Oleh Ken Hanggara
Di seberang jalan mendadak penuh orang. Aku belum
bisa memastikan ada apa di sana, karena penjual rokok masih mencari kembalian
untukku. Selagi menunggu uang kembali kuterima, kupandangi seberang jalan;
penuh sesak. Orang-orang membentuk lingkaran seakan sesuatu di tengah lingkaran
itu, yang tidak bisa kulihat, adalah mayat seseorang tanpa identitas.
Penjaga kios rokok juga bertanya-tanya, apa yang
mengundang perhatian orang. Kukira barusan ada kecelakaan dan korban meninggal
seketika. Tabrak lari, barangkali. Beberapa orang mengambil ponsel dan merekam
video, tapi tak seorang pun mengucap kata-kata ilahi.
"Biasanya, kalau ada orang mati, pasti ada
yang menyebut-nyebut Tuhan," celetuk penjaga kios.
Ada benarnya pendapat ini. Aku sering menemui
kecelakaan mengerikan di jalanan, di mana pun, dan tiap orang di sekitar TKP
selalu membawa-bawa nama Tuhan. Bukan hal aneh. Justru akan sangat aneh jika
ada orang meninggal di tempat terbuka dan tidak ada yang segera ingat pada
Tuhan.
Maka, kuubah dugaanku. Mungkin, di seberang tak
ada orang meninggal. Mungkin anak kecil tersesat yang kehilangan orangtuanya.
Lebih masuk akal. Kehadiran perekam video, tentu saja, tidak bisa dihindari.
Dewasa ini banyak orang yang senang merekam tanpa mau bertindak.
"Mungkin bocah hilang," sahutku setelah
menoleh seberang. Si penjaga kios rokok mengangkat bahu dan tidak menjawab.
Agaknya ia juga ingin tahu dan melihat dengan mata kepalanya setelah transaksi
kami berakhir.
Sementara beberapa rupiah kuterima dari penjaga
kios, dari berbagai sudut muncul orang-orang yang juga penasaran ingin melihat.
Hari belum cukup terik, sekitar pukul enam lewat lima belas menit, dan libur
akhir pekan membuat sebagian besar penonton terdiri dari orang-orang berbaju
olahraga.
Aku dan penjaga kios berlari beriringan menyusul
kerumunan itu. Kami kesulitan mencari celah mengintip, karena sudah telanjur
banyak yang mendahului, tetapi di pusat lingkaran kerumunan, di tempat yang
kukira lokasi terbunuhnya seseorang atau titik di mana seorang bocah mungkin
saja bingung kehilangan orangtua, ada suara serak-serak basah.
"Percayalah, dunia ini terlalu tua. Orang
tidak perlu susah cari duit. Toh kalau mati, bukan duit yang dibawa!"
Suara ini khas mempromosikan sesuatu. Tukang
sulapkah? Orang gilakah? Atau apa? Jangan-jangan pemuka agama yang resah karena
semakin ke sini manusia semakin tergiur akan dunia?
Aku dan penjaga kios rokok kompak maju dan meminta
pada seorang ibu paruh baya berbadan bongsor, untuk memberi kami kesempatan
melihat. Pada saat ini, entah berapa banyak kamera video merekam aksi pemilik
suara serak-serak basah.
Baru kami sadar. Aku dan penjaga kios itu saling
melirik dan tersenyum. Di tengah kerumunan bukan ada mayat lelaki tanpa
identitas, bukan juga seorang anak tersesat, apalagi tukang sulap atau pemuka
agama. Di sana ada lelaki tua. Ia duduk bersila dan memakai baju pertapa.
Membawa buntalan kain dan memakai bakiak, membuatku yakin kemungkinan
terakhirlah yang tepat; orang gila cari-cari perhatian. Ialah pemilik
suara serak-serak basah itu.
Penjaga kios menepis angin dan mendesah, lalu
pergi ke luar kerumunan. Mungkin berpikir, menonton barang begini buang-buang
waktu. Ia harus jualan dan beda dengan kami yang lain, yang tidak ada perlu apa
pun. Setelah penjaga kios lenyap, aku mencari celah agar bisa melihat lebih
jelas di barisan terdepan.
Lelaki tua itu cukup aneh. Kukira, usianya
mendekati tujuh puluh. Walau tubuhnya ceking dan bungkuk, ia sehat. Ia terus
berceloteh tentang eksistensi Tuhan dan malaikat dan tentu saja kebenaran hari
kiamat. Orang-orang semakin rusak, begitu katanya, dan mereka tidak sadar
melupakan apa yang dinamakan hakikat kehidupan.
Aku tidak tahu. Mungkin benar orang ini gila. Yang
dibahas soal berat, seakan ia ahli agama salah tempat. Bajunya, wajahnya, dan
buntalan kain entah berisi apa; segala tentang kakek ini membuatnya aneh ketika
yang kudengar topik macam ini.
Tidak lama kemudian, ia diam beberapa jenak.
Posisi bersilanya kian teguh, seperti tidak berubah walau ada yang bawa tank ke
arahnya, lalu menabraknya sampai gepeng. Para penonton tidak tahu ke mana arah
omongan kakek ini, kecuali paham nasihatnya memang ada benarnya. Dunia dan
isinya memang tua dan tidak perlu dikejar-kejar. Dunia bukan barang abadi.
Kakek aneh itu, setelah memejamkan mata beberapa
detik, meraih buntalan kain di sisi kirinya, dan mencakup sesuatu dari dalam
dengan kedua tangan. Sesuatu yang besar, yang kukira jubah. Mungkin orang ini
membawa jubah untuk momen mengharukan ini. Aku tertawa dalam hati dan berpikir
ini konyol. Mungkin jubah itu akan membuatnya mengaku diri sebagai nabi?
Tetapi barang yang diambilnya itu bukan jubah.
Sekilas, warnanya berkilau seperti emas. Orang-orang di barisan depan, termasuk
aku, susah payah menahan beban tubuh dan dorongan agar tidak terjungkal. Mereka
yang di belakang tidak sabar dan mendorong kami, menyuruh kami menyingkir demi
melihat apa yang diambil si kakek.
Kamera-kamera perekam video masih bekerja sejauh
itu. Belum adanya penjelasan, tentu saja isyarat bahwa video masih akan direkam
paling tidak separuh jalan dari waktu yang lewat. Ketika lelaki tua itu
berhasil mengeluarkan sesuatu dari buntalan kainnya, beberapa orang
terperanjat dan melempar jerit. Lingkaran melebar karena tidak semua orang
suka. Aku bernapas lega, walau tak selega yang kamu bayangkan, karena lelaki
itu kini memangku ular licin sepanjang dua setengah meter!
Orang-orang yang tadinya tenang dan
berbisik-bisik, mulai mengeluarkan berbagai suara. Ada panik dan decak kagum.
Panik karena tidak suka ular. Kagum karena badan sekurus itu, sanggup membawa
beban besar tanpa mengeluarkan banyak usaha.
Kakek itu tenang memangku ularnya, seperti bocah
memangku anak kucing yang baru dibeli dari pet shop, semacam hadiah
ulang tahun ketujuh dan bonus karena dapat ranking satu. Sungguh ajaib. Kakek
ini tenang mengelus-elus bodi ular besar yang tidak kutahu jenis apa. Aku bukan
ahli ular. Aku tidak suka ular, walau tidak bisa dibilang takut.
Kakek itu kembali bicara soal dunia dan isinya. Ia
mencoba menganalogikan perut manusia dengan perut seekor ular, yang jika
menelan mangsa tidak tanggung-tanggung. "Alangkah lebar perut kita,"
begitulah katanya lantang. "Dan kita selalu lupa betapa kita ini manusia,
bukan ular!"
Keadaan mulai ramai dan jalanan sudah dilewati
banyak kendaraan. Klakson saling hantam di udara, tetapi semua yang menonton
kakek aneh dengan ular sepanjang dua setengah meter ini tidak peduli. Kerumunan
terus melebar dan melebar sampai mengisi sebagian jalan.
"Kalau saja kita," lanjut kakek itu tak
kalah lantang dari sebelumnya, "Kalau saja kita bangun dari tidur panjang,
tidak ada kata serakah, dunia akan lebih baik. Betapapun kiamat pasti
datangnya, surgalah yang menyambut. Orang akan cari duit sekadarnya, asal bisa
makan. Tidak seperti ular yang melihat mangsa, langsung telan bulat-bulat!"
Lalu, sembari mencoba berdiri dengan tetap
memposisikan ular super itu berada di penguasaannya, si kakek mulai memandang
langit dan wajah orang-orang di sekitarnya. "Lihatlah, wajah-wajah nafsu!
Lihatlah, langit yang menua seiring dunia. Kalian tidak sadar? Tidak
bercermin?" Ia kalungkan ular itu ke leher, yang dengan segera direspon
sang ular dengan baik, karena ular itu langsung melilit tubuh bagian atas kakek
aneh ini.
"Kalian tahu, ular tidak seserakah manusia.
Mereka tahu batas kemampuannya. Di mana-mana, ular kenyang pasti rehat.
Manusia? Oh, sudah kenyang, malah tambah!"
Orang-orang terpana dan kamera video masih
bekerja. Bahkan, beberapa yang tadi cuek-cuek saja mengambil gambar, tidak
sengaja menjatuhkan ponselnya karena terlalu fokus pada tubuh ceking si kakek.
Aku sendiri tidak memegang ponsel dan tidak terpikir ikut merekam pertunjukan
aneh ini. Buat apa sih? Biar bisa mengunggahnya ke Youtube dan orang lain ikut
melihat apa yang kita saksikan di jalanan? Kurasa itu bukan ide yang bagus.
Dan kupikir keputusan menjauhkan tanganku dari
ponsel perekam video lumayan tepat, karena kakek itu mulai sulit berkata-kata.
Ular itu melilitnya hingga sulit bernapas. Aku tak tahu apa yang orang pikirkan
seandainya melihat video di internet, seorang kakek pertapa mati dililit ular;
pasti memualkan.
Aku dan beberapa orang pria turun tangan melepas
tubuh liat ular besar itu dari si kakek. Sementara kami menolongnya, si pertapa
mengumpat, "Biarkan saja, Bodoh..." katanya tersendat.
"Biarkan!"
Maksud kakek ini mungkin: biarkan ular melahapnya,
karena si ular belum makan beberapa tahun. Sungguh tolol. Benarkah ular bisa
tidak makan beberapa tahun? Bukan kecelakaan macam ini yang ingin kami lihat,
maka tidak kami pedulikan omongan gila dia. Kami sadar barangkali Tuhan mengirim
orang gila ini untuk pelajaran. Ia ingatkan kami tentang umur dunia, tentang
kerakusan, tentang dosa yang nikmat, lewat tangan orang gila penggemar ular.
Setelah kakek itu dibawa polisi ke tempat aman,
aku pulang, menyisir gang dekat kios rokok, sambil berpikir, "Mungkin ini
alasan kenapa ada begitu banyak orang gila menjual agama."
Aku tidak asal berpikir. Kalau dipraktikkan secara
total seperti kakek pertapa itu, maksudku soal kegilaan serupa, mungkin akan
lebih banyak yang masuk surga. [ ]
KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional.
*)Diterbitkan Tajungpinang Pos, 19 Juni 2016

Comments
Post a Comment