Cerpen Aliya Nurlela
SUNYI
menyergap. Aku masih mengendap dan membuntutinya perlahan. Benar saja, Bapak
berjalan ke arah kebun pisang di belakang rumah. Sudah bisa kutebak, sebuah
pisau besar alias golok dikeluarkan dari sarungnya. Sejenak ia menoleh ke
kanan-kiri, seolah memastikan tidak ada orang di kebun itu.
Gerak-gerik Bapak mencurigakan. Aku semakin
merapatkan tubuh di batang pohon pisang yang lumayan besar, agar pengintaian
ini tak terendus Bapak.
Srek... srek... srek... Suara pisau
yang diasah membuat telingaku ngilu. Bapak tampak serius mengasahnya. Pisau itu
maju-mundur di batu asahan. Sesaat kemudian, Bapak mengangkat pisau dan membolak-baliknya.
Senyum Bapak menyeringai. Aku merinding.
Ini bukan pertamakali aku melihat
keganjilan tingkah-laku Bapak. Sudah tujuh hari berturut-turut Bapak menyelinap
ke kebun pisang dan mengasah goloknya. Tak ada yang tahu jika ada batu asahan
di kebun itu. Letaknya cukup tersembunyi di tengah-tengah kebun. Sepertinya Bapak
sengaja menaruhnya di sana dan tak ingin seorang pun tahu. Buktinya, Emak saja
tidak tahu. Aku juga tidak pernah diberi tahu Bapak soal ini, tapi sebagai anak
perempuan tertua, perasaanku kuat sekali. Ada yang tidak beres dengan diri Bapak.
Seminggu lalu, aku mendengar Bapak
dan Emak bertengkar hebat. Seperti biasa, soal nafkah yang menurut Emak, Bapak
kurang dalam memberi. Emak mendominasi pertengakaran hebat itu dengan suara
sopran yang khas. Cerocosan Emak terdengar hingga ke rumah tetangga. Untung
saja, tak ada tetangga yang ikut campur dan menonton suami istri itu bertengkar.
Sementara Bapak, hampir tidak bersuara. Diam dengan kepala menekuk. Entah apa
yang ada dalam pikiran Bapak. Ia membiarkan umpatan Emak masuk telinga dan
tidak meresponnya sama sekali.
Waktu itu aku sempat geram kepada
Emak. Kok bisa-bisanya memarahi Bapak dan menuntut nafkah yang di luar
kemampuan Bapak. Tapi, dilema. Aku lihat Emak memang cukup berat menanggung
beban kebutuhan rumah tangga, sejak Bapak berhenti jadi kuli bangunan. Fisik Bapak
tak kuat lagi untuk menjadi kuli. Mungkin faktor usia yang membuat kekuatannya
berkurang. Buktinya akhir-akhir ini Bapak sering jatuh sakit. Hingga dengan
berat hati ke luar dari tempatnya bekerja dan hanya merawat kebun pisang yang
tak seberapa luas. Inilah pemicu pertengkaran itu. Tak ada lagi nafkah harian
yang diterima Emak untuk memenuhi kebutuhan rumah. Emak sering mengeluh,
batuk-batuk dan menyalahkan Bapak.
Aku tak bisa berbuat banyak untuk
membantu perekonomian keluarga yang sedang rapuh. Walau aku sudah lulus SMA dan
sekarang nganggur, bukan berarti mudah mencari pekerjaan. Ijazah SMA seperti
tak laku, hanya kusimpan saja di laci almari. Bayangkan, belasan perusahaan
menolak. Penolakan itu sudah membuatku setengah putus asa, ditambah lagi
sekarang dengan persoalan di rumah, benar-benar miris.
***
“Mak, Ranti berangkat dulu ya.
Doakan lamaran kerja Ranti diterima,” ucapku memohon restu Emak untuk yang kesekian
kalinya. Emak mengusap tanganku yang masih berjabat dan menepuknya lembut.
Tanpa sepatah kata keluar di mulut Emak. Emak hanya mengangguk. Namun, matanya
berkaca-kaca. Aku tergugu dan menatap dalam. Seolah menemukan restu yang tulus
di kedalaman pancaran mata Emak. Terselip doa, harapan dan pesan untuk
hati-hati membawa diri.
“Mak, tapi Ranti tidak tenang
meninggalkan Emak dan Rini di rumah. Bagaimana kalau Emak ke rumah tetangga
dulu sampai Ranti datang?” Aku mulai cemas. Emak terkejut, tak biasanya aku
bicara seperti itu.
“Ada apa, Ranti?” Kening Emak
mengerut berlipat-lipat. Aku terdiam. Apa yang harus kusampaikan kepada Emak?
Bukankah ini baru pradugaku saja?
Ya, ini praduga. Diamnya Bapak
kuartikan menyimpan sesuatu. Mana mungkin seorang laki-laki dewasa hanya diam
saja ketika diumpat-umpat dan dituntut istrinya? Aku yakin Bapak menyimpan
sesuatu yang terpendam. Entah itu jawaban atau tindakan. Dari berbagai
penyuluhan keluarga yang kuikuti, yang namanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk. Seorang penyuluh pernah bilang, salah
satu pemicu KDRT adalah faktor ekonomi, bahkan justru itu yang sering menjadi
pemicu utama. Contoh-contoh nyata tindak kekerasan di rumah tangga membuatku
merinding. Bagiku yang belum menikah, ada sedikit ketakutan. Ternyata, menikah
tak seindah yang kubayangkan.
Fakta kekerasan sekarang ini memang
sangat mengkhawatirkan. Berita tentang kekerasan di keluarga, sudah hal biasa.
Anak membunuh bapak, ibu menjual anak gadis, kakek memperkosa cucu dan bapak
menyiksa anak, itu berita yang marak di surat kabar. Dulu, orang akan
terperangah ketika mendengar berita tak lazim seperti itu. Tapi sekarang?
Respon orang cenderung datar, bahkan terkesan cuek, akibat banyaknya
kasus-kasus serupa yang nyaris terjadi setiap hari.
“Waspadai orang terdekat!” Itu
kalimat yang terus terngiang di telingaku sepulang penyuluhan KDRT. Orang
terdekat? Aku belum punya suami, berarti orang terdekatku Bapak, Emak dan Rini,
adikku. Ini masalahku. Aku jadi mudah curiga pada orang-orang terdekat. Segala
masalah dan gerak-gerik penghuni rumah, sering aku kait-kaitkan dengan materi
penyuluhan. Parahnya, apa yang kulihat memicu potensi curiga. Termasuk soal Bapak
yang mengasah golok di kebun pisang. Hiii... Aku bergidik.
Bapak bukan seorang jagal ternak,
lalu mengapa punya golok besar dan rajin mengasahnya setelah bertengkar hebat
dengan Ibu? Pikiran mana yang tidak negatif saat melihat tingkah Bapak seperti
itu? Belum lagi, Bapak selalu masuk ke kebun pisang, mengendap-endap, menoleh ke
kanan-kiri dan senyum menakutkan saat mengamati golok yang baru diasahnya.
Aku yakin golok Bapak sudah sangat
tajam. Sekali tebas pohon pisang, bisa merobek sempurna bagian batangnya,
bahkan terpotong dua. Lalu, bagaimana kalau golok itu diarahkan ke tubuh Emak
yang ringkih, Rini, atau aku? Tidak! Aku menutup muka ngeri. Aku membayangkan,
lautan darah menggenang di rumah, mengalir ke setiap ruangan dan menyisakan
tiga tubuh lemah yang sudah tidak bernyawa. Sementara Bapak tertawa penuh
kemenangan, dendamnya terlampiaskan, hidupnya merasa lebih tenang tanpa cerocos
dari mulut Emak dan rajukan dua anaknya yang membutuhkan ini-itu. Bapak telah
berhasil mengakhiri kekalutan di rumahtangga dengan sekali tebasan goloknya.
“Mak, Ranti tidak jadi berangkat.
Ranti cemas dengan keselamatan Emak dan Rini. Hari ini juga, Emak harus ikut
Ranti ke rumah Mak Sarni. Emak harus mengungsi sementara demi keselamatan Emak
dan Rini. Segera kemasi barang-barang, Mak!” Aku tergesa-gesa mengeluarkan tas
besar dari almari. Tak ada waktu lagi. Sebelum semuanya terlambat, Emak dan
Rini harus diungsikan.
“Ada apa, Ranti? Kenapa Emak harus
ngungsi? Tidak ada gempa kok ngungsi?” Emak yang keheranan jadi bingung.
“Mak, dengarkan Ranti! Ini semua
demi kebaikan Emak!” Aku setengah membentak Emak. Perempuan yang telah
melahirkanku tersebut terperangah dan menatap aneh. Tapi, aku tak memberi celah
pada Emak untuk bertanya lagi. Bentakan pada Emak ini terpaksa aku lakukan
karena begitu sayang pada Emak. Biarlah untuk sesaat Emak keheranan dan
menganggap aku tidak hormat lagi.
Rini yang menangis dan Emak yang
kebingungan, akhirnya mau menuruti ajakanku untuk mengungsi. Keduanya ikut
membantu memasukkan pakaian ke dalam tas besar yang sudah kusiapkan. Beberapa
lembar pakaian ditata rapi dalam tas, termasuk beberapa buku sekolah Rini.
“Tunggu dulu Bapakmu, Ran.” Emak
mencegah langkahku yang sudah melenggang di depan pintu. Aku meraih tangan Emak
dan setengah menariknya untuk terus berjalan.
“Bapak nanti urusan Ranti, Mak.” Aku
buru-buru meninggalkan pekarangan menggandeng Emak dan Rini. Dengan
terseok-seok Emak berusaha mengimbangi langkahku. Tak ada lagi pertanyaan atau
sepatah kata, hanya tatapan aneh yang tersisa.
***
Lega rasanya bisa mengamankan Emak
dan Rini. Untuk sementara keduanya aku titipkan pada Mak Sarni, tetangga RT
sebelah. Kebetulan Mak Sarni hidup sendirian, tanpa sanak saudara. Kehadiran
Emak dan Rini, justru disambutnya dengan senang.
Aku sendiri masih meneruskan
pengintaian. Jam segini biasanya Bapak mengendap-endap ke kebun pisang. Aku
buru-buru menyelinap, sebelum Bapak datang. Aneh, setelah setengah jam aku
mengintai tak ada tanda-tanda kehadiran Bapak. Di mana Bapak? Wah,
jangan-jangan ia mengendus kepergian Emak dan berbuat yang tidak-tidak di rumah
Mak Sarni.
Wajahku memucat. Tegang. Namun, tiba-tiba
aku dikejutkan dengan munculnya sosok lelaki seumuran Bapak, tak asing lagi,
itu Mang Darma teman Bapak sewaktu jadi kuli. Ada apa Mang Darma ke kebun
pisang? Aku semakin tak mengerti.
“Bagaimana, sudah tajam?” tanya Mang
Darma kepada Bapak.
Oh, rupanya dari tadi Bapak duduk bersandar
di pohon pisang, sedikit jauh dari batu asahan. Pantas aku tidak melihatnya. Bapak
menyodorkan goloknya. Sesaat Mang Darma membolak-balik golok itu dan mengamati seluruh
tubuh golok itu.
“Ini sudah tajam. Sudah bisa dipakai
membelah kayu-kayu besar. Lainnya nanti dibantu gergaji. Kapan bisa mulai masuk
kerja?”
“Kalau bisa secepatnya. Aku sudah
malu pada istri dan anakku, karena aku tidak mampu menafkahi mereka,” ujar
Bapak sedikit memohon. Tampak kedua matanya berkaca-kaca.
Aku terperangah, terkejut. Jadi,
golok itu untuk membelah kayu? Jadi, selama ini Bapak rajin mengasah golok demi
bekerja memenuhi nafkah Emak dan kami anak-anaknya? Oh, Tuhan. Betapa jahatnya pikiranku,
telah berprasangka sangat buruk kepada Bapak.
“Tidaaaak!!!” Aku setengah berteriak
dan berlari cepat keluar dari kebun pisang untuk menemui Emak dan Rini dan
segera membawanya pulang. Aku tidak tahu apakah Bapak dan Mang Darma mendengar
suaraku atau tidak. Yang pasti aku merasa berdosa kepada Bapak. (*)
Pare, 25 Desember 2015
Biodata:
ALIYA
NURLELA,
menulis cerita pendek dan novel. Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.
Novel terbarunya “Senyum Gadis Bell’s Palsy” (2015).
Sudah terbit di Ruang Budaya Harian 'Rakyat Sumbar' (Group JPNN) edisi Sabtu,
30 April 2016.

Comments
Post a Comment