Proses
dalam menulis memang butuh ketekunan. Bukan sekadar tekun lho! Tapi harus super
tekun
:) ‘Sekadar’ dan ‘super’
jelas beda, kan? Kalau ‘sekadar’, artinya; cuma-cuma, tergantung mood, pengisi
jeda, selingan, pokoknya alakadarnya-lah. Sedangkan ‘super’, bermakna lebih,
sungguh-sungguh, maksimal, totalitas, fokus, de el el.
Wajar
kalau sebuah proses mengalami; berpayah-payah, berpeluh-peluh, berpikir keras,
memungut ide, survey, wawancara, mengamati tingkah laku orang, banyak baca,
nonton film, berekspresi, dll. Itu wajar. Segala hal yang berada di ruang
proses, adalah ruang pengolahan untuk menghasilkan sesuatu.
Perjuangannya
justru lebih banyak di ruang proses ini :)
Tapi,
jangan heran! Begitu tulisan Anda keluar dari ruang proses (disajikan di
hadapan pembaca), beragam komentar akan muncul. Pro-kontra. Menarik-tidak
menarik. Bagus-tidak bagus dan komentar-komentar lain, tanpa melihat perjuangan
di ruang proses tadi.
Komentar
apa pun, tidak masalah. Yang penting, penulis tidak patah semangat dan terus
menulis dengan ‘super tekun.’ Memperbaiki tulisan, menambah vitamin menulis,
melakukan pencarian (kreatif) dan lainnya, yang menunjang ke arah ‘super’ tadi.
Selama proses yang kita jalani itu, sudah menuju sungguh-sungguh dan maksimal,
harus pe-de aja lagi dalam menyajikan tulisan. Jangan takut dikritik. “Ayo,
sini-sini baca dan kritik”.
:)
Ibarat
memasak nih. Orang tahunya setelah masakan itu jadi. Tidak tahu perjuangan di
dapur itu seperti apa. Tahunya, makanan terhidang di meja, mencoba, lalu
berkomentar. Terkadang komentarnya pedaaaaas banget, lebih pedas dari cabai
:) Contoh nih komentar
pedas; “Masakannya tawar, enggak ada rasa!”
Masuk
akal tidak, komentar itu? Hehe. Mana ada masakan tawar? Kecuali si pemasak
tidak memasukan bumbu apa pun, alias disiram air putih doang
:) Tapi selama si
pemasak, masukan bumbu. Entah itu garam, gula, bawang dan lainnya, pasti dong
ada rasa! Bisa; asin, manis, ketar, pahit, asam—itu dia macam-macam rasa. Jadi,
masalahnya bukan pada masakan, tapi pada lidah
:) Ssst…!
Coba
sesekali deh tengok ke dapur. Lihat ya, proses memasak di dapur itu seperti
apa.
Untuk
menghasilkan satu masakan saja, proses pengolahannya sangat beragam. Bayangkan!
Seorang pemasak, setelah menyiapkan bahan dasar dan mencucinya, ia harus memproses
bahan dasar itu. Prosesnya banyak bangeeeet
:)
Memotong,
mencincang, memarut, mengupas! Ini 4 proses yang berbeda lho
:)
Mengulek,
melumat, menggiling, menumbuk! Ini 4 proses lainnya yang beda lagi lho
:)
Mengaduk,
mencampur, menabur, mengocok! Ini 4 proses yang lain lagi lho
:)
Banyak
bangeet kan, prosesnya? Belum lagi; menyaring, mengukur, menimbang, membakar,
memanggang, mengukus, merebus, menggoreng dan lainnya. Wih, menyebutkan
prosesnya saja sampai berkeringat
:) Apalagi, yang tiap
hari berkutat melakukan prosesnya di dapur. Pasti sangat berkeringat
:)
*Jadi
kalau ibu-ibu/istri tertarik ingin mencoba makanan unik di restoran, rumah
makan, café, depot dll, jangan marah-marah atau sensi
:) Biarkan, sesekali
berikan dukungan. Why? Itu bagian dari proses untuk menghasilkan masakan enak.
Dari mana ia tahu masakan enak, kalau tidak pernah mencoba berbagai macam rasa?
Catat itu! *Abaikan paragraf ini, sebelum Anda naik pitam
:)
Kesimpulan
dari bergumam ini, pembaca bisa saja tidak menghargai proses menulis Anda. Akan
tetapi Anda sebagai penulis—yang tahu betul proses menulisnya—jangan
ikut-ikutan tidak menghargai karya sendiri. Rawatlah tulisan-tulisan itu dan
tetaplah semangat untuk selalu ‘super tekun’
:) Selamat menulis!
Keterangan:
Tulisan ini sengaja disajikan dengan bahasa santai untuk berbagi semangat
menulis
[Aliya Nurlela, Penulis & Pegiat FAM Indonesia, Perempuan Inspiratif NOVA 2016 Kategori Seni Budaya]

Comments
Post a Comment