Skip to main content

Emak Jual Buku ke Tukang Loak

Oleh: Aliya Nurlela

Ini adalah air mata terhebat yang pernah mengalir. Pertahanan tanggul mataku, jebol. Sungguh, air mata ini begitu deras, tak henti menderai.

Kamu tahu apa sebabnya?
Emak telah menjual seluruh koleksi bukuku di rumah. Bayangkan, sejak aku sekolah dasar hingga sekarang usia 22 tahun, satu persatu buku aku kumpulkan. Baik itu pemberian teman, maupun membeli sendiri dengan menyisihkan uang jajan.
            
Aku bukan anak orang berada, tidak bisa membeli buku seperti orang bermain sulap, yang begitu masuk toko dan lihat buku yang disukai, langsung ambil tanpa berpikir harga. Aku tidak seperti itu. Susah payah bagiku, untuk bisa memiliki satu buku saja. Tapi, dasar sudah hobi membaca, setahap demi setahap aku bisa membelinya. Daripada membeli camilan, aku memilih alokasi uangku untuk buku. Ya, bukulah yang menjadi hartaku. Buku juga tempatku menyandarkan lelah sepulang kerja.

            Kejadian ini membuatku benar-benar terpukul. Emak, mengapa Emak menjualnya pada pedagang loak?

            “Emak tidak punya uang. Kita butuh makan. Buku tidak bisa dimakan,” jawab Emak ketika aku mempertanyakan buku-buku yang raib dari rak kayu.

Deg! Tubuhku lemas, lunglai. Aku terduduk di lantai dengan sesenggukan. Emak terpaku, mungkin tak menduga jika reaksiku seperti itu. Aku yang selalu terlihat tegar di mata Emak, sekarang lemah. Hanya gara-gara buku yang dijual, tangisku tak henti-henti. Antara merasa bersalah dan bingung, Emak  berdiri mematung menatapku.

            “Mak, buku itu sangat berharga bagiku,” ujarku dengan suara lemah, disela isak tangis. Emak menelan ludah.

            “Tapi, semua buku itu sudah kamu baca, untuk apalagi dikumpulkan? Lemarimu saja sudah penuh. Emak lihat lemarimu sudah mulai dimakan rayap. Kalau dibiarkan, buku-bukumu juga akan habis dimakannya.” Emak punya jawaban yang menguatkan. Aku tergugu.

            “Rak buku ini selalu kurawat, Mak. Rayap tidak bisa naik ke atas dan makan bukuku, karena sebelum naik, aku sudah mengusirnya lebih dulu.” Aku masih punya jawaban.

Kekecewaan itu sangat dalam. Aku telah kehilangan harta paling berharga dalam hidupku.
Tangisku tak jua berhenti. Menderas tanpa jeda. Seolah-olah kantung air mataku menyediakan stok air yang sangat banyak, hingga berliter-liter airnya bisa kutumpahkan. Biarlah, aku terlihat rapuh di hadapan Emak, agar Emak tahu bahwa buku-buku itu sangat berharga bagiku.

***

            Sudah dua hari, aku masih saja menangis. Mataku sembab. Terlihat lucu memang.  Seorang lelaki dewasa sepertiku yang bertubuh jangkung dan setengah kekar, menangis berhari-hari gara-gara buku yang dijual.

Namun, inilah kenyataannya. Hatiku belum rela, harta berhargaku itu hilang dengan cara dijual. Apa pun alasan Emak, aku belum bisa terima. Mengapa harus buku yang dijual? Bukankah di rumah ini masih ada barang-barang lain untuk dijual ke pedagang loak? Tapi mengapa Emak memilih menjual buku?

Memang, sebulanan ini aku tidak kerja lagi, setelah di PHK atasan. Kebutuhan sehari-hari cukup sulit dipenuhi. Tapi sekali lagi, mengapa Emak harus menjual buku?

            “Emak, tidak bisa membaca sepertimu. Emak tidak mengerti isi buku.” Itu alasan Emak di hari kedua.

Oke Ma, aku tahu Emak tidak bisa baca-tulis, tapi Emak punya anak yang bisa membaca dan suka membaca sejak kecil?

            “Tempe goreng, sayur lodeh dan sambal bajak yang kamu makan tadi pagi adalah uang dari hasil menjual bukumu. Jumlahnya 80 kilogram dan Emak mendapat uang 27 ribu rupiah. Bukankah lebih untung dijadikan uang? Lalu kamu bisa makan enak pagi ini?” ujar Emak lagi membuat mataku membelalak sempurna.

            Jadi? Bukuku yang dikumpulkan bertahun-tahun itu hanya dihargai 27 ribu dan ditukar dengan menu sarapan pagi yang sangat sederhana? Alamak! Itu artinya, 20 buku milikku hanya sebanding dengan sepotong tempe goreng. Busyeet! Aku memukul jidat sendiri. Kesal dan tak tahu harus berbuat apa. Ada saja alasan Emak yang menguatkan tindakannya. Perutku tiba-tiba mual, ingin muntah. Bahkan kalau bisa ingin membuang sisa-sisa sarapan tadi pagi, hingga tak sedikit pun tersisa dalam perutku. Ternyata kenikmatan sarapan tadi pagi adalah dari uang tak seberapa sebagai upah penjualan bukuku.

            Tangisku makin hebat. Aku marah, kecewa, sedih. Hingga, sudah berhari-hari aku tidak menyapa Emak. Aku tak peduli lagi dengan Emak. Terserah Emak, mau makan atau tidak. Mau masak atau tidak, terserah saja. Emaklah biang kesedihanku. Emak juga yang telah melenyapkan seluruh cahayaku dalam tiap lembaran buku itu. Itu artinya, Emak pun tidak pernah peduli padaku. Sifat egoisku muncul di saat seperti ini.

***

            “Berapa hari Emakmu tidak pulang?” tanya Pak RW mengagetkan. Aku celingukkan.
Berapa hari? Aku tidak tahu. Sudah beberapa hari ini tidak peduli pada Emak. Mana aku tahu Emak tidak pulang?

            “Anak macam apa kamu ini? Lihat, di jalanan kota sana, Emakmu sudah beberapa hari bawa karung menyusuri jalanan, kabarnya mengejar tukang loak yang memborong bukumu!” ujar Pak RW setengah bersungut-sungut.

            Aku tergagap dengan mata setengah melotot kaget. Tidak mungkin! Tanpa banyak dialog dengan Pak RW, kakiku melesat bak pendekar dengan jurus halimun. Membelah jalanan kota. Berlari ke sana-ke mari seperti orang gila. Dari barat ke timur. Dari timur ke utara, lalu ke selatan dan kembali lagi ke jalanan yang pertama kali kuinjak. Tapi...Emak tak kutemukan. Jejaknya pun tak ada, bahkan tak seorang pun tahu di mana Emak berada.

Tubuhku lunglai, tangis pun meraung. Aku menggigil demam. Harta paling berharga itu adalah Emak! []

*) Dimuat di Koran Padang, 19 Desember 2015.

                                                                                   
Biodata:
Aliya Nurlela, menulis cerita pendek dan novel. Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Novel terbarunya, “Senyum Gadis Bell’s palsy”.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...