santapannya sejak kecil, dan terus hingga pase perjalanan hidup berikutnya.

Agam lahir dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Ayahnya seorang penjahit sepatu dan ibunya seorang pembantu rumah tangga. Keluarga kecil itu tinggal di Tembung, sebuah kampung yang cukup ramai di Medan—menempati rumah sendiri yang dibeli dengan harga murah. Rumah itu berada tepat di tengah persawahan. Bisa disebut, rumah itu harta berharga satu-satunya yang dimiliki keluarga Agam. Bahkan, seumur hidup ayah Agam tidak mampu lagi membeli rumah, selain rumah itu.

Di sinilah, kehidupan Agam kecil bermula. Ia merekam dengan jelas semua peristiwa, manis-pahitnya. Tempat ini pula yang membentuk karakter Agam. Ia pernah merasakan susah mendapatkan makanan, didera demam tinggi, sakit perut yang melilit, takut pacet, ditantang anak-anak sok jagoan, menyaksikan orangtua dijatuhkan harga dirinya, ikut jualan di tempat orang demi membantu orangtua, serta menahan segala perih yang dirasa demi menjaga perasaan orangtuanya. Agam menelan berbagai kepahitan hidup itu.

Kisah pahitnya semakin komplit dengan terjadinya penggusuran rumah yang ia tempati, di tengah sawah, akibat tidak memiliki IMB. Peristiwa ini, mau tidak mau, menyeret rentetan kisah pahit berikutnya; Agam dibawa pindah ke Aceh, berpisah dengan teman-temannya, termasuk berpisah dengan para tetangga yang sudah baik hubungannya.

“Dan, sore nanti kami akan berangkat meninggalkan Tembung. Meninggalkan Kota Medan, negeri yang keras itu. Semua kenangan di kampung kelahiranku akan pupus. Aku akan kehilangan kawan-kawan terbaik yang selama ini memberi semangat hidup untukku. Semangat untuk menggapai cita-cita. Dan, entah di mana kini mereka berada.” (hlm. 139).

Terbaca jelas bingkai kesedihan tokoh Agam yang berat melangkahkan kaki meninggalkan Tembung. Bagaimanapun, dalam berbagai kepahitan hidup yang mendera, Agam merasakan kebahagiaan lain di tempat itu. Ia memiliki seorang sahabat karib bernama Bondan, juga teman-teman sekolah yang baik, termasuk Latifah dan Anya—dua gadis kecil teman sekelasnya yang muncul di beberapa bab bagian akhir cerita. Ada Pak Lukman, kepala sekolah yang baik hati dan mengerti latar belakang kehidupan Agam. Ada Bu Husna, guru Bahasa Indonesia yang menjadikan Agam murid kesayangannya sebab suka menulis dan baca puisi. Tak terkecuali Nek Ani, yang sudah seperti nenek sendiri, sangat baik hati pada keluarga Agam dan menginginkan orangtua Agam tinggal di rumahnya. Begitu pun dengan kenangan indah lainnya selama berada di tempat itu, yang terpatri kuat dalam benak Agam.

Novel “Rumah di Tengah Sawah” adalah sebentuk “memoar” masa kecil yang difiksikan. Penulis berhasil mencatatkan kenangan demi kenangan di masa kecil itu, mengolahnya ke dalam ranah fiksi dengan gaya bahasa khas, hingga rangkaian cerita tersaji apik di hadapan pembaca. Sejatinya, setiap perjalanan kehidupan itu sangat berharga. Sayang sekali jika tidak dituliskan, apalagi dilupakan.

Dalam kisah ini, penulis menyuguhkan potret kemiskinan, tekanan, kesemena-menaan aparat, serta sikap kurang berpihak lainnya yang lumrah dilakukan orang berada (kaya) pada orang yang dianggap lemah (miskin) dari segi ekonomi. Inilah potret nyata kehidupan. Penulis tidak sedang ‘menjual’ kisah kepahitan, justru menyelipkan pesan mendalam lewat tokoh-tokoh yang berperan di dalam cerita, terutama melalui tokoh Agam yang menjadi sentral cerita. Agam yang menyaksikan dan menelan kepahitan sejak kecil, memiliki tekad mulia untuk berjuang membahagiakan orangtuanya. Agam menjadi pribadi yang kuat, suka menolong, mudah terenyuh dengan penderitaan orang lain, dan tidak cengeng. Agam tetap semangat dan optimis, di tengah deraan peristiwa pahit. Begitulah, hidup tak sepenuhnya kelabu, selalu ada sisi manis dalam setiap peristiwa yang digariskan Sang Mahakuasa.

Novel ini berakhir dengan ending yang manis dalam sebentuk keharuan yang terjadi saat perpisahan walau menggantung—sepertinya sengaja digantung. Ada air mata tertahan. Ada kenangan indah yang tertinggal di Medan. Dan, kelak, Agam akan ‘dihidupkan’ kembali dalam fase memoar lainnya yang tak kalah inspiratif. Pembaca menunggu bagaimana kisah Agam setelah di Aceh, perjuangannya, luka dan bahagianya.

Novel “Rumah di Tengah Sawah” sangat cocok untuk dibaca berbagai kalangan, tak terkecuali anak-anak. Anda akan diajak berpikir, merenung, terharu, dan tersenyum pada beberapa bagian bab yang mengundang gelak-tawa.

Berbeda dari novel yang ditulis Muhammad Subhan sebelumnya, yaitu “Rinai Kabut Singgalang”, novel “Rumah di Tengah Sawah” lebih ringan, bahasanya sederhana, dan mencapai sasaran pembaca anak-anak dan remaja, tak terkecuali orang dewasa. (*)

*) Aliya Nurlela, menulis cerita pendek dan novel. Novel terbarunya “Senyum Gadis Bell’s Palsy” (2015)


Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...