Judul: Kematian Pujangga Cinta
Penulis: Moh. Alvin Windro Wicaksono
Kategori: Kumpulan Puisi Bergambar
ISBN: 978-602-335-524-2
Terbit: September 2019
Tebal: x + 156 hal: 14 x 21 cm
Harga: Rp 50.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)
Beragam tema yang ada di dalam buku ini membuat pembaca seperti diajak berjalan-jalan ke banyak ruang dan peristiwa, baik di dalam diri maupun pada hal-hal di sekitar. Penggarapan dengan tidak terlalu banyak majas menjadikan puisi-puisi di sini nyaman dibaca dan terasa mengalir. Kehadiran sketsa di dalam buku menguatkan kesan ataupun pesan dari puisi-puisi yang ditampilkan. Saya berharap sang penyair terus berproses kreatif.
-Budhi Setyawan (Penyair asal Purworejo, Pengelola Forum
Sastra Bekasi, dan Pengajar di STAN)
Puisi pada mulanya ada bunyi. Kemudian penyair berjuang menerjemahkannya ke dalam kata-kata. Itulah kenapa –entah sengaja atau tidak- bunyi senatiasa ada dalam puisi yang ditulis setiap penyair. Puisi-puisi dalam Kematian Pujangga Cinta karya Cangkir Seduh ini memang sengaja ditulis dengan system bunyi, khususnya rima yang teratur. Disinilah letak pertaruhannya, misalnya pada puisi “ Menunggu di Pantai Senja Kala”. Salut pada penyairnya yang telah bersusah-payah menuliskan puisinya. Karena menulis puisi menggunakan system bunyi tidaklah mudah!
-Sofyan RH. Zaid (Penyair dan Editor, dikenal dengan Puisi
Pagar-nya yang bebentuk nadhoman/nazam)
Sejumlah puisi yang ditulis Alvin menarik untuk diapresiasi. Mengangkat berbagai aspek kehidupan, terutama pengalaman spiritual cinta yang banyak diapungkan dalam antologi puisi tunggalnya ini. Selain tema puisi cinta, tapi juga mengungkap berbagai persoalan lingkungan sosial yang dihayati secara sungguh-sungguh.
-Ridwan CH. Zaid (Penyair asal Ciparay-Bandung, actor & sutradara teater, mukim di Sanggar Menara Madris)
*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.
[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui penulis. Bisa juga via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments
Post a Comment